Al Mufti Bhutasvara -
Lembayung senja menjelma hamparan
taman katulistiwa, ada bintang yang setitik nampak terang. Matahari sedikit
demi sedikit mulai mengikis, dan tenggelam ditelan samudera. Sayup-sayup adzan terdengar
dari sebuah Pesantren Salaf, Nurul Yaqin. Seorang anak berumur 10 tahun,
menjadi mercusuar ibadah pada petang itu. Alam bertasbih.
Hayya ‘ala ash-sholaa..h
Santri dan warga
kampung yang masih di sungai segera menyingsing lengan baju dan sarungnya,
seraya mengambil air wudhu. Suara Zahid begitu lembut dan nyaring, membuat
hening suasana di sekitar. Rombongan jemaah yang sudah datang ke Musholla,
menunduk, dan hikmat memaknai kalimat demi kalimat adzan itu. Seraya akan
menyambut kemenangan sejati. Kemenangan yang dijanjikan Allah bagi mereka, para
pejuang.
Hayya ‘ala al-falaa...h
Aku menengok ke bilik
kamar abahku. Pandanganku menyapu sudut-sudut ruangan, berharap menemukan abah
di sana. Jidatku mengkerut, abah tak ada. Zahid sudah bersenandung shalawat,
pertanda sebentar akan dikumandangkan iqomat.
Seseorang menepuk
pundakku, aku menoleh ke belakang, ternyata seorang santri.
“Gus, monggo[1] jamaah
maghrib,” kata Tholib
“Sebentar lib, aku
mau mencari abah. Abah yang akan jadi imam,” Kataku, seraya terus mencari di
bilik-bilik rumah.
“Kiai Somad sampun
nenggo ten[2] serambi
gus”.
“Oh ya?,” Aku
terperangah, tidak menyadari abah sudah menuju musholla.
Aku berhamburan ke
surau, menyapu pandangan. Santri sudah siap berjamaah, mereka masih hikmat
bersenandung shalawat yang dipandu Zahid. Tapi, abah terlihat di serambi
dengan posisi sila dan menunduk. Aku menghampiri abah untuk mengajak berjamaah.
Aku julurkan tangan kananku, tapi abah tidak merespon. Sepertinya abah
tertidur, Aku menepuk pelan pundak abah, tapi abah tidak segera tergugah,
begitu anteng. Hembusan nafasnya terasa hangat dan pelan-pelan.
“Apa ini isyarat
dari abah?, tapi isyarat apa” bisikku dalam hati.
Aku menoleh ke dalam
musholla. Sudah sejak tadi, lamanya, jamaah bersholawat. Aku mengarahkan mereka
untuk segera melaksanakan sholat maghrib berjamaah, tanpa abah. Aku beri saran
agar santri yang lebih senior untuk mengimami, tapi aku yang malah dibujuk. Aku
masih terlalu muda untuk mengimami dan keilmuanku belum cukup matang.
Selepas sholat, abah
masih dalam posisi sebelumnya. Duduk sila dengan tertunduk. Santri dan warga
aku minta jangan mengganggu kekhusyukan abah. Jika abah sudah dalam posisi
seperti ini, artinya ia telah manunggaling kawula. Aku masih belum faham dengan
istilah itu, sebatas mendengar desas-desus dari perbincangan santri senior. Belum
pernah aku mendengar langsung dari abah.
Secara keilmuan, aku
masih awam dalam ilmu agama karena masih mengaji kitab fathul qorib dan aqidatul
awwam. Dibandingkan santri-santri lain yang sudah mengaji kitab al-hikam
karya Ibnu Atho’illah yang masyhur itu atau kitab Fihi Ma Fihi karya
Maulana Jalaluddin Rumi. Hanya keberuntunganku dipanggil gus saja, aku
lebih diistimewakan. Kadang aku menduga, apakah mereka terbius oleh akhlaq Imam
Syafi’i, seperti yang diceritakan abah. Ialah ulama yang ta’dzim terhadap Imam
Malik sebagai gurunya sampai keturunan Imam Malik ia hormati, bahkan hewan
peliharaan gurunya ia rawat seperti menghormati gurunya sendiri.
“Entah...” Disitu
saja, kuakhiri lamunan.
Kembali aku memandang
abah dengan posisi sediakala. Aku teringat, abah pernah melakukan hal seperti
ini ketika sedang berziarah ke makam Sunan Ampel. Saat itu rombongan
kebingungan mencari Abah, sebab mendadak selepas melaksanakan tahlil, abah
lenyap. Sampai speaker dengan kerasnya memanggil nama Kiai Somad, pun
tidak nampak. Persis seperti sekarang kasusnya, abah ingin diajak sholat
berjamaah tetapi abah sedang khusyu’.
Terakhir, dua hari
yang lalu abah melakukan hal serupa. Ketika tarqim, abah masih dalam posisi
sila dan tertunduk. Ketika adzan subuh berkumandang, aku bangunkan abah. Tetapi
percuma, abah masih tak tergugah dan bergerak sedikitpun. Barangkali merespon
tindakanku, itu juga tidak. Kata umi kepadaku,
“Abah sedang manunggaling
kawula, jangan diganggu”.
Akhirnya, sampai
sekarang aku mengistilahkan tindakan abah itu manunggaling kawula. Tanpa
harus tahu apa itu, kupikir aku akan tahu dengan sendirinya.
Sebentar, aku melihat
bibir abah bergerak-gerak. Kudekatkan liang telingaku ke bibir abah.
Lamat-lamat aku mendengar,
“Aku adalah Allah.”
Sontak aku terperanjat.
Saraf-saraf sensitifku bekerja ekstra, jantungku berdetak tak karuan. Abah
mengeluarkan kalimat yang tak biasa didengar olehku yang masih belia. Rasa
penasaranku apakah mungkin terjawab, tentang seperti apakah bentuk Allah dengan
perkataan abah itu. Apakah Dia raksasa? Dia perempuan atau laki-laki? Atau
seperti Tuhan umat kristiani yang disalip itu?. Dia kah Allah yang selama ini
kucari. Entah,
Menjelang sholat
Isya, Zahid berjalan dari gubugnya menuju Musholla. Ia akan mengumandangkan
adzan. Zahid mendampingku untuk menemani abah. Kusembunyikan kekagetanku yang
tadi agar tak menimbulkan rasa curiga.
Sebagai teman
sepermainan di sepak bola, ia adalah santri yang paling akrab denganku. Rasa
ingin menolong shohib[3]-nya melebihi keinginan untuk menuntaskan
kewajibannya. Aku sadar, kalau Zahid tertahan disini maka waktu adzan akan
sedikit molor, jadi aku minta untuk sendiri saja menemani abah. Zahid
mengangguk, dan berlalu.
Isya telah usai, abah
masih dalam posisi itu. Kini, santri-santri mengerumuni dan mengitari abah.
Bersama-sama kami menunggui abah sampai terjaga. Mereka khawatir kalau sesuatu
yang tidak baik mengenai abah.
“Gus, bagaimana
keadaan Kiai Somad?,” kata salah seorang santri senior.
“Insya Allah[4], baik.
Nafas abah masih berhembus.”
Kelopak mata abah
mulai terbuka, semua mata tertuju kepada abah, Kiai Somad.
“Alhamdulillah[5], Kiai
Somad tidak apa-apa” seloroh hiruk pikuk santri.
Tubuh abah mulai
menegak. Digerak-gerakannya anggota tubuhnya: kepala, tangan, dan punggung. Untuk mengendorkan otot-ototnya yang kaku. Diputarnya posisi tubuh sampai 1800.
Mengarah ke kerumunan.
“Assalamu’alaikum
wa rohmatullahi wa barakatuh,” Salam Kiai Somad
“Wa’alaikum salam
wa rohmatullahi wa barakatuh,” jawab seluruh santri, termasuk aku yang
menjadi mustami’un[6].
“Maaf, para santri
sekalian. Aku sejak tadi sedang sholat. Silahkan kalian kembali ke gubug
masing-masing, istirahat. Besok kalian akan beraktivitas lagi, monggo” Ujar
Kiai Somad. Dalam beberapa menit santri terdiam mendengar perkataan abah.
Ternyata yang dikira Kiai Somad sedang tidur, ialah sholat. Rasa penasaran
mereka selama ini terjawab.
“Apakah mungkin Kiai
Somad sudah mencapai tajalli ya,” bisik seorang santri di belakangku
bertanya kepada temannya. Bertambah lagi istilah yang tidak kuketahui. Apa itu tajalli?,
apa itu manunggaling kawula?, siapakah abah?, dia kah Allah itu?.
Sudahlah, sekian. Aku
berpasrah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.
Sebelum Kiai Somad
beranjak dari persilaannya. Kiai Somad berkata kepada santri,
“Satu hal lagi,
kalian sholatnya tidak menghadap kiblat. Ada yang menghadap perempuan, hutang, cucian, keluarga. Kalian memunggungi
Ka’bah, bukan kalian hadap. Bagaimana kalian mendapat cahaya sholat jika kalian
salah menghadap”.
Kiai Somad beranjak.
Santri-santri lekas berhamburan ke arah Kiai Somad, menjabat, menciumi tangan
kiai sambil meneteskan air mata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar