Senin, 26 Desember 2016

SANTRI SIRO

Karya Much. Taufiqillah Al Mufti

Siro, santri yang ta'dzim dan rajin dan gigih. Ia disenangi kiai, dan teman-temannya. Ia tidak seberapa pintar di antara kalangan santri lain. Tapi giatnya Siro mengamalkan amalan kiai, sehingga menjadi "sebab" gemilangnya nasib Siro.

Sekarang Siro sudah lama sekali menjadi alumni pesantren Al Hububi.

Begitulah, penggalan kisah yang dicukil Kiai Gogon kepada para santrinya. Agar lebih bersemangat mengamalkan ajarannya: wirid, dan sebagainya.

Sebagai kiai di desa, Kiai Gogon punya pengaruh meluas seantero negeri. Orang-orang dari, hampir, seluruh pelosok daerah negeri, mak kemruyuk, berjubel berdatangan dan memohon 'pangestu' memondokan anak-anaknya.

Kiai Gogon tidak perlu kerja berat. Setiap hari hanya mengaji dan mengajar. Pemasukannya didapatkan dari sumbangan 'sak ikhlase' para tamu, warga, dan bulanan santri.

Begitupun dengan kondisi santri. Pasokan logistik: berupa bahan makanan pokok dan minum. Tidak berkekurangan. Jika ada pembangunan, ya tinggal dipanggil 'outsourching' tukang-tukang. Pokoknya, santri Al Hububi tinggal dandan cakep, dan datangi pengajian. Kata Kiai Gogon ya itulah berkah dari keikhlasan, maka rejeki datang sendiri. Tidak perlu santri di 'kerja paksa' dan semacam romusha lain yang biadab dan tak berperikemanusiaan. Bahkan, santri tidak diperkenankan mengais uang lagi. Kata Kiai Gogon, "Ngapain santri kok mikirin duit! Kufur!"

Seorang santri bernama Ingsun. Terinspirasi dengan sosok Siro.

Siang dan malam, Ingun membayangkan seorang Siro, jebolan Al Hububi, yang sukses. Ingin sekali Ingsun menjadi Siro. Motivasinya, agar ia tidak bernasib melarat, terus dan terus.

Walau pembayaran bulanan santri dipatok keikhlasan. Ingsun tetap saja kesulitan membayar. Orang tuanya tidak ada, pada saat ia kelas dua aliyah. Lebih menyulitkan lagi: Kiai Gogon melarang santri mengais uang, alias kerja.

Ingsun sudah mencoba berpuluh-puluh kali mengikuti saran Kiai Gogon. Yang sarannya: berhati ikhlas, tahajud, dhuha, dan wirid tiada henti-hentinya. Tetap saja, rejeki tidak kunjung datang sendirinya! Kesal hati Ingsun. Tak lama ia istighfar.

Pada awal bulan. Seluruh santri dihimbau membayar bulanan. Ingsun dari rumah tidak diberikan uang lebih oleh saudaranya, sedang uang pemberian itu hanya cukup untuk ongkos naik kereta kelas 'ekonomi' sampai ke pesantren Al Hububi.

Ingsun bingung setengah mati. Dan pikirannya menuntut haknya pada Tuhannya, setelah ia melaksanakan penuh seluruh ajaran Kiai Gogon. Bahwa sampai detik-detik rejeki itu dibutuhkan pun tidak datang dengan sendirinya. Sedang Ingsun sendiri takut menanyakan ke Kiai Gogon, tentang amalannya yang tak manjur. Su'ul adab kalau memprotes kiai.

Akhirnya, ia punya ide. Kalau menanyakan pada kiai langsung ia takut, tapi kalau sesama santri ia merasa nyaman karena senasib, apalagi jika santri itu patut jadi percontohan.

Ingsun ingin bertemu Siro. Setidaknya sementara Siro lah, sosok santri inspirasinya. Ditanyainya teman dan guru, atas  keberadaan Siro sekarang. Diketahui Siro menetap di kota yang sebelahan dengan kotanya pesantren Al Hububi.

Dengan sisa uang tiket kereta, dan ditambahi hutang sana-sini temannya. Ingsun, bismillahirrohmanirrohim, berangkat!

Sampai di rumah Siro. Ia melihat sebuah becak yang baru saja dibersihkan. Hanya saja Ingsun merasa aneh, sebab rumah Siro yang mewah, ada sebuah becak dan itu simbol orang melarat, kaum kromo, seperti Ingsun sendiri.

"Saya Ingsun, santri Kiai Gogon. Saya dikenalkan sampian oleh Kiai Gogon" Ingsun membuka percakapan. "Kata beliau, sampian bisa sukses karena ulet mengamakan amalan kiai."

Tutup Ingsun. Tidak segera dijawab, Siro menyeruput kopi, dan mempersilakan Ingsun turut menyeruput.

Siro mendeham-deham, dan kemudian batuk ringan.

"Bagaimana kabar Kiai Gogon ya?" Tanya Siro.

Ingsung menjelaskan dengan panjang lebar. Tentang kesehatan Kiai Gogon, aktivitasnya, dan amalannya.

"O ya," kata Ingsun, "Bagaimana sampian bisa sukses. Sedang saya tidak. Padahal tidak kurang sehuruf pun tertinggal kulaksanakan amalan kiai."

"Jangan salah sangka."

"Bagaimana kang?"

Siro menuding, dengan jari jempol, ke suatu arah. Pandangan Ingsun ditolehkan menurut arah tudingan Siro. "Becak," gumam Ingsun.

"Ada apa dengan becak itu kang?"

"Becak itu saksi perjalanan hidup saya, sejak di Al Hububi, lulus dari sana, dan sampai sekarang saya punya perkebunan. Harta tak berkekurangan."

"Sampian bekerja sewaktu nyantri?"

"Iya, benar."

"Tidak 'didukani' (dimarahi) sama kiai Kang?"

"Ya, aku dimarahin sama Kiai Gogon. Bahkan hampir dikeluarkan, ya karena aku tidak mengindahkan nasihat beliau."

"Loh," Ingsun kaget dengan pernyataan Siro, "Kata kiai, sampian bisa sukses dan kaya begini karena ulet mengamalkan ajaran kiai?"

"He-he-he," Siro tertawa sambil memandangi langit yang sementara cerah, "Jangan meniru aku ya! nDablek aku. Kenyataannya aku kerja, selain melaksanakan amalan dan ajaran kiai. Tapi perlu kamu ketahui, semua biaya pembangunan pesantren Al Hububi itu aku yang menyumbang."

"Benarkah?" Ingsun memanjangkan lehernya, "Jujur, Kiai Gogon tidak pernah menyebut sampian penyumbang utama semua pembangunan pesantren."

Siro terkekeh-kekeh. Dan jidat Ingsun berkerut.

Semarang, Desember 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar