Rabu, 28 Desember 2016

ANAK RAJA

DI LUAR ISTANA, Wardana merasa bebas. Benar-benar bebas. Bebas dari tembok dan bebas dari adat. Wardana bernapas lega, dan puas. Ia tak peduli dicari Raja, ayahnya, prajuritnya, dan telik sandinya. Ia tak peduli dikatai durhaka.

"Hore! Yang penting aku bebas." teriak Wardana berlari berlompatan menyusuri jalan sambil melepas sepatu dan kaus kaki.

Di samping kanan dan kirinya. Ia lihat ibu-ibu dan anaknya akrab dan tertawa. Sesuatu yang dirindukan, lebih tepatnya diirikan Wardana. Di istana tak didapatkan keceriaan, dan kebahagiaan. Harta Raja, ayahnya, yang berlimpah tak mampu membeli 'rasa'; rasa senang, dan rasa cinta. Atau tak dapat membeli obat kerinduan.

Hanya di luar sana. Bersama rakyat Raja, ayah Wardana, ia tahu kebahagiaan itu.

Di depannya terlihat seorang anak menangisi layangannya yang menansang di ranting pohon. Wardana dengan telanjang kaki memanjat. Dan menyerahkan layang-layang, anak itu tersenyum gembira. Bahagianya hati Wardana. Bahagia karena memberi, bukan membeli.

Wardana berjalan dan berjalan. Tak tahu seberapa jauh. Berapa dusun, dan desa yang terlampau. Kegembiraan yang sangat, telah mabuk, bergerak tanpa sadar dari kelelahan. Sampai ia menjumpai sebuah joglo.

Lengkap dengan pohon jambu dan pohon keres. Pun di sekitar pagarnya ditanami tanaman dan bunga-bunga. Di dalam joglo terlihat beberapa anak duduk melingkar, mendengarkan seorang lelaki, gurunya, mengajar.

Ia duduk di bawah bayangan pohon jambu. Kelelahan mulai menyusup pada badannya. Dan memandang anak-anak yang belajar. Ia merasa seumuran dengan mereka. Mereka belajar dengan gembira dan saling canda. Sebelumnya, di istana, tak didapati seorang teman yang akrab, dapat diajak bercanda, tanpa etika dan tata krama yang kaku.

Beberapa anak keluar dari joglo setelah gurunya menutup.

Seorang anak, siswa joglo, menghampiri Wardana yang tertidur di bawah pohon jambu karena lelah menunggui sampai selesai pengajaran.

Keduanya berkenalan.

"Aku Kusno." kata anak yang dekil, hitam, dan kurus.

"Aku Wardana." Wardana menjabat Kusno.

"Salam kenal."

"Salam kenal."

Senja mulai naik. Kusno mengajak Wardana bermain bola di lapangan, di dekat pematang sawah. Bersama anak-anak, siswa joglo tadi, Wardana bermain sepak bola. Untuk pertama kalinya, ia berkenalan dengan sakitnya tersliding, kotornya bercak-bercak lumpur, dan keringat yang bau.

Permainan bola disudahi. Ketika Pak tani, dan Bu tani mulai pulang dari sawah. Mereka menyeru supaya, anak-anak, kembali ke rumah: hari sudah gelap. Agar tidak culik gandarwa. Pertamakalinya, Wardana dikenalkan 'gandarwa' oleh Kusno, di jalan, hantunya rakyat. Di lingkungan raja-raja tidak dikenal hantu, demon, siluman, apalagi gandarwa. Tapi raja-raja itu sendiri hantunya! Yang menakuti rakyat dengan upeti, perbudakan, dan pancungan. Hantu sendiri bisa saja ditaklukan raja. Di istana sudah ada dukun, atau penyihir yang sakti mandraguna. Bersama Kusno, Wardana berkenalan dengan rasa 'takut'. Dan ketegangan saat menghadapi ketakutan.

Rumah Kusno jauh dari kata 'layak'. Temboknya dari anyaman bambu yang mudah ditembus angin malam. Wardana sekali lagi, berkenalan dengan 'dingin'. Ia diberi selembar kambal oleh ibunya Kusno. Bersama Kusno dan ayahnya, ia menghangatkan diri di depan perapian.

Adat Jawa, apalagi di pedalaman selalu mengaitkan anak dengan orang tuanya.

"Anak siapa kamu?" Tanya Sunadi, ayah Kusno.

"Aku?" Wardana mengernyitkan dahi, saking gembiranya, sampai lupa: siapa ayahnya. "Aku anaknya Raja."

Sunadi dan Kusno membeliakan mata. Kusno terlompat dari perapian. Sunadi terpaku pada Wardana.

"Wardana, kamu sungguh anak Raja?" Kusno bertanya dengan heran-heran.

"Iya," kata Wardana datar, "Kenapa?"

"Kenapa kamu keluar tanpa pengawalan prajurit? Dan membiarkan dirimu kedinginan dan kelaparan bersama kami."

"Di istana tidak enak." kata Wardana. "Aku boleh menjadi anaknya Pak Sunadi?"

Baik Kusno dan Sunadi semakin terheran-heran dengan Wardana. Bukankah masyarakat Jawa mengimpikan kehormatan, ketenaran, dan kemapanan. Lebih-lebih jika bagian dari istana, entah sebagai anak, atau selir. Sebab kebutuhan sehari-hari jelas terjamin, mendapat penghormatan, rasa aman tanpa takut diburu upeti, dan makanan serba lezat. Sedang Wardana meninggalkan itu semua.

Pak Sunadi belum menjawab. Wardana menambahi.

"Bagaimana kalau kita berganti peran?" Wardana memandang Kusno, yang berdiri di samping.

"Kusno jadi anak Raja?" Sunadi menegasi pertanyaan Wardana. Kusno menjadi sorotan Sunadi.

Dengan lugu dan ringan, Wardana mengangguk.

"Terima Nak! Terima Nak! Biar ada keturunanku yang berpangkat."

Dua puluh tahun kemudian. Wardana benar-benar menjadi bagian rakyat, menjadi petani seutuhnya. Kulitnya yang kuning, gosong, terbakar matari.

Sedang Kusno marak menjadi Raja. Yang angkuh, keras, dan keji pada rakyatnya. Ia tak mau lagi mengakui dan diakui sebagai rakyat atau raja yang dulunya rakyat. Tak mau! Kusno adalah sebenar-benarnya raja dengan segala kedigdayaannya.

Suatu hari. Raja Kusno bersama iringan pasukan mendatangi bekas rumahnya. Ia pura-pura tidak tahu dan menganggap rumah itu milik sebatas kawulanya.

Di rumah ada Wardana, dan Sunadi yang tengah rebahan karena terserang sakit.

"Wardana mana kamu! Bayar tagihan upetimu," kata Raja Kusno di bibir pintu, "Atau aku bakar rumah ini!"

Surabaya, Desember 2016

Penulis: Much. Taufiqillah Al Mufti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar