Senin, 21 Maret 2016

KIAI SOMAD II (Episode: Khusyu’)

Al Mufti Bhutasvara - Lembayung senja menjelma hamparan taman katulistiwa, ada bintang yang setitik nampak terang. Matahari sedikit demi sedikit mulai mengikis, dan tenggelam ditelan samudera. Sayup-sayup adzan terdengar dari sebuah Pesantren Salaf, Nurul Yaqin. Seorang anak berumur 10 tahun, menjadi mercusuar ibadah pada petang itu. Alam bertasbih.

Hayya ‘ala ash-sholaa..h

Santri dan warga kampung yang masih di sungai segera menyingsing lengan baju dan sarungnya, seraya mengambil air wudhu. Suara Zahid begitu lembut dan nyaring, membuat hening suasana di sekitar. Rombongan jemaah yang sudah datang ke Musholla, menunduk, dan hikmat memaknai kalimat demi kalimat adzan itu. Seraya akan menyambut kemenangan sejati. Kemenangan yang dijanjikan Allah bagi mereka, para pejuang.

Hayya ‘ala al-falaa...h

Aku menengok ke bilik kamar abahku. Pandanganku menyapu sudut-sudut ruangan, berharap menemukan abah di sana. Jidatku mengkerut, abah tak ada. Zahid sudah bersenandung shalawat, pertanda sebentar akan dikumandangkan iqomat.

Seseorang menepuk pundakku, aku menoleh ke belakang, ternyata seorang santri.
“Gus, monggo[1] jamaah maghrib,” kata Tholib

“Sebentar lib, aku mau mencari abah. Abah yang akan jadi imam,” Kataku, seraya terus mencari di bilik-bilik rumah.

“Kiai Somad sampun nenggo ten[2] serambi gus”.

“Oh ya?,” Aku terperangah, tidak menyadari abah sudah menuju musholla.

Aku berhamburan ke surau, menyapu pandangan. Santri sudah siap berjamaah, mereka masih hikmat bersenandung shalawat yang dipandu Zahid. Tapi, abah terlihat di serambi dengan posisi sila dan menunduk. Aku menghampiri abah untuk mengajak berjamaah. Aku julurkan tangan kananku, tapi abah tidak merespon. Sepertinya abah tertidur, Aku menepuk pelan pundak abah, tapi abah tidak segera tergugah, begitu anteng. Hembusan nafasnya terasa hangat dan pelan-pelan.  

Apa ini isyarat dari abah?, tapi isyarat apa” bisikku dalam hati.

Aku menoleh ke dalam musholla. Sudah sejak tadi, lamanya, jamaah bersholawat. Aku mengarahkan mereka untuk segera melaksanakan sholat maghrib berjamaah, tanpa abah. Aku beri saran agar santri yang lebih senior untuk mengimami, tapi aku yang malah dibujuk. Aku masih terlalu muda untuk mengimami dan keilmuanku belum cukup matang.

Selepas sholat, abah masih dalam posisi sebelumnya. Duduk sila dengan tertunduk. Santri dan warga aku minta jangan mengganggu kekhusyukan abah. Jika abah sudah dalam posisi seperti ini, artinya ia telah manunggaling kawula. Aku masih belum faham dengan istilah itu, sebatas mendengar desas-desus dari perbincangan santri senior. Belum pernah aku mendengar langsung dari abah.

Secara keilmuan, aku masih awam dalam ilmu agama karena masih mengaji kitab fathul qorib dan aqidatul awwam. Dibandingkan santri-santri lain yang sudah mengaji kitab al-hikam karya Ibnu Atho’illah yang masyhur itu atau kitab Fihi Ma Fihi karya Maulana Jalaluddin Rumi. Hanya keberuntunganku dipanggil gus saja, aku lebih diistimewakan. Kadang aku menduga, apakah mereka terbius oleh akhlaq Imam Syafi’i, seperti yang diceritakan abah. Ialah ulama yang ta’dzim terhadap Imam Malik sebagai gurunya sampai keturunan Imam Malik ia hormati, bahkan hewan peliharaan gurunya ia rawat seperti menghormati gurunya sendiri.

Entah...” Disitu saja, kuakhiri lamunan.

Kembali aku memandang abah dengan posisi sediakala. Aku teringat, abah pernah melakukan hal seperti ini ketika sedang berziarah ke makam Sunan Ampel. Saat itu rombongan kebingungan mencari Abah, sebab mendadak selepas melaksanakan tahlil, abah lenyap. Sampai speaker dengan kerasnya memanggil nama Kiai Somad, pun tidak nampak. Persis seperti sekarang kasusnya, abah ingin diajak sholat berjamaah tetapi abah sedang khusyu’.

Terakhir, dua hari yang lalu abah melakukan hal serupa. Ketika tarqim, abah masih dalam posisi sila dan tertunduk. Ketika adzan subuh berkumandang, aku bangunkan abah. Tetapi percuma, abah masih tak tergugah dan bergerak sedikitpun. Barangkali merespon tindakanku, itu juga tidak. Kata umi kepadaku,

“Abah sedang manunggaling kawula, jangan diganggu”.

Akhirnya, sampai sekarang aku mengistilahkan tindakan abah itu manunggaling kawula. Tanpa harus tahu apa itu, kupikir aku akan tahu dengan sendirinya.

Sebentar, aku melihat bibir abah bergerak-gerak. Kudekatkan liang telingaku ke bibir abah. Lamat-lamat aku mendengar,

“Aku adalah Allah.”

Sontak aku terperanjat. Saraf-saraf sensitifku bekerja ekstra, jantungku berdetak tak karuan. Abah mengeluarkan kalimat yang tak biasa didengar olehku yang masih belia. Rasa penasaranku apakah mungkin terjawab, tentang seperti apakah bentuk Allah dengan perkataan abah itu. Apakah Dia raksasa? Dia perempuan atau laki-laki? Atau seperti Tuhan umat kristiani yang disalip itu?. Dia kah Allah yang selama ini kucari. Entah,

Menjelang sholat Isya, Zahid berjalan dari gubugnya menuju Musholla. Ia akan mengumandangkan adzan. Zahid mendampingku untuk menemani abah. Kusembunyikan kekagetanku yang tadi agar tak menimbulkan rasa curiga.

Sebagai teman sepermainan di sepak bola, ia adalah santri yang paling akrab denganku. Rasa ingin menolong shohib[3]-nya  melebihi keinginan untuk menuntaskan kewajibannya. Aku sadar, kalau Zahid tertahan disini maka waktu adzan akan sedikit molor, jadi aku minta untuk sendiri saja menemani abah. Zahid mengangguk, dan berlalu.

Isya telah usai, abah masih dalam posisi itu. Kini, santri-santri mengerumuni dan mengitari abah. Bersama-sama kami menunggui abah sampai terjaga. Mereka khawatir kalau sesuatu yang tidak baik mengenai abah.

“Gus, bagaimana keadaan Kiai Somad?,” kata salah seorang santri senior.
Insya Allah[4], baik. Nafas abah masih berhembus.”

Kelopak mata abah mulai terbuka, semua mata tertuju kepada abah, Kiai Somad.
Alhamdulillah[5], Kiai Somad tidak apa-apa” seloroh hiruk pikuk santri.

Tubuh abah mulai menegak. Digerak-gerakannya anggota tubuhnya: kepala, tangan, dan punggung.  Untuk mengendorkan otot-ototnya yang kaku. Diputarnya posisi tubuh sampai 1800. Mengarah ke kerumunan.

Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barakatuh,” Salam Kiai Somad

Wa’alaikum salam wa rohmatullahi wa barakatuh,” jawab seluruh santri, termasuk aku yang menjadi mustami’un[6].

“Maaf, para santri sekalian. Aku sejak tadi sedang sholat. Silahkan kalian kembali ke gubug masing-masing, istirahat. Besok kalian akan beraktivitas lagi, monggo” Ujar Kiai Somad. Dalam beberapa menit santri terdiam mendengar perkataan abah. Ternyata yang dikira Kiai Somad sedang tidur, ialah sholat. Rasa penasaran mereka selama ini terjawab.

“Apakah mungkin Kiai Somad sudah mencapai tajalli ya,” bisik seorang santri di belakangku bertanya kepada temannya. Bertambah lagi istilah yang tidak kuketahui. Apa itu tajalli?, apa itu manunggaling kawula?, siapakah abah?, dia kah Allah itu?.

Sudahlah, sekian. Aku berpasrah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Sebelum Kiai Somad beranjak dari persilaannya. Kiai Somad berkata kepada santri,
“Satu hal lagi, kalian sholatnya tidak menghadap kiblat. Ada yang menghadap perempuan,  hutang, cucian, keluarga. Kalian memunggungi Ka’bah, bukan kalian hadap. Bagaimana kalian mendapat cahaya sholat jika kalian salah menghadap”.

Kiai Somad beranjak. Santri-santri lekas berhamburan ke arah Kiai Somad, menjabat, menciumi tangan kiai sambil meneteskan air mata.



[1] Silahkan atau mari
[2] Sudah menunggu di
[3] sahabat
[4] Jika Allah menghendaki
[5] Segala puji bagi Allah (...Tuhan semesta alam)
[6] pendengar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar