Al Mufti Bhutasvara - “Orang-orang yang berbuat riya selalu ingin memperlihatkan dirinya mengerjakan kebaikan. kalian jadilah orang yang ikhlas. Tanpa perlu dilihat kalian merasa butuh untuk mengerjakan kebaikan, amal shaleh”. Pesan Kiai Somad di akhir penutup pengajian, malam itu.
Rembulan merekah di balik tirai awan yang menyelubungi. Cahayanya terpancar, bening, memberikan nuansa hening di teras Mushola itu. Para santri dan ikuti Kiai di belakangnya berhamburan keluar. Wajah dengan balutan wudhu, sejuk dipandang. Terlebih, cahaya bulan semakin mempercantik kesahajaan diri mereka.
Satu per satu para santri memasuki gubug, kamarnya. Gubug itu terisi beberapa santri saja. Wajar, pesantren Nurul Yaqin bukan pesantren tersohor, yang terbilang sederhana. Dinding gubug terbuat dari kayu dan atap dari tumpukan jerami yang ditata sedemikian rupa, jadilah gubug. Tak jarang, hembusan angin kerap menyelinap ke dalam gubug. Tapi mereka terbiasa dengan itu, dan dengan keyakinan tidak akan sakit. Mereka memegang teguh ajaran Kiai Somad untuk tirakat. Artinya, menjauhi kemewahan.
Sebagian dari santri ada yang tertidur, dan ada yang mendaras Al Qur’an. Santri itu bernama Mufti, ia mendaras Qur’an dengan lirih, selirih hembusan angin, nyaris tak terdengar. Harapannya, agar tidak mengganggu shohibnya[1] yang telah terpejam.
Angin berhembus kencang, sampai gubug agak bergoyang-goyang. Mufti tidak merasa terganggu, ia semakin hikmat mendaras Qur’an. Ketika sampai pada ayat Innalillahi wa Inna Ilaihi Roji’uun, sontak air mata mengalir dari kedua belah matanya. Hatinya bergejolak, dan berulangkali menyebut
“Umi abah, umi abah, umi abah”.
Ada kerinduan yang teramat entah, sebab mau disampaikan secara lisan atau tulisan, agar rindu sampai pada alamat. Tetap tak akan mampu. Sebab dua alam yang berbeda tak akan pernah bersua kembali. Sebentar, ia membacakan surat Al-Fatihah untuk mereka, kedua orang tuanya.
“Ila hadhroti... Al Fatihah... amin”
“Aku titipkan mereka kepada-Mu ya rabb” Ucap Mufti dalam hati
Ia kembali mendedah Qur’annya, mencari halaman terakhir dibaca dan kembali melanjutkan. Seperti tanah lumpur yang dilempar ke tembok. Walau tembok sudah dibersihkan dari lumpur, tetap ada titik-titik lumpur terkecil yang masih menempel. Demikian, walau sudah ia titipkan pada sang ilahi, rasa rindu itu masih ada. “Mereka miliknya, dan kepada-Nya mereka kembali” gumamnya di tengah darasan.
Kiai Somad yang memiliki hati yang bersih, begitu peka mengetahui ada seorang hamba Allah di tengah malam ini yang masih ber-mahabbah dengan penciptanya. Terjaga, dan mengambil air whudu. Kiai Somad menuju gubug santrinya. Sambil memengang tasbih, ia terus berdzikir, memohon kepada Allah agar ditunjukan: siapa gerangan yang masih terjaga di tengah dengkuran manusia.
Mufti merasa ada seseorang di luar gubugnya. Dan ia bukakan,
“Masyaallah! Kiai Somad”
Kiai Somad membalas dengan senyuman yang terjuntai di balik bibir dan air muka, teduh. Kiai Somad melihat di balik Mufti, terlihat: seorang santri tertidur pulas, selembar sajadah tergelar...
“Kamu semalaman mendaras Al-Qur’an nak?”.
“Engge Kiai...”
“Sungguh, bacaanmu begitu nikmat. Tak hanya di sisi tajwid dan makhorijul hurufnya saja yang baik. Hikmat kamu membaca sampai tidak mengandalkan inderawi lagi. Tetapi dengan hati, maka alam akan turut menyemak bacaanmu. Tapi..”
Sebentar suasana menjadi hening. Kedua insan shaleh itu, diam seribu bahasa. Hanya dengkuran dan suara jangkrik yang terdengar. Kiai Somad kemudian melanjutkan,
“Kamu masih riya nak. Masih ingat dengan pelajaran hari ini?”
“Taseh iling nyai” Jawab Mufti, sebagaimana santri yang ta’dhim pada kiainya, sebelum ditanya maka tak akan berkata. Kiai lebih tahu isi hati dan fikiran seorang santri. Begitulah seorang mursyid (pemandu/pemimpin) yang tak hanya memimpin ragawi tetapi juga memimpin ruhani, imam sejati.
“Nak, anak sholeh memang menjadi ganjaran terus mengalir sampai kapanpun bagi orang tua (amal jariyyah). Tetapi anak sholeh bukan harapan untuk menjadi, tetapi proses menjadi. Paham nak?”
“Lakukan apa yang hati nuranimu ingin lakukan, nak. Jangan mengharap imbalan dan kepangkatan apapun. Anak shaleh adalah kepangkatan agama. Kamu jangan mengharap itu nak. Apalagi mengharap kepangkatan duniawi dan recehan uang. Biar gusti pengeran sing wenehi[4], kelak, kamu diberi apa”.
“Imanmu masih lungset dan pipih, mudah terombang ambing, mudah robek. Imanmu masih dapat dibeli dan ditukar dengan kesenangan”.
Mufti terdiam, hatinya luruh, dan air mukanya sembab mendengar nasihat Kiai Somad. Seperti seorang anak yang berbuat nakal, lalu orang tua mencubit si anak agar tidak diulangi. Berbeda dengan anak itu, Mufti dicubit jiwanya. Terasa sakit di sekujur tubuh.
“Nak, jangan hanya pulang ketika sedang melarat saja. Kamu akan menjadi kufur. Carilah bekal, perkaya hatimu, lalu pulanglah. Di rumah, sanak keluargamu menunggumu, menanti keberhasilanmu. Mereka tidak menuntut kamu berhasil, melainkan mengharap. Nak, kamu tahu yang kumaksud rumah?”
“Hati, nyai..”
“Benar, disini bersemanyam Allah. Allah tidak menuntut hamba-Nya untuk memberi pada-Nya. Tetapi mengharap kepada hamba-Nya, melalui wakil Allah dan ajaran-Nya agar berada di jalan lurus. Maksudnya, hati yang lurus. Sebab di dunia ini, manusia sering berbeda jalan, tetapi hati tetap lurus. Jika hati tidak lurus, maka manusia akan berselisih, bertengkar sampai berperang. Semoga kamu diberi hati yang lurus”. Kiai Somad
“Amin..” Mufti
Sejenak, Kiai Somad melihat ke langit, mega merah mulai merekah. Lalu dipandangnya Mufti sambil memberi senyum. Mufti merasa rendah hati melihat Kiai, ditundukan kepalanya. Kiai Somad memegang pundak Mufti dan berbisik:
“Nak, tolong adzani ya, subuh mulai menjelang”
.......................................................................................................................................................
Penulis teringat saat di beranda rumah. Eyang Ti memerintah penulis untuk menyiram kembang. Tetapi perintah itu tidak segera dilakukan oleh penulis. Lalu, Eyang berujar
“Mufti, kiblatmu bukan BBM (Facebook, Twitter, dll), kiblatmu ka’bah ”
Dan, perkataan Eyang Ti itu menampar jiwaku setiap aku kalah berperang dengan hasrat, sampai sekarang.
Surabaya, 20 Maret 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar