Kamis, 24 Maret 2016

KIAI SOMAD 4 (Episode: Kematian Sang Kekasih 1)

Didownload dari google.comAl Qur’an sebuah mu’jizat dari Allah yang disampaikan melalui perantara Malaikat Jibril secara berangsur-angsur seperti aliran air di sungai, kepada Nabi Muhammad. Di dalamnya termuat hikmah dalam cerita-cerita yang menjadi mercusuar bagi hati manusia yang tersesat. Dari mulai cerita Nabi Adam sampai Lukmanul Hakim. Teramat menginspirasi dalam hidup. Ditambah ada pengaruh magis, bagi setiap pembacanya akan menenangkan hatinya. Gundah, gelisah, resah akan sirna seketika.

“Kiai Wahid Hasyim, ketika sakit bahkan meminta santrinya untuk membacakan Al-Qur’an. Saking ia beriman kepada kitab suci,” Jelasku, dalam obrolan singkat dengan Falaq yang tengah mengambil cuti selama sebulan untuk mutholaah dan memperdalam kemantabannya dalam beragama.

“Siapa Kiai Wahid itu Gus?, kedengarannya beliau seorang mu’min sejati,” Ujar Falaq, sembari menutup mushhaf-nya seraya mencium, “Shodaqollahul adzim,” ucap Falaq lirih seperti berbisik.
“Itu pengasuh pesantren tempat aku menimba ilmu. Tetapi beliau telah kapundut gusti pengeran[1].”

Spontanitas dan nyaris bersamaan aku dan Falaq mengucapkan kalimat istirja’[2], “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Semoga Allah menempatkannya di sisinya bersama para kekasih Allah.” Kuucapkan itu dengan bibir yang terkatup-katup. Sembari mengusap muka dengan kedua tangan.

 Falaq telah merasa kembali pada jatidirinya, sebagai santri. Keyakinannya dahulu sewaktu nyantri, bahwa pesantren ialah tempat pencetak kader muslim yang komitmen terhadap perjuangan visi Islam (keadilan dan persaudaraan) dan memiliki wawasan luas keagamaan kembali meletup. Ia sempat meragu, tutur Falaq dengan raut kuyup. Kupancing agar ia bercerita tentang keraguannya dan kehidupan di Jakarta, sia-sia, bibirnya tetap tersegel, rapat.

Dahulu, Falaq ialah santri teladan: Hampir dalam seminggu ia khatam sekali membaca Al Qur’an hingga nyaris hafal. Maka takkan akan ditemukan kesulitan yang berarti jika ia mau membaca lagi, akan jauh lebih fasih, tentunya. Falaq mengaku, tidak cukup hanya bisa membaca Al Qur’an, tetapi juga tahu maknanya dan mampu diamalkan dalam kehidupan. Ini yang tertinggal sewaktu Falaq nyantri.

“Saya tahu maknanya gus, tetapi pemaknaan saya belum tentu sama dengan makna sebenarnya. Karena ada ayat yang perlu ditakwil. Itu tidak cukup gus, dan kalau sudah tahu mestinya diamalkan gus.” Jelas Falaq. Aku termanggut-manggut mendengar penuturan Falaq. Ia orang yang tipikal tidak mau digurui. Wajar seorang direktur perusahaan. Biarlah, ternyata ia sadar sendiri. Dimana kekurangannya. Dalam hati aku tersenyum.

Aku menoleh ke arah jam dinding. Jarum jam menunjukan pukul 09:00 WIB. Sebentar, sadar jika belum sarapan. Aku teringat dengan masakan nasi. Kuajak Falaq sarapan, tapi ia menggeleng-gelengkan kepala. Ia jelaskan kalau sedang berpuasa. Aku tercengang mendengar penuturannya. Sekali lagi aku tersenyum. Ia ingin beri’tikaf di dalam musholla lebih lama lagi. Kuberlalu meninggalkannya.

***

Di rumah, abah masih setia menemani umi. Sudah hampir sebulan umi mengalami demam yang cukup tinggi. Sekujur tubuh umi panas. Hampir tidak bisa digerakan. Berbicara juga sedikit kesulitan. Melihat abah sudah keletihan menjaga umi. Aku meminta diri untuk bergiliran menjaga. Abah menolak, tapi ia meminta aku untuk mengambilkan segelas teh panas dan sepiring buah-buahan.

Aku pilih buah jambu yang kuambil di meja makan. Kupikir, buah jambu akan sangat mujarab bagi yang terkena sakit tipus. Demam umi masih tergolong pada tipus. Aku teringat saat badanku panas sekali. Pada setiap pagi umi membuatkan jus jambu untuk aku. Lalu, seketika badanku berangsur-angsur membaik. Suhu tubuhku normal.

Apa lebih baik jika aku blender saja ya buah jambunya, kataku dalam hati. Tidak berselang lama, segelas teh dan segelas jus jambu terhidang di meja samping umi berbaring. Umi menoleh ke arahku. Ia melihat aku menghidangkan jus untuknya. Senyumnya menyeringai. Aku balas dengan senyuman. Lalu kukecup dahinya. Kudengar dari bibirnya yang terkatup-katup, berujar, “Terimakasih nak”.

 Masih bersama mereka berdua. Melihat dua insan yang saling menyanyangi, satu sama lain. Abah yang tetap sabar dan setia merawat umi, dan umi yang berjuang sekuat tenaga agar kembali seperti semula lagi. Aku terperangah melihat itu. Ketika di luar sana, para artis dan keluarga kelas menengah dengan mudah sekali memutus ikatan pernikahan lantaran masalah-masalah sepele yang dapat dicarikan solusinya. Cinta yang sejati, cinta yang memberi. Dalam hati aku tersenyum.

Liburan sekolah sebenarnya telah usai. Semestinya aku kembali ke Jombang, dan melanjutkan proses ngaji di Pesantren Tebuireng. Beberapa kali telpon dari pengurus menjurus ke rumah, dan menanyakan, kapan tibanya aku ke Jombang. Aku belum dapat memastikan jawaban. Aku tidak tega meninggalkan umi. Tetapi aku yakinkan setelah keadaan umi membaik. Aku akan kembali. “Semoga umi sampian segera sembuh, amin”. Doa pengurus, terdengar jauh di sana.

“Telpon dari siapa nak?,” tanya abah

Kudekatkan mulutku ke liang telinga abah, seolah berbisik, “Dari pengurus lagi bah”. Nyaris suaraku tak terdengar. Takut mengganggu istirahat umi. Apalagi jika umi tahu kalau ada orang yang direpotkan karenanya, umi akan bertambah memburuk kondisinya.

Abah mengangguk-anggukan kepalanya. Seraya menukas, “Lalu kapan kamu mau balik ke pondok?”. Itu pertanyaan abah untuk kesekian kalinya. Tetapi aku jawab dengan diam dan tersenyum saja. Aku tergolong orang yang keras kepala untuk masalah ini, tetapi untuk beberapa hal aku mudah dibelokan dan diarahkan oleh abah. Jika aku merasa salah. Inilah abah yang sangat menghargai hak privilise-ku.

Aku teringat dengan tausyiah[3] Kiai Ishaq Latif. Suatu ketika ia berujar, bahwa “Bagi Ali bin Abu Tholib, ada tiga fase dalam mendidik anak. Fase pertama, jadikan anak sebagai raja. Ini berlaku ketika seorang anak belum aqil balight. Fase kedua, penjarakan anak itu. Artinya, ketika seorang anak sudah cukup balight dan sudah mengetahui kesenangan, maka kekanglah seorang anak agar ia bisa mengendalikan hawa nafsunya. Fase ketiga, jadikan seorang anak sebagai sahabat”.

Kemudian aku membayangkan dalam kehidupan berkeluarga. Tanpa aku sadari, abah dan umi telah menerapkan tiga fase pendidikan anak menurut Ali bin Abu Tholib. Kini, mereka tak lagi melarang-larang anaknya untuk bergaul, berfikir, dan bertindak apa saja. Mereka telah mempercayai aku. Di mata mereka, aku adalah sahabat.

***

Pada suatu malam. Gelap gulita. Semua lampu padam. Badai menggelegar. Curah hujan sangat tinggi hingga mematikan seluruh listrik. Tidak ada kebisingan apapun kecuali suara rintikan hujan. Aku terbangun dari tidur. Menoleh ke kiri, ke kanan. Falaq sudah tidur begitu pulasnya. Dalam hati aku tersenyum, melihatnya sudah kembali seperti semula. Esok hari dia sudah harus kembali ke Jakarta melanjutkan pekerjaannya.  

Terperanjat dari bilik kamar. Aku menelusuri sudut-sudut rumah: mencari lilin. Keadaan yang gelap seperti ini, tidak baik jika tak ada cahaya sama sekali. Akibatnya terjatuh atau tersandung bagi pejalan. Aha!, kutemukan sepotong lilin dalam almari dapur. Aku letakan beberapa lilin yang nyala itu di beberapa titik rumah: dapur, kamar mandi, kamar, ruang tengah, dan ruang tamu.  

Sesampainya di ruang tamu, aku melihat sosok lelaki paruh baya di teras. Ia terduduk di kursi goyang sambil memegang putung rokok. Dari cara menghisap rokok dan duduknya tidaklah asing bagiku. Aku mengusap-usap mataku, barangkali hanya bayangan yang kulihat. Ketika muncul kilatan petir, jelas terlihat, bahwa itu abah. Apa yang dilakukannya malam-malam begini.

Kubawakan jaket, selimut dan kaus kaki, karena abah hanya mengenakan kaus oblong dan sarung. Sempat kaget abah ketika menyadari kedatnganku. Aku haturkan beberapa potong kain agar dikenakannya. Abah mempersilahkan aku duduk di sampingnya. Bersama dengannya, rokok, dan secangkir kopi menikmati hujan yang konon kerap mendatangkan seorang tamu bernama rindu. 

“Abah sedang memikirkan apa malam-malam begini?,” kataku memulai obrolan.

“Hanya memikirkan umimu nak”.

“Kenapa dengan umi bah?, kata dokter umi akan segera sembuh”.

“Bukan itu nak. Ada hal lain. Sudahlah. Tapi sekarang aku terkenang masa-masa indah bersama umi, dahulu”. Kata abah dengan nada yang sendu, tapi sebentar berubah ceria. Ada suatu rahasia yang disembunyikan di balik lipatan kerut kulitnya dariku.

Aku menghargai jika itu rahasia yang ingin disimpan abah. Tapi abah sempat melontarkan kata mengingat kenangan indah bersama umi. Aku tertawa dalam hati, bahwa di usia senja seperti abah ternyata masih bergelut dengan romantisme. Seperti anak remaja yang gandrung akan romantisme.  Barangkali bukan sekedar sensasi tapi abah ingin melipur laranya sendiri dengan itu. Dari kenangan disanalah ada muara harapan.

“Kamu sudah tak anggap seperti sahabatku nak. Sekarang kamu sudah dewasa dan aqil baligh. Sudah tahu tentang cinta. Boleh abah tanya sesuatu?”. Tanya abah dengan ceria dan agak sedikit ketus.

“Boleh bah”.

“Kamu punya kekasih nak?”.

Aku terkejut mendengarnya. Baru sekali ini abah menanyakan hal sensitif, sesensitif perasaan. Sebelumnya aku menganggap abah, adalah sosok yang kaku tapi berwibawa dan selalu menyerukan jargon agama. Maka keistimewaan bagiku mendapat kesempatan langka ini, karena tidak setiap anak seorang kiai akan ditanyakan hal ini oleh bapaknya.

Sebenarnya tidak ada sosok kekasih seperti yang ditanyakan abah. Tetapi sosok wanita yang aku sukai dan menginspirasi aku, itu ada. Lalu kujawab pertanyaan abah dengan agak terbata-bata dan tersipu malu, dan berujar, “Mboten wonten bah[4],” Jawabku, tersipu malu.

“Mboten wonten tapi ono kan?,” Gurau abah
“Enten bah tapi sanes kekasih, asmine Solihah[5]”.

“Siapa itu Solihah? Kenal dimana kamu nak”.

“Solihah itu adik kelas saya bah di SMA. Hmm saya kenal sewaktu acara pondok. Dia menjadi salah seorang penabuh rebbana bah.” Tanyaku. Sebentar, raut abah menjadi memerah.

“Pasti orangnya cantik dan agak mirip-mirip dengan umi. Ya kan?,” ujar abah dengan ketus.
Kini abah telah menjebol selubung dan berada di sekitar zona sensitifku. Abah tidak hanya menjadi bapak bagi jasadku tapi juga bapak bagi jiwaku, musrsyid sejati!. Bagaimana aku menjawabnya, maka kurespon sekenanya, “Iya bah...”.

“Abah sendiri bagaimana bisa jatuh cinta dengan umi,” Pertanyaanku sepertinya menjadi smash silang yang aku hempaskan setelah mendapat bola liar dari abah.

Abah tergopoh-gopoh untuk menjawabnya. Seperti seorang yang mendapat tekanan smash dalam badminton dan abah tidak menyadari pertanyaan balik akan dilontarkan putranya. Seperti pemandangan biasa, dengan bijak abah berkata, “Abah bertemu umi di suatu pengajian nak”.

“Terus bagaimana abah bisa jatuh cinta dengan umi?”. Tanyaku, terus menekan. Penuh penasaran. Sebab disitulah awal dari segalanya: bahagia-sedih-kecewa-susah-senang, sampai lahirnya aku: Ghofar Abdul Ghani.

“Umimu itu cantiknya tidak hanya di luarnya nak, tapi juga di dalamnya. Itu yang membuat aku menaruh hati kepada umi. Sulit mencari padanan wanita seperti itu”. Jawab abah sembari menunjuk dada sebelah kiri, artinya: hati.

Suara-suara halilintar yang menggelar dan rintikan deras hujan tidak menjadi tabir bagi kami dalam mengobrol. Seakan suasana yang sebelumnya mencekam, telah tersulap menjadi taman indah yang diisi: tawa, canda, dan kebahagiaan. Rokok pun tak terasa telah berubah abu dan kopi menjadi asat, tapi tak kami hiraukan. Obrolan mengalir terus, membanjiri malam.

“Bagaimana abah bisa menikah dengan umi?”. Jika abah tidak dipancing dan ditanya, maka abah tetap membisu dan bicara seperlunya. Walau tadi abah sempat bergurau tapi sisi kekakuannya masih dominan.

“Kau tahu sendiri nak, abah seorang anak petani biasa. Sedangkan umimu adalah seorang anak seorang kiai. Awalnya abah berfikiran tidak mungkin untuk menikahi seorang ning dari putri seorang kiai”.

***
22 tahun lalu

Somad, sudah mendengar bahwa Umi Kulsum, putra Kiai Slamet akan segera bertunangan dengan putra Kiai Zainuri dari Malang. Sebab itu, seharian Somad tidak bisa tidur dengan nyenyak dan memiliki nafsu makan seperti biasanya. Somad selalu membayangkan sosok Umi Kulsum yang cantik jelita. Beberapa kali bayangan itu ditepisnya dengan berdzikir dan berulangkali berucap istighfar. Belum mampu juga menepis bayangan dan ketidakrelaannya jika Umi Kulsum dipersunting pria lain.

Ketika hari H pertunangan beredar kabar tak sedap. Bahwa Kiai Zainuri dari Malang membatalkan pertunangannya dengan putri Kiai Slamet. Desas-desus kabar itu sampai ke telinga Somad. Sedikit lara hati Somad terobati, tetapi belum sembuh total.

Sehari-hari aktivitas Somad di pesantren menjadi seorang khodam[6]. Maka ia memanfaatkan posisi itu untuk menanyakan kebenaran kabar itu dari keluarga ndalem sendiri.

Setelah didalami oleh Somad, ternyata terbukti pertunangan itu batal. Hati Somad melega. Jeratan-jeratan tali berduri di sekitar hatinya mulai mengelupas, satu demi satu. Tetapi ada sesuatu yang mengganjal fikiran Somad: apa penyebab dibatalkannya pertunangan itu?. Sekilas Somad ingin berperasangka baik. Tetapi datang kabar dari keluarga ndalem. Bahwa selepas batalnya pertunangan, Kiai Slamet sering resah sampai kesehatannya menurun. Membuat perasangka Somad berkeliaran kemana-mana.

Sampai suatu hari yang masih terbilang pagi. Kiai Slamet memanggil Somad menghadap ke ndalem kesepuhan. Entah ada angin apa sampai Kiai Slamet ingin mengajak bicara dengan Somad secara tertutup.

“Somad, kamu sudah dengar kabar pertunangan putriku?,” Tanya Kiai Slamet dengan wibawa, tapi masih tampak pucat akibat tekanan yang ia alami.

“Saya sudah mendengar, kiai,” Jawab Somad

“Pertunangan putriku dengan Kiai Zainuri batal. Aku sendiri tidak tahu kalau terjadi seperti ini. Tak kira akan berjalan biasa-biasa saja. Sebab aku sendiri tidak menduga, kalau yang akan membatalkan pertunangan itu putriku sendiri. Aku memarahinya, karena tidak berterus terang sejak awal. Selama ini ia hanya diam dan menjawab enggeh. Ternyata di balik enggeh-nya tersimpan penolakan. Mungkin ini salahku, karena terlalu mengatur-atur putriku sampai tidak mau terbuka. Setiap aku tanyai kenapa menolak pertunangan, ia enggan menjawab. Aku malu di hadapan Kiai Zainuri. Reputasiku hancur.”

“Sampai aku mengetahui rahasia yang disimpan putriku dari sahabat karibnya di pondok. Kata sahabatnya, Umi sangat menyukai Ahmad Somad lebih dari apapun. Ternyata yang dimaksud Somad yang ada di depanku. Sejujurnya, aku tidak melarang putriku menyukai siapapun, dan ternyata yang disukainya adalah kamu. Aku tidak menyalahkan pilihannya jatuh kepada kamu. Malah aku bangga dengan pilihan putriku, sebab ia tak salah. Kamu orangnya cekatan, teguh pada pendirian, mudah bergaul, ikhlas”.

***

Kenang Kiai Somad,

Aku terbengong mendengar cerita abah, sampai tidak sadar telah habis di ujung, “Ternyata begitu kisah abah sampai mempersunting umi, indah”.

“Iya nak, umi segalanya bagiku. Aku sangat berharap umi segera pulih. Aku benar-benar beharap”. Kata  abah sambil meremas gagang kursi goyangnya dengan kuat sampai urat-uratnya terlihat.
Tak berselang lama, abah kembali bertanya, “Bagaimana keadaan si Falaq,” tanya abah. Aku balas dengan senyum ceria.

“Alhamdulillah jika telah semakin membaik”.

***

Badanku terasa digoyang-goyang. Ada gesekan halus di sekitar kaki kananku. Lamat-lamat kubuka kelopak mataku. Samar-samar. Sedikit demi sedikit  menjadi jelas. Falaq yang menggoyang-goyangkan badanku. Seperti berkata-kata kepadaku tapi lirih, dan akhirnya terang.

“Iya pak, sampian mau pamit sekarang,” Ujarku sekenanya, setengah sadar.

“Saya tidak jadi pulang hari ini gus. Umi sampian gus!,” Kata Falaq terengah-engah.

Aku mengusap-usapkan mata, dan berkata “Kenapa laq dengan umi?”.

“Umi sampian gus, meninggal dunia”. Kata Falaq dengan panik, memecah keheningan.

(Bersambung ke: KIAI SOMAD 4 (Episode: Kematian Sang Kekasih 2)



[1]Meninggal dunia
[2] Kalimat: Innalillahi wa inna ilaihi roji’un
[3] ceramah
[4] Tidak ada bah
[5] Ada tapi bukan kekasih, namanya Solihah
[6] pembantu

Rabu, 23 Maret 2016

KIAI SOMAD 3 (Episode: Alumni 2)

Al Mufti Bhutasvara - Semilir angin berhembus. Menggerak-gerakan dedaunan dan rumput, membentuk satu koreografi. Alam sedang berdansa. Matahari berada di ufuk barat. Allah memang pelukis yang agung. Aku menikmati pemandangan itu sambil berdzikir lirih, subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illa Allah wa Allahu akbar. Kusyukuri sejengkal nafas yang masih berhembus, selangkah kaki yang penuh harapan, tangan yang tetap kuat memegang keyakinan. Lillahi rabbi.

Selepas pengajian, belum banyak santri yang hengkang dari sana. Mereka masih melanjutkan ke sesi pendalaman. Ya. Mereka berdiskusi di lingkaran mereka masing-masing, membuat halaqah. Memperbincangkan materi pengajian Kiai Somad, tadi.

Mengambil kesimpulan dan hikmah lalu kemudian memetik manfaat dari cerita kiai, agar kehidupan mereka jauh lebih baik dari hari ke hari. Islam mengajarkan agar selalu muhasabah[1] dan musyawarah, untuk mengevaluasi amal yang lalu. Bukan mendiamkan begitu saja hal buruk, walau kecil, nantinya akan menjadi besar.

“Semoga kita tidak menjadi pribadi yang dikisahkan kiai ya,” ucap salah seorang santri.
“Amin”. Sahut para santri nyaris bersamaan.

Sebentar terdengar sayup-sayup adzan dari musholla. Membangunkan aku dari lamuman: memandang keindahan alam hari ini. Suara Zahid yang merdu membuat hatiku syahdu. Lekas, santri yang masih berada di pendopo pengajian segera mengambil air wudhu.

Tidak lama kemudian, terdengar deru suara mesin. Di sini jarang sekali kendaraan roda empat, kebanyakan disini kendaraan roda dua. Aku bisa menilai itu kalau mobil, karena suaranya berbeda sekali dengan biasanya. Barangkali tamu. Sebab tamu biasanya datang dari mana-mana, bahkan dari luar pulau. Kedatangan mereka sekedar meminta konsultasi, doa, dan amalan kepada abah. Nama abah alias Kiai Somad memang sudah masyhur terdengar, tetapi hanya kalangan tertentu. Tokoh nasional, pengusaha besar, wali santri, atau alumni.

Aku keluar, menuju teras rumah, berharap menemukan sumber suara. Sebuah mobil sport Toyota Fortuner putih dengan plat nomor polisi B, masuk ke area pesantren. Aku menduga-duga, kalau itu wali santri yang ingin menjenguk.

Dari liang jendela mobil terlihat seorang pria berkacamata hitam. Ia keluar dari mobil seorang diri. Pakainnya terbilang necis. Aksesoris dari mulai baju, celana, sepatu, semuanya bermerk. Tentu dapat ditaksir harganya, jelas masyarakat pesantren tidak mampu membelinya. Atau jika mampu, tapi enggan untuk membeli. Sepertinya pria itu datang dari kota.

Pria itu berjalan menuju rumah. Sesaat ia berhenti. Mendengar adzan, Ia berputar arah menuju ke musholla. Aku membuntuti dari belakang. Mengamati gerak-geriknya. Karena orang sejenis ini, teramat asing di lingkungan pesantren.

Selepas sholat, aku menghambur ke pria asing itu. Aku bertanya kepada dia, dari mana asalnya?, siapa namanya?, keperluannya ke pesantren apa?. Ia memperkenalkan namanya sebagai Qalaf. Seorang direktur perusahaan di Jakarta yang kaya raya. Ia ingin bertemu dengan Kiai Somad, abahku.

“Kamu sendiri, siapa namamu nak?” Tanyanya, membalas.

“Namaku Ghofar pak,” Aku menjawab sekenanya.

“Oh, Gus Ghofar. Kamu sudah besar ya gus?,” Kata Qalaf dengan mulut membentuk huruf o, seolah dia sudah mengenalku sejak lama.

“Kok bapak sudah mengenal saya, bapak siapa sih sebenarnya?,” Tanyaku penasaran.

“Aku dulu sempat nyantri disini gus. Dulu, Gus Ghofar masih segini,” Kata Qalaf sambil menunjuk lututnya.

“Gus Ghofar sekarang kelas berapa?,” Tanya Qalaf.

“Aku sekarang kelas 3 SMA pak”.

“Wah, pantesan sudah besar sekali sekarang ya. Oh ya gus, bisa minta tolong saya diantarkan menemui abah nyai?,” ujar Qalaf sambil tersenyum.

“Tentu, monggo”. Aku berjalan di depan Qalaf. Rasa penasaranku kini sudah terjawab. Tapi masih ada sedikit yang membelit, untuk apa Qalaf bertemu dengan abah?.

***

Setelah aku sajikan teh hangat dan beberapa toples jajanan di meja tamu. Di balik tirai, aku mengintip, menguping pembicaraan mereka berdua. Kelihatannya begitu privat. Usia remaja memang membuatku serba penasaran, serba ingin tahu segala hal. Walau kadang berulah menjadi kenakalan. Aku tersenyum dalam hati.

Qalaf melepaskan kacamatanya. Sebelum berbicara panjang lebar, Qalaf memantik pembicaraan ke hal-hal sederhana: perkembangan pesantren, pengajian, masyarakat, sawah, ternak, dll. Hal-hal biasa yang sudah dijalani santri biasanya. Abah menjawab dengan santun dan ramah, ia memperlakukan tamunya sangat istimewa. Apalagi setelah tahu ia berasal dari Jakarta.

Begitupun, abah menanyakan balik tentang hal-hal kecil yang dilakukan setalah menjadi alumni dan kemudian sekarang sedang mengerjakan sesuatu apa. Sejenis obrolan yang biasa diantara dua orang yang lama sekali tidak bertemu.

Kini, Qalaf memulai arah pembicaraan serius,
“Kiai, apa benar tempo hari panjenengan[2] pergi ke Jakarta?,” Tanya serius Qalaf separuh terengah.

“Iya, nak” Kata Kiai Somad sambil menyeruput kopinya yang sudah tergenang di cawik.

“Benar berarti..” Bisik Qalaf dalam hati.

“Kiai mengunjungi Pondok Indah?,” Tanya Qalaf memburu kepastian, sebab kalau hanya di Jakarta, bukannya Jakarta itu luas. Bisa jadi dimana-mana.

“Iya nak. Mari nak, rokoknya dihisap, jangan sungkan-sungkan ah, wong pondoke dewe[3]. Ini tembakaunya kami sendiri yang mengolah,” Ujar Kiai Somad sambil menyodorkan sebungkus rokok. Garis kerutan di mukanya menjadi bias dengan senyuman.

Mboten[4], ngapunten saya tidak merokok. Pekerjaan saya melarang pegawainya kalau merokok,” Qalaf berujar sambil mengangkat kedua belah tangannya ke muka. Bertahun-tahun di Jakarta, Qalaf masih lumayan menguasai dialek Jawa.

“Nah, tidak salah lagi,” Gumamnya dalam hati. Keyakinan Qalaf sudah mantab dan segalanmya menjadi terang-benerang.

“Kiai, saya Falaq” Kata Falaq setengah terengah-engah, setengah lesu.

Aku di balik tirai yang memisahkan ruang tamu dan ruang santai keluarga. Mendengar itu. Jantungku berdetak kencang, mataku mendelik, mendengar pengakuan dari Qalaf. Ternyata Qalaf bukan nama aslinya, tetapi nama samaran. Jika Qalaf dibaca terbalik maka akan menjadi Falaq!.

Ini dia yang namanya Falaq itu. Tiba-tiba, hatiku panas. Tanganku mengepal keras. Orang ini tho yang tempo hari mengusir abah, kataku, geram dalam hati. Serasa ingin mengamuk di situ. 
Astagfirullah, ucapku lirih. Meredam amarah.

“Iya, saya sudah tahu nak,” Kiai Somad menangkis pengakuan Falaq dengan gelagat yang tenang yang wajar-wajar saja.

“Saya mohon maaf kiai, sungguh saya tidak tahu kalau orang tua itu panjenengan[5],” Air muka Falaq menjadi kuyup. Harga diri dan prestasinya selama ini menjadi rontok. Maka tak akan ada nilainya lagi: kelimpahan harta, kedudukan, dan pengaruh, bila berbakti kepada guru pun tak mampu.

Kiai Somad berdehem sejenak, ia sangat berhati-hati dalam berucap. Ia tidak ingin Falaq patah asa tetapi juga ingin menyadarkan dirinya. Setelah mengisap rokoknya dan mengutis abu rokok di liang asbak, berujar, “Tak apa nak. Sejujurnya aku kecewa terhadap kamu. Padahal kamu dulu santri kebanggaanku. Entah apa yang membuatmu berubah sedemikian rupa. Atau kamu mudah tergilas oleh arus duniawi nak?. Janganlah berubah-ubah. Kamu takkan mendapat manfaat atas jerih payah selama ini. Poso senen-kemismu, puasa Daud, sholat tahajjud, khataman Qur’an, diba’iyyah. Itu amalan yang kau tabung nak.”

Lamat-lamat, aku mengamati dari lubang tirai. Mata Falaq berkaca-kaca. Sebentar, tangisnya meledak. Falaq tidak mampu menyembunyikan kesedihan dan penyesalannya selama ini. Betapa Kiai Somad, dahulu, sewaktu nyantri, telah menginspirasi Falaq. Dari ketekunan belajar, keilmuan, kuatnya ibadah, ikhlas dalam beramal, akhlaq Kiai Somad telah menjadi motivasi bagi Falaq. Tetapi Ada beberapa penyebab, yang Falaq sendiri, entah, ia enggan menjelas-jelaskan. Itu aib, itu dosa, Kiai Somad akan semakin kecewa. Falaq tiba-tiba menggeleng-gelengkan kepalanya. Tarikan nafasnya menjadi berat.

“K..i..a..i...” Ujar Falaq dengan terbata-bata.

Jidat Kiai Somad berkerut, dua alisnya saling merapat. Ada sesuatu yang ingin disampaikan Falaq. Tapi Falaq masih menahan, memendam. Dengan santai, dan ingin menghibur lara Falaq, berkata, “Nak, tidak apa-apa. Setiap manusia punya sisi hitamnya. Syukur kamu ingin bertaubat.”
Engge nyai,” kata Falaq dengan nada sendu.

Kiai Somad merenggangkan tangan, isyarat untuk berpeluk. Lalu berujar, “Sini nak”.

Secepat kilat, Falaq tidak menanggapi isyarat Kiai Somad, tetapi mengambil posisi sungkem. Kedua tangannya memegang erat tangan kiai. Ia duduk seperti tasyahud akhir. Punggungnya membungkuk. Disanalah Falaq menemukan kehangatan, yang begitu lamanya sirna dari hingar-bingar kehidupannya.

Aku mengintip fenomena itu. Walau tidak jelas, tapi aku turut larut dalam suasana. Kuusap kedua belah mataku. Basah, kurasakan. Tak kusadari aku menangis. Menyaksikan, sebuah drama kehidupan manusia. Ketika mereka pergi, nyaris hilang dan akhirnya kembali, pulang. Inilah arti, semuanya berawal dari rumah. Tempat dibesarkan, diangkat, diajar dan dididik. Tempat yang penuh arti.

Tanganku mengadah, seraya bermunajat kepada Sang Maha Kuasa. Limpahkan hidayah dan taufiq-Mu agar tetap berada dalam jalan yang Engkau ridloi.

Surabaya, 23 Maret 2016



[1] Introspeksi diri
[2] Kamu
[3] Pondoknya sendiri
[4] Tidak
[5] Anda

Selasa, 22 Maret 2016

KIAI SOMAD 3 (Episode: Alumni 1)

Al Mufti Bhutasvara - Kehidupan pesantren itu sederhana, yang penting apa-apa ada, apa-apa cukup. Apalagi Pesantrennya Kiai Somad yang jauh dari hiruk pikuk gemerlapnya dunia luar. Disini tidak akan ditemukan masyarakat pesantren yang mengenakan aksesoris mewah. Masyarakat pesantren: kiai, keluarga ndalem, santri dan masyarakat sekitar, tidaklah berkecil hati atau sekedar memendam rasa iri kepada mereka yang berpunya: mobil, rumah mewah, harta berlimpah, perhiasan, pakaian ber-merk, mereka tetap bahagia, senantiasa bersahaja. Kunci dan kekuatan tersebut terletak dari akhlaq.

Tidak adanya rasa ke-iri-an itu bukan lantaran masyarakat pesantren kerap berhadapan dengan orang berpunya, melainkan pesantren berada di daerah plosok, dan sangat jarang ditemukan orang yang menggunakan handphone. Jika pun ada itu sangat terbatas, hanya kalangan tertentu: keluarga ndalem beserta pengurus pesantren. Itu pun tidak semuanya keluarga pesantren dan pengurus memiliki.

Barangkali, itulah Pesantren Nurul Yaqin belum mendapat tantangan untuk menguji kesederhanaan. Ibarat seorang muslim taqwa, takkan teruji ketaqwaannya selama belum mendapat godaan. Hal itu terbantah ketika Kiai Somad pagi itu mengeluarkan kata-kata mutiara yang menyihir hati santri.

“Disini kalian semuanya dididik untuk menjadi muslim yang sederhana. Seperti Nabi Muhammad sholallahu alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita. Walau nabi memiliki kekayaan, tetapi ketika nabi meninggal tidak banyak harta yang ditinggalkan. Hati-hati ya santriku semuanya, kalian aku cintai, jangan sekali-kali menghambur-hamburkan harta dan gila dunia. Bukan harta yang membuatmu bahagia, tapi imanmu.”

Cuaca sedang kemarau. Suhu derajat begitu tinggi. Suasana menjadi panas sekali. Tidak jarang santri yang berkeringat sampai sekujur punggung, ubun-ubun, pelipis mereka terbasahi keringat. Serasa mandi pada saat itu. Tetapi pengajian yang dibawa Kiai Somad membuat santri terhalusinasi. Mereka tidak lagi menghiraukan teriknya matahari yang membakar kulit mereka. Kalau gosong, ya wis. Seakan-akan ada hembusan angin gaib yang menyelubungi jiwa mereka. Sejuk.

Beberapa saat kemudian, setelah Kiai meletakan cangkir kopinya. Satu hembusan rokok yang terjepit diantara jari telunjuk dan tengah, lalu Kiai melanjutkan pengajian.

“Santri-santriku semuanya, alumni-alumni Pesantren Nurul Yaqin itu di masyarakat, mereka mampu mempertahankan kesederhanaannya. Walau ada beberapa santri yang kaya, mereka tetap sederhana. Mereka tetap dicintai masyarakatnya, mereka tetap ditokohkan di lingkungannya. Tak banyak alumni yang masuk jabatan politik di pemerintahan atau perusahaan. Karena masyarakat butuh akhlaq.”

Mendengar ucapan Kiai Somad itu, beberapa santri muda merasa bercahaya hatinya, percaya diri jiwanya. Jauh dari mental inlander: yaitu jiwa yang selalu kurang percaya diri, minder, lemah ketika dihadapkan dengan lingkungan lain yang dipandang lebih beradap dan maju. Pesantren, semuanya dibekali, ilmu, akhlaq terutama mental. Mereka siap hidup di kelas sosial mana saja, di lingkungan apa saja, bukan untuk merajai dan menguasai tapi untuk menolong dan mencerahkan. Seperti pesan Kiai Somad, “urip iku urup le”[1]

Mereka dibesarkan dari gubug pesantren. Setiap hari sudah terlatih urip soro[2]: masak, mencuci pakaian, mandi semua dilakukan sendiri. Jauh berbeda dengan anak-anak kelas menengah yang tidak mondok, mereka semua serba dilayani. Setiap saat mereka dilatih bersabar dari sekedar sabar mengantri jeding[3] sampai bersabar untuk menahan amarah ketika diledek temannya.

Kiai Somad teramat sayang dengan santrinya. Ia pun tidak rela bila santrinya kelak: ketika telah lulus dari pesantren di masyarakat tidak mendapat pekerjaan atau barangkali merasa kurang percaya diri bilamana ijazah pesantren tidak berlaku di perusahaan atau lembaga pemerintahan.

“Santriku, jangan berkecil hati. Rizki Allah lebih besar dari sekedar rupiah. Tanamkan dalam jiwamu untuk tolong-menolong, itu dasar dari berdagang (wirasusaha). Jangan bertujuan mencari harta semata, tapi niatkanlah ‘membantu’ masyarakat agar terbebas dari jurang kemiskinannya, maka pertolongan Allah akan dekat padamu. Mencari harta takkan ada ujungnya dan kalian akan terperosok pada jurang kekufuran. Menolong akan membuat hatimu tenang, jiwamu bahagia dan syukurmu makin berlipat-lipat.”

Setiap hari selasa, Kiai Somad mengajak santri-santri pergi ke sawah dan peternakan. Bukan sekedar untuk dilihat saja, melainkan santri diajak untuk menanam: padi, jagung, kedelai, melon, pisang, dan merawat hewan: sapi, kerbau, ayam, sapi dan kambing. Beberapa santri sempat mengeluh kepada Kiai Somad, jijik dan takut, barangkali badan mereka kotor, barangkali di sawah ada ular.

Tangan halus dan ucapan Kiai Somad yang mampu menyihir itu. “Jika kalian jijik dengan kotoran maka hati kalian juga sama. Sama-sama kotor. Jika kalian takut, maka imanmu dipertanyakan”. Pesantren Nurul Yaqin memang belum mengetahui kecanggihan teknologi dan ilmu pengetahuan umum. Lebih banyak mengandalkan pada keyakinan (optimis) sebab tindakan yang dilakukan atas dasar yakin itu lebih ngeh daripada tindakan yang benar tapi penuh keraguan.

Setiap hasil penjualan susu sapi, hewan ternak dan hasil tanaman. Kiai Somad senantiasa membagi hasil itu secara merata kepada santri-santrinya. Ketika selesai dibagi, mereka semuanya mayoran[4]. Tidak ditemukan di pesantren ini, Kiai dan santri memiliki jarak. Sebanding dengan iman ketuhanan Kiai yang tinggi, iman sosial Kiai pun juga tinggi. Itulah, sebab santri begitu terinspirasi.

Pengajian bagi itu begitu hikmat. Bayangan santri melalang buana kemana-mana. Dari kenangan mereka selama di pesantren, seperti susahnya mengantri jeding, melawan rasa jijiknya pada hewan ternak, sampai impian-impian mereka kelak ketika lulus dari pesantren. Dari yang ingin berdagang, membuat majlis ta’lim: TPQ dan madrasah, sampai mendirikan pesantren.

Pagi itu, suasana alam begitu syahdu. Seakan pengajian direstui oleh seluruh alam. Bagi yang memiliki mata batin, pasti akan mendengar seperti suara lebah, kemruyuk, dan kalau didengar lamat-lamat. Suara itu ternyata ucapan kalimat tahmid, tasbih dan tahlil. Mereka para kekasih Allah dan orang-orang pilihan-Nya saja yang mempunyai mata batin.

 Tiba-tiba, air muka Kiai Somad menjadi kecut. Cahaya yang terpantul dari wajah mendadak buram. Seperti gerhana matahari. Santri menangkap fenomena itu. Mereka saling berbisik-bisik sambil ditutupi pergerakan mulutnya dari arah pandangan kiai. Tak lama, kiai angkat suara
“Dahulu ada seorang santri yang ulet dan cerdas. Setiap sholat berjamaah ia selalu berada di shaf pertama. Apalagi dalam pelajaran, setiap malam ia selalu muthola’ah dan mendaras bab yang akan diajarkan. Dalam pergaulan ia selalu mudah bersosial. Karena ulet, cerdas, dan supelnya pernah aku angkat menjadi keluarga ndalem”.

Sekilas Kiai Somad menjeda pengajiannya. Ada salah seorang santri yang menyahuti cerita Kiai Somad,

“Kiai, nuwun sewu, lalu sekarang bagaiman keadaan santri itu? Sepertinya dia jadi orang yang sukses engge?” sahut seorang santri muda, bernama Ali.

“Tidak” Kiai Somad menjawab singkat. Seakan ada perasaan dan emosi yang tersimpan dari kiai atau seperti ada borok yang ingin ditutupi. Entah, hanya kiai yang tahu. Ada keraguan untuk meneruskan pertanyaan, tapi rasa penasaran Ali mengalahkan segalanya.

“Tidak bagaimana kiai? Tidak sukses engge,” Ali mengulang jawaban dari Kiai Somad, berharap asumsinya dapat diperkuat.

“Ia tidak sukses, menurutku,” Jawaban Kiai Somad, semakin membuat tanda tanya. Tidak hanya Ali yang terpantik penasaran. Tapi santri yang lebih senior juga memendam. Berarti kesuksesan seperti apa yang dimaksud kiai? Pertanyaan kecil itu memaksa untuk diletuskan oleh bibir mereka, tapi tidak, karena ta’dzim[5] pada kiai, hanya bersarang di hati.

“Jadi sebenarnya dia jadi orang sukses, kiai?,” Kembali pertanyaan dilempar kepada Kiai Somad, oleh Hamid, santri seperantara Ali. Jiwa mereka masih labil, jiwa mereka masih meledak-ledak, belum mampu dikontrol dengan bijak.

Kiai Somad mengernyitkan dahinya, lalu memandang ke langit-langit. Matanya melirik ke ujung kanan atas. Seperti mengingat-ingat sesuatu.

 ‘Di Ibu Kota. Matahari mencapai ketinggiannya. Tepat di atas ubun-ubun. Saking teriknya matahari, membuat pandangan terfatamorgana, dari kejauhan terlihat bergelombang. Panasnya kota Jakarta membakar kulit pejalan kaki dan pekerja kelas bawah: pedagang asongan, sopir dan kernet Kopaja, pengemis, pengamen. Tak akan ditemui, Jakarta yang dipenuhi rimbunan pohon, kecuali ditempat-tempat kelas atas, seperti kawasan Menteng’.

‘Cuaca dengan temperatur suhu yang ekstrim ini membuat seorang pria tua tak terbiasa. Sebab di daerahnya, masih banyak ditemukan hijau-hujauan: pohon dan tanaman terjuntai sampai ke langit-langit, tanah begitu subur, kadar oksigenpun berlimpah-limpah. Sejuk terasa’.

‘Berkali-kali pria tua itu mengibaskan topi bundarnya. Tapi panas tak kunjung surut, hawa sejuk tak kunjung tiba. Apalagi di Kopaja, penuh sesak penumpang, di tambah hiruk-pikuk keramaian: suara musik dangdut, nyanyian pengamen yang tak begitu merdu. Suasana menjadi tak menentu. Tapi semua keluh itu ditampiknya, sebab di hatinya tersimpan sebuah harapan. Di tangannya menggenggam sepucuk kertas bertuliskan alamat: sebuah alamat Perumahan Pondok Indah, Blok D/V, Jakarta Selatan’. Disinalah harapan pria tua itu, menemui seseorang, kebanggaannya.

“Bagaimana keadaannya Falaq?” bisik pria tua dalam hati.

‘Sampailah di alamat tujuan. Terlihat rumah mewah yang bertingkat tiga lantai. Lantainya menggunakan keramik marmer yang harganya mahal. Di garasi, terbungkung sebuah mobil Fortuner dengan kain pelindung. Di teras rumah, seorang gadis dengan pakaian sederhana,  dari perawakannya terlihat sedaerah dengan pria itu, sedang menyapu di sekitar’.

‘Pria tua itu menyapa sang gadis, yang tidak lain adalah pembantu rumah tangga. Ia meminta tolong agar dipanggilkan seseorang bernama Falaq. Ia sampaikan kepada gadis itu, karena ada orang yang ingin meminta pertolongan’.

‘Tak lama kemudian, keluarlah, sosok pria berpenampilan necis ala kantoran. Terlihat ia sedang basa-basi dengan pembantunya. Sang gadis tadi berbicara dengan majikannya sambil menoleh ke arah pria tua yang berada di depan pagar. Pria itu pun menoleh ke arah yang sama. Segera ia hampiri pria tua dan dipersilahkannya masuk ke dalam’.

Sampian yang bernama Falaq?,” kata pria tua itu yang mengaku seorang badui dari kalangan tidak mampu.

“Benar, saya Falaq. Ada maksud apa kedatangan bapak kemari?,” Tanyanya dengan santun dan berwibawa.

“Saya ingin meminta tolong, bapak Falaq memberi uang kepada saya,” Kata pria badui itu, sambil tertunduk lesu.

“Maaf bapak, sebelumnya apa bapak tidak membaca plakat di sana?,” Ujar Falaq sambil menunjuk ke arah pagar.

“Maaf, saya belum sempat membaca,” badui itu turut menoleh ke arah pagar.

Sri, cabutkan plakat disana. Mau aku suruh baca bapak ini,” kata Falaq setengah membentak.

“Iya pak,” bergegas, Sri, sang pembantu mengambil pelakat dan melepaskannya dari paku yang menggantung.

“Ini pak,” kata Sri, singkat

‘Disodorkannya plakat itu kepada pria badui, agar ia mampu membaca. Disana tertulis: TIDAK MENERIMA PENGEMIS!. Sontak, detak jantung pria badui itu berdetak kencang, serasa akan lepas. Keringatnya meleleh, ketegangan merunyak seisi raga, membaca plakat itu. Kecewa dan amarah ingin rasanya diledakkan di sana juga. Tapi apalah daya, ia harus siap menerima segala kemungkinan. Baik kemungkinan baik, maupun buruk juga. Ia bersusah payah mengembalikan suasana hati pada niat awal: ingin tahu bagaimana Falaq sekarang’.

“Sudahlah..” ucap lirik pria badui.

“Silahkan bapak keluar baik-baik dari rumah ini. Harap diingat, di rumah ini tidak menerima pengemis. Ini kota Jakarta, marak sekali kriminalitas. Mafia, pencuri, perampok, begal, semua berkeliaran. Saya tidak mau berburuk sangka dengan bapak. Saya mohon, keluar baik-baik,”

‘Berlalu pria badui itu, sampai tidak terlihat lagi oleh Falaq dari pandangannya.’

“Beberapa hari lalu, aku mengunjungi santri itu. Tapi aku menyamar agar tidak diketahui siapa aku. Aku ingin tahu respon dia ketika berhadapan dengan orang yang berpakaian compang-camping kemudian meminta tolong kepadanya,” kenang Kiai Somad, setengah terengah-engah. Air keluar dari pelupuk matanya. Mengalir pelan menyusuri garis-garis mukanya yang berkerut.

Air mata santri yang mendengar itu juga meleleh. Dalam hati mereka, betapa teganya alumni itu menelantarkan kiai. Padahal kiai sudah susah payah berangkat dari sini. Padahal di pesantren sudah banyak diajarkan agar gemar menolong siapa saja. Padahal di pesantren ditekankan agar berprasangka baik. Padahal... padahal... padahal.

Akhir pengajian yang dramatis dengan dibubuhi cerita dari kiai. Seperti sedang mengakhiri sebuah drama kisah asmara Laila dan Majnun (Qosim) yang melankonis itu. Kiai Somad sebelum memungkasi pengajian, meminta agar membacakan surat al-Fatihah yang ditujukan kepada leluhur, sanak keluarga agar tidak melupakan jasa mereka. Kemudian ditujukan kepada orang-orang sedunia yang belum mendapatkan hidayah[6] dari-Nya. Supaya dibukakan jalan kebenaran dan diterima segala dosanya.

Al-Fatihah...”

(Bersambung ke: Episode Alumni 2)








[1] Hidup itu menerangi. Menerangi artinya mampu menjadi rujukan ketika orang sekitar kesusahan. Murah senyum. Mudah bergaul. Gemar menolong. Mereka menerangi hati orang-orang yang gelap.
[2] Hidup susah
[3] Kamar mandi
[4] Makan bersama dengan satu wadah (nampan, daun pisang, atau daun jati).
[5] hormat
[6] Petunjuk