Kamis, 24 Maret 2016

KIAI SOMAD 4 (Episode: Kematian Sang Kekasih 1)

Didownload dari google.comAl Qur’an sebuah mu’jizat dari Allah yang disampaikan melalui perantara Malaikat Jibril secara berangsur-angsur seperti aliran air di sungai, kepada Nabi Muhammad. Di dalamnya termuat hikmah dalam cerita-cerita yang menjadi mercusuar bagi hati manusia yang tersesat. Dari mulai cerita Nabi Adam sampai Lukmanul Hakim. Teramat menginspirasi dalam hidup. Ditambah ada pengaruh magis, bagi setiap pembacanya akan menenangkan hatinya. Gundah, gelisah, resah akan sirna seketika.

“Kiai Wahid Hasyim, ketika sakit bahkan meminta santrinya untuk membacakan Al-Qur’an. Saking ia beriman kepada kitab suci,” Jelasku, dalam obrolan singkat dengan Falaq yang tengah mengambil cuti selama sebulan untuk mutholaah dan memperdalam kemantabannya dalam beragama.

“Siapa Kiai Wahid itu Gus?, kedengarannya beliau seorang mu’min sejati,” Ujar Falaq, sembari menutup mushhaf-nya seraya mencium, “Shodaqollahul adzim,” ucap Falaq lirih seperti berbisik.
“Itu pengasuh pesantren tempat aku menimba ilmu. Tetapi beliau telah kapundut gusti pengeran[1].”

Spontanitas dan nyaris bersamaan aku dan Falaq mengucapkan kalimat istirja’[2], “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Semoga Allah menempatkannya di sisinya bersama para kekasih Allah.” Kuucapkan itu dengan bibir yang terkatup-katup. Sembari mengusap muka dengan kedua tangan.

 Falaq telah merasa kembali pada jatidirinya, sebagai santri. Keyakinannya dahulu sewaktu nyantri, bahwa pesantren ialah tempat pencetak kader muslim yang komitmen terhadap perjuangan visi Islam (keadilan dan persaudaraan) dan memiliki wawasan luas keagamaan kembali meletup. Ia sempat meragu, tutur Falaq dengan raut kuyup. Kupancing agar ia bercerita tentang keraguannya dan kehidupan di Jakarta, sia-sia, bibirnya tetap tersegel, rapat.

Dahulu, Falaq ialah santri teladan: Hampir dalam seminggu ia khatam sekali membaca Al Qur’an hingga nyaris hafal. Maka takkan akan ditemukan kesulitan yang berarti jika ia mau membaca lagi, akan jauh lebih fasih, tentunya. Falaq mengaku, tidak cukup hanya bisa membaca Al Qur’an, tetapi juga tahu maknanya dan mampu diamalkan dalam kehidupan. Ini yang tertinggal sewaktu Falaq nyantri.

“Saya tahu maknanya gus, tetapi pemaknaan saya belum tentu sama dengan makna sebenarnya. Karena ada ayat yang perlu ditakwil. Itu tidak cukup gus, dan kalau sudah tahu mestinya diamalkan gus.” Jelas Falaq. Aku termanggut-manggut mendengar penuturan Falaq. Ia orang yang tipikal tidak mau digurui. Wajar seorang direktur perusahaan. Biarlah, ternyata ia sadar sendiri. Dimana kekurangannya. Dalam hati aku tersenyum.

Aku menoleh ke arah jam dinding. Jarum jam menunjukan pukul 09:00 WIB. Sebentar, sadar jika belum sarapan. Aku teringat dengan masakan nasi. Kuajak Falaq sarapan, tapi ia menggeleng-gelengkan kepala. Ia jelaskan kalau sedang berpuasa. Aku tercengang mendengar penuturannya. Sekali lagi aku tersenyum. Ia ingin beri’tikaf di dalam musholla lebih lama lagi. Kuberlalu meninggalkannya.

***

Di rumah, abah masih setia menemani umi. Sudah hampir sebulan umi mengalami demam yang cukup tinggi. Sekujur tubuh umi panas. Hampir tidak bisa digerakan. Berbicara juga sedikit kesulitan. Melihat abah sudah keletihan menjaga umi. Aku meminta diri untuk bergiliran menjaga. Abah menolak, tapi ia meminta aku untuk mengambilkan segelas teh panas dan sepiring buah-buahan.

Aku pilih buah jambu yang kuambil di meja makan. Kupikir, buah jambu akan sangat mujarab bagi yang terkena sakit tipus. Demam umi masih tergolong pada tipus. Aku teringat saat badanku panas sekali. Pada setiap pagi umi membuatkan jus jambu untuk aku. Lalu, seketika badanku berangsur-angsur membaik. Suhu tubuhku normal.

Apa lebih baik jika aku blender saja ya buah jambunya, kataku dalam hati. Tidak berselang lama, segelas teh dan segelas jus jambu terhidang di meja samping umi berbaring. Umi menoleh ke arahku. Ia melihat aku menghidangkan jus untuknya. Senyumnya menyeringai. Aku balas dengan senyuman. Lalu kukecup dahinya. Kudengar dari bibirnya yang terkatup-katup, berujar, “Terimakasih nak”.

 Masih bersama mereka berdua. Melihat dua insan yang saling menyanyangi, satu sama lain. Abah yang tetap sabar dan setia merawat umi, dan umi yang berjuang sekuat tenaga agar kembali seperti semula lagi. Aku terperangah melihat itu. Ketika di luar sana, para artis dan keluarga kelas menengah dengan mudah sekali memutus ikatan pernikahan lantaran masalah-masalah sepele yang dapat dicarikan solusinya. Cinta yang sejati, cinta yang memberi. Dalam hati aku tersenyum.

Liburan sekolah sebenarnya telah usai. Semestinya aku kembali ke Jombang, dan melanjutkan proses ngaji di Pesantren Tebuireng. Beberapa kali telpon dari pengurus menjurus ke rumah, dan menanyakan, kapan tibanya aku ke Jombang. Aku belum dapat memastikan jawaban. Aku tidak tega meninggalkan umi. Tetapi aku yakinkan setelah keadaan umi membaik. Aku akan kembali. “Semoga umi sampian segera sembuh, amin”. Doa pengurus, terdengar jauh di sana.

“Telpon dari siapa nak?,” tanya abah

Kudekatkan mulutku ke liang telinga abah, seolah berbisik, “Dari pengurus lagi bah”. Nyaris suaraku tak terdengar. Takut mengganggu istirahat umi. Apalagi jika umi tahu kalau ada orang yang direpotkan karenanya, umi akan bertambah memburuk kondisinya.

Abah mengangguk-anggukan kepalanya. Seraya menukas, “Lalu kapan kamu mau balik ke pondok?”. Itu pertanyaan abah untuk kesekian kalinya. Tetapi aku jawab dengan diam dan tersenyum saja. Aku tergolong orang yang keras kepala untuk masalah ini, tetapi untuk beberapa hal aku mudah dibelokan dan diarahkan oleh abah. Jika aku merasa salah. Inilah abah yang sangat menghargai hak privilise-ku.

Aku teringat dengan tausyiah[3] Kiai Ishaq Latif. Suatu ketika ia berujar, bahwa “Bagi Ali bin Abu Tholib, ada tiga fase dalam mendidik anak. Fase pertama, jadikan anak sebagai raja. Ini berlaku ketika seorang anak belum aqil balight. Fase kedua, penjarakan anak itu. Artinya, ketika seorang anak sudah cukup balight dan sudah mengetahui kesenangan, maka kekanglah seorang anak agar ia bisa mengendalikan hawa nafsunya. Fase ketiga, jadikan seorang anak sebagai sahabat”.

Kemudian aku membayangkan dalam kehidupan berkeluarga. Tanpa aku sadari, abah dan umi telah menerapkan tiga fase pendidikan anak menurut Ali bin Abu Tholib. Kini, mereka tak lagi melarang-larang anaknya untuk bergaul, berfikir, dan bertindak apa saja. Mereka telah mempercayai aku. Di mata mereka, aku adalah sahabat.

***

Pada suatu malam. Gelap gulita. Semua lampu padam. Badai menggelegar. Curah hujan sangat tinggi hingga mematikan seluruh listrik. Tidak ada kebisingan apapun kecuali suara rintikan hujan. Aku terbangun dari tidur. Menoleh ke kiri, ke kanan. Falaq sudah tidur begitu pulasnya. Dalam hati aku tersenyum, melihatnya sudah kembali seperti semula. Esok hari dia sudah harus kembali ke Jakarta melanjutkan pekerjaannya.  

Terperanjat dari bilik kamar. Aku menelusuri sudut-sudut rumah: mencari lilin. Keadaan yang gelap seperti ini, tidak baik jika tak ada cahaya sama sekali. Akibatnya terjatuh atau tersandung bagi pejalan. Aha!, kutemukan sepotong lilin dalam almari dapur. Aku letakan beberapa lilin yang nyala itu di beberapa titik rumah: dapur, kamar mandi, kamar, ruang tengah, dan ruang tamu.  

Sesampainya di ruang tamu, aku melihat sosok lelaki paruh baya di teras. Ia terduduk di kursi goyang sambil memegang putung rokok. Dari cara menghisap rokok dan duduknya tidaklah asing bagiku. Aku mengusap-usap mataku, barangkali hanya bayangan yang kulihat. Ketika muncul kilatan petir, jelas terlihat, bahwa itu abah. Apa yang dilakukannya malam-malam begini.

Kubawakan jaket, selimut dan kaus kaki, karena abah hanya mengenakan kaus oblong dan sarung. Sempat kaget abah ketika menyadari kedatnganku. Aku haturkan beberapa potong kain agar dikenakannya. Abah mempersilahkan aku duduk di sampingnya. Bersama dengannya, rokok, dan secangkir kopi menikmati hujan yang konon kerap mendatangkan seorang tamu bernama rindu. 

“Abah sedang memikirkan apa malam-malam begini?,” kataku memulai obrolan.

“Hanya memikirkan umimu nak”.

“Kenapa dengan umi bah?, kata dokter umi akan segera sembuh”.

“Bukan itu nak. Ada hal lain. Sudahlah. Tapi sekarang aku terkenang masa-masa indah bersama umi, dahulu”. Kata abah dengan nada yang sendu, tapi sebentar berubah ceria. Ada suatu rahasia yang disembunyikan di balik lipatan kerut kulitnya dariku.

Aku menghargai jika itu rahasia yang ingin disimpan abah. Tapi abah sempat melontarkan kata mengingat kenangan indah bersama umi. Aku tertawa dalam hati, bahwa di usia senja seperti abah ternyata masih bergelut dengan romantisme. Seperti anak remaja yang gandrung akan romantisme.  Barangkali bukan sekedar sensasi tapi abah ingin melipur laranya sendiri dengan itu. Dari kenangan disanalah ada muara harapan.

“Kamu sudah tak anggap seperti sahabatku nak. Sekarang kamu sudah dewasa dan aqil baligh. Sudah tahu tentang cinta. Boleh abah tanya sesuatu?”. Tanya abah dengan ceria dan agak sedikit ketus.

“Boleh bah”.

“Kamu punya kekasih nak?”.

Aku terkejut mendengarnya. Baru sekali ini abah menanyakan hal sensitif, sesensitif perasaan. Sebelumnya aku menganggap abah, adalah sosok yang kaku tapi berwibawa dan selalu menyerukan jargon agama. Maka keistimewaan bagiku mendapat kesempatan langka ini, karena tidak setiap anak seorang kiai akan ditanyakan hal ini oleh bapaknya.

Sebenarnya tidak ada sosok kekasih seperti yang ditanyakan abah. Tetapi sosok wanita yang aku sukai dan menginspirasi aku, itu ada. Lalu kujawab pertanyaan abah dengan agak terbata-bata dan tersipu malu, dan berujar, “Mboten wonten bah[4],” Jawabku, tersipu malu.

“Mboten wonten tapi ono kan?,” Gurau abah
“Enten bah tapi sanes kekasih, asmine Solihah[5]”.

“Siapa itu Solihah? Kenal dimana kamu nak”.

“Solihah itu adik kelas saya bah di SMA. Hmm saya kenal sewaktu acara pondok. Dia menjadi salah seorang penabuh rebbana bah.” Tanyaku. Sebentar, raut abah menjadi memerah.

“Pasti orangnya cantik dan agak mirip-mirip dengan umi. Ya kan?,” ujar abah dengan ketus.
Kini abah telah menjebol selubung dan berada di sekitar zona sensitifku. Abah tidak hanya menjadi bapak bagi jasadku tapi juga bapak bagi jiwaku, musrsyid sejati!. Bagaimana aku menjawabnya, maka kurespon sekenanya, “Iya bah...”.

“Abah sendiri bagaimana bisa jatuh cinta dengan umi,” Pertanyaanku sepertinya menjadi smash silang yang aku hempaskan setelah mendapat bola liar dari abah.

Abah tergopoh-gopoh untuk menjawabnya. Seperti seorang yang mendapat tekanan smash dalam badminton dan abah tidak menyadari pertanyaan balik akan dilontarkan putranya. Seperti pemandangan biasa, dengan bijak abah berkata, “Abah bertemu umi di suatu pengajian nak”.

“Terus bagaimana abah bisa jatuh cinta dengan umi?”. Tanyaku, terus menekan. Penuh penasaran. Sebab disitulah awal dari segalanya: bahagia-sedih-kecewa-susah-senang, sampai lahirnya aku: Ghofar Abdul Ghani.

“Umimu itu cantiknya tidak hanya di luarnya nak, tapi juga di dalamnya. Itu yang membuat aku menaruh hati kepada umi. Sulit mencari padanan wanita seperti itu”. Jawab abah sembari menunjuk dada sebelah kiri, artinya: hati.

Suara-suara halilintar yang menggelar dan rintikan deras hujan tidak menjadi tabir bagi kami dalam mengobrol. Seakan suasana yang sebelumnya mencekam, telah tersulap menjadi taman indah yang diisi: tawa, canda, dan kebahagiaan. Rokok pun tak terasa telah berubah abu dan kopi menjadi asat, tapi tak kami hiraukan. Obrolan mengalir terus, membanjiri malam.

“Bagaimana abah bisa menikah dengan umi?”. Jika abah tidak dipancing dan ditanya, maka abah tetap membisu dan bicara seperlunya. Walau tadi abah sempat bergurau tapi sisi kekakuannya masih dominan.

“Kau tahu sendiri nak, abah seorang anak petani biasa. Sedangkan umimu adalah seorang anak seorang kiai. Awalnya abah berfikiran tidak mungkin untuk menikahi seorang ning dari putri seorang kiai”.

***
22 tahun lalu

Somad, sudah mendengar bahwa Umi Kulsum, putra Kiai Slamet akan segera bertunangan dengan putra Kiai Zainuri dari Malang. Sebab itu, seharian Somad tidak bisa tidur dengan nyenyak dan memiliki nafsu makan seperti biasanya. Somad selalu membayangkan sosok Umi Kulsum yang cantik jelita. Beberapa kali bayangan itu ditepisnya dengan berdzikir dan berulangkali berucap istighfar. Belum mampu juga menepis bayangan dan ketidakrelaannya jika Umi Kulsum dipersunting pria lain.

Ketika hari H pertunangan beredar kabar tak sedap. Bahwa Kiai Zainuri dari Malang membatalkan pertunangannya dengan putri Kiai Slamet. Desas-desus kabar itu sampai ke telinga Somad. Sedikit lara hati Somad terobati, tetapi belum sembuh total.

Sehari-hari aktivitas Somad di pesantren menjadi seorang khodam[6]. Maka ia memanfaatkan posisi itu untuk menanyakan kebenaran kabar itu dari keluarga ndalem sendiri.

Setelah didalami oleh Somad, ternyata terbukti pertunangan itu batal. Hati Somad melega. Jeratan-jeratan tali berduri di sekitar hatinya mulai mengelupas, satu demi satu. Tetapi ada sesuatu yang mengganjal fikiran Somad: apa penyebab dibatalkannya pertunangan itu?. Sekilas Somad ingin berperasangka baik. Tetapi datang kabar dari keluarga ndalem. Bahwa selepas batalnya pertunangan, Kiai Slamet sering resah sampai kesehatannya menurun. Membuat perasangka Somad berkeliaran kemana-mana.

Sampai suatu hari yang masih terbilang pagi. Kiai Slamet memanggil Somad menghadap ke ndalem kesepuhan. Entah ada angin apa sampai Kiai Slamet ingin mengajak bicara dengan Somad secara tertutup.

“Somad, kamu sudah dengar kabar pertunangan putriku?,” Tanya Kiai Slamet dengan wibawa, tapi masih tampak pucat akibat tekanan yang ia alami.

“Saya sudah mendengar, kiai,” Jawab Somad

“Pertunangan putriku dengan Kiai Zainuri batal. Aku sendiri tidak tahu kalau terjadi seperti ini. Tak kira akan berjalan biasa-biasa saja. Sebab aku sendiri tidak menduga, kalau yang akan membatalkan pertunangan itu putriku sendiri. Aku memarahinya, karena tidak berterus terang sejak awal. Selama ini ia hanya diam dan menjawab enggeh. Ternyata di balik enggeh-nya tersimpan penolakan. Mungkin ini salahku, karena terlalu mengatur-atur putriku sampai tidak mau terbuka. Setiap aku tanyai kenapa menolak pertunangan, ia enggan menjawab. Aku malu di hadapan Kiai Zainuri. Reputasiku hancur.”

“Sampai aku mengetahui rahasia yang disimpan putriku dari sahabat karibnya di pondok. Kata sahabatnya, Umi sangat menyukai Ahmad Somad lebih dari apapun. Ternyata yang dimaksud Somad yang ada di depanku. Sejujurnya, aku tidak melarang putriku menyukai siapapun, dan ternyata yang disukainya adalah kamu. Aku tidak menyalahkan pilihannya jatuh kepada kamu. Malah aku bangga dengan pilihan putriku, sebab ia tak salah. Kamu orangnya cekatan, teguh pada pendirian, mudah bergaul, ikhlas”.

***

Kenang Kiai Somad,

Aku terbengong mendengar cerita abah, sampai tidak sadar telah habis di ujung, “Ternyata begitu kisah abah sampai mempersunting umi, indah”.

“Iya nak, umi segalanya bagiku. Aku sangat berharap umi segera pulih. Aku benar-benar beharap”. Kata  abah sambil meremas gagang kursi goyangnya dengan kuat sampai urat-uratnya terlihat.
Tak berselang lama, abah kembali bertanya, “Bagaimana keadaan si Falaq,” tanya abah. Aku balas dengan senyum ceria.

“Alhamdulillah jika telah semakin membaik”.

***

Badanku terasa digoyang-goyang. Ada gesekan halus di sekitar kaki kananku. Lamat-lamat kubuka kelopak mataku. Samar-samar. Sedikit demi sedikit  menjadi jelas. Falaq yang menggoyang-goyangkan badanku. Seperti berkata-kata kepadaku tapi lirih, dan akhirnya terang.

“Iya pak, sampian mau pamit sekarang,” Ujarku sekenanya, setengah sadar.

“Saya tidak jadi pulang hari ini gus. Umi sampian gus!,” Kata Falaq terengah-engah.

Aku mengusap-usapkan mata, dan berkata “Kenapa laq dengan umi?”.

“Umi sampian gus, meninggal dunia”. Kata Falaq dengan panik, memecah keheningan.

(Bersambung ke: KIAI SOMAD 4 (Episode: Kematian Sang Kekasih 2)



[1]Meninggal dunia
[2] Kalimat: Innalillahi wa inna ilaihi roji’un
[3] ceramah
[4] Tidak ada bah
[5] Ada tapi bukan kekasih, namanya Solihah
[6] pembantu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar