Al Qur’an sebuah mu’jizat dari Allah yang
disampaikan melalui perantara Malaikat Jibril secara berangsur-angsur seperti
aliran air di sungai, kepada Nabi Muhammad. Di dalamnya termuat hikmah dalam
cerita-cerita yang menjadi mercusuar bagi hati manusia yang tersesat. Dari
mulai cerita Nabi Adam sampai Lukmanul Hakim. Teramat menginspirasi dalam
hidup. Ditambah ada pengaruh magis, bagi setiap pembacanya akan menenangkan
hatinya. Gundah, gelisah, resah akan sirna seketika.
“Kiai Wahid Hasyim, ketika sakit bahkan meminta santrinya
untuk membacakan Al-Qur’an. Saking ia beriman kepada kitab suci,” Jelasku,
dalam obrolan singkat dengan Falaq yang tengah mengambil cuti selama sebulan
untuk mutholaah dan memperdalam kemantabannya dalam beragama.
“Siapa Kiai Wahid itu Gus?, kedengarannya beliau seorang
mu’min sejati,” Ujar Falaq, sembari menutup mushhaf-nya seraya mencium, “Shodaqollahul
adzim,” ucap Falaq lirih seperti berbisik.
“Itu pengasuh pesantren tempat aku menimba ilmu. Tetapi
beliau telah kapundut gusti pengeran[1].”
Spontanitas dan nyaris bersamaan aku dan Falaq
mengucapkan kalimat istirja’[2],
“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Semoga Allah menempatkannya di sisinya
bersama para kekasih Allah.” Kuucapkan itu dengan bibir yang
terkatup-katup. Sembari mengusap muka dengan kedua tangan.
Falaq telah merasa
kembali pada jatidirinya, sebagai santri. Keyakinannya dahulu sewaktu nyantri,
bahwa pesantren ialah tempat pencetak kader muslim yang komitmen terhadap
perjuangan visi Islam (keadilan dan persaudaraan) dan memiliki wawasan luas
keagamaan kembali meletup. Ia sempat meragu, tutur Falaq dengan raut kuyup.
Kupancing agar ia bercerita tentang keraguannya dan kehidupan di Jakarta,
sia-sia, bibirnya tetap tersegel, rapat.
Dahulu, Falaq ialah santri teladan: Hampir dalam seminggu
ia khatam sekali membaca Al Qur’an hingga nyaris hafal. Maka takkan akan
ditemukan kesulitan yang berarti jika ia mau membaca lagi, akan jauh lebih
fasih, tentunya. Falaq mengaku, tidak cukup hanya bisa membaca Al Qur’an,
tetapi juga tahu maknanya dan mampu diamalkan dalam kehidupan. Ini yang
tertinggal sewaktu Falaq nyantri.
“Saya tahu maknanya gus, tetapi pemaknaan saya belum
tentu sama dengan makna sebenarnya. Karena ada ayat yang perlu ditakwil. Itu
tidak cukup gus, dan kalau sudah tahu mestinya diamalkan gus.” Jelas Falaq. Aku
termanggut-manggut mendengar penuturan Falaq. Ia orang yang tipikal tidak mau
digurui. Wajar seorang direktur perusahaan. Biarlah, ternyata ia sadar sendiri.
Dimana kekurangannya. Dalam hati aku tersenyum.
Aku menoleh ke arah jam dinding. Jarum jam menunjukan
pukul 09:00 WIB. Sebentar, sadar jika belum sarapan. Aku teringat dengan masakan
nasi. Kuajak Falaq sarapan, tapi ia menggeleng-gelengkan kepala. Ia jelaskan
kalau sedang berpuasa. Aku tercengang mendengar penuturannya. Sekali lagi aku
tersenyum. Ia ingin beri’tikaf di dalam musholla lebih lama lagi. Kuberlalu
meninggalkannya.
***
Di rumah, abah masih setia menemani umi. Sudah hampir
sebulan umi mengalami demam yang cukup tinggi. Sekujur tubuh umi panas. Hampir
tidak bisa digerakan. Berbicara juga sedikit kesulitan. Melihat abah
sudah keletihan menjaga umi. Aku meminta diri untuk bergiliran menjaga. Abah
menolak, tapi ia meminta aku untuk mengambilkan segelas teh panas dan
sepiring buah-buahan.
Aku pilih buah jambu yang kuambil di meja makan. Kupikir,
buah jambu akan sangat mujarab bagi yang terkena sakit tipus. Demam umi masih
tergolong pada tipus. Aku teringat saat badanku panas sekali. Pada setiap pagi
umi membuatkan jus jambu untuk aku. Lalu, seketika badanku berangsur-angsur
membaik. Suhu tubuhku normal.
Apa lebih baik jika aku blender saja ya buah
jambunya, kataku dalam hati. Tidak berselang lama, segelas teh dan segelas jus
jambu terhidang di meja samping umi berbaring. Umi menoleh ke arahku. Ia
melihat aku menghidangkan jus untuknya. Senyumnya menyeringai. Aku balas dengan
senyuman. Lalu kukecup dahinya. Kudengar dari bibirnya yang terkatup-katup,
berujar, “Terimakasih nak”.
Masih bersama
mereka berdua. Melihat dua insan yang saling menyanyangi, satu sama lain. Abah
yang tetap sabar dan setia merawat umi, dan umi yang berjuang sekuat tenaga
agar kembali seperti semula lagi. Aku terperangah melihat itu. Ketika di luar
sana, para artis dan keluarga kelas menengah dengan mudah sekali memutus ikatan
pernikahan lantaran masalah-masalah sepele yang dapat dicarikan solusinya.
Cinta yang sejati, cinta yang memberi. Dalam hati aku tersenyum.
Liburan sekolah sebenarnya telah usai. Semestinya aku
kembali ke Jombang, dan melanjutkan proses ngaji di Pesantren Tebuireng.
Beberapa kali telpon dari pengurus menjurus ke rumah, dan menanyakan, kapan
tibanya aku ke Jombang. Aku belum dapat memastikan jawaban. Aku tidak tega
meninggalkan umi. Tetapi aku yakinkan setelah keadaan umi membaik. Aku akan
kembali. “Semoga umi sampian segera sembuh, amin”. Doa pengurus,
terdengar jauh di sana.
“Telpon dari siapa nak?,” tanya abah
Kudekatkan mulutku ke liang telinga abah, seolah
berbisik, “Dari pengurus lagi bah”. Nyaris suaraku tak terdengar. Takut
mengganggu istirahat umi. Apalagi jika umi tahu kalau ada orang yang direpotkan
karenanya, umi akan bertambah memburuk kondisinya.
Abah mengangguk-anggukan kepalanya. Seraya menukas, “Lalu
kapan kamu mau balik ke pondok?”. Itu pertanyaan abah untuk kesekian kalinya.
Tetapi aku jawab dengan diam dan tersenyum saja. Aku tergolong orang yang keras
kepala untuk masalah ini, tetapi untuk beberapa hal aku mudah dibelokan dan
diarahkan oleh abah. Jika aku merasa salah. Inilah abah yang sangat menghargai hak
privilise-ku.
Aku teringat dengan tausyiah[3]
Kiai Ishaq Latif. Suatu ketika ia berujar, bahwa “Bagi Ali bin Abu Tholib, ada
tiga fase dalam mendidik anak. Fase pertama, jadikan anak sebagai raja.
Ini berlaku ketika seorang anak belum aqil balight. Fase kedua, penjarakan
anak itu. Artinya, ketika seorang anak sudah cukup balight dan sudah mengetahui
kesenangan, maka kekanglah seorang anak agar ia bisa mengendalikan hawa
nafsunya. Fase ketiga, jadikan seorang anak sebagai sahabat”.
Kemudian aku membayangkan dalam kehidupan berkeluarga.
Tanpa aku sadari, abah dan umi telah menerapkan tiga fase pendidikan anak
menurut Ali bin Abu Tholib. Kini, mereka tak lagi melarang-larang anaknya untuk
bergaul, berfikir, dan bertindak apa saja. Mereka telah mempercayai aku. Di
mata mereka, aku adalah sahabat.
***
Pada suatu malam. Gelap gulita. Semua lampu padam. Badai
menggelegar. Curah hujan sangat tinggi hingga mematikan seluruh listrik. Tidak
ada kebisingan apapun kecuali suara rintikan hujan. Aku terbangun dari tidur.
Menoleh ke kiri, ke kanan. Falaq sudah tidur begitu pulasnya. Dalam hati aku
tersenyum, melihatnya sudah kembali seperti semula. Esok hari dia sudah harus
kembali ke Jakarta melanjutkan pekerjaannya.
Terperanjat dari bilik kamar. Aku menelusuri sudut-sudut
rumah: mencari lilin. Keadaan yang gelap seperti ini, tidak baik jika tak ada
cahaya sama sekali. Akibatnya terjatuh atau tersandung bagi pejalan. Aha!,
kutemukan sepotong lilin dalam almari dapur. Aku letakan beberapa lilin yang
nyala itu di beberapa titik rumah: dapur, kamar mandi, kamar, ruang tengah, dan
ruang tamu.
Sesampainya di ruang tamu, aku melihat sosok lelaki paruh
baya di teras. Ia terduduk di kursi goyang sambil memegang putung rokok. Dari
cara menghisap rokok dan duduknya tidaklah asing bagiku. Aku mengusap-usap
mataku, barangkali hanya bayangan yang kulihat. Ketika muncul kilatan petir,
jelas terlihat, bahwa itu abah. Apa yang dilakukannya malam-malam begini.
Kubawakan jaket, selimut dan kaus kaki, karena abah hanya
mengenakan kaus oblong dan sarung. Sempat kaget abah ketika menyadari
kedatnganku. Aku haturkan beberapa potong kain agar dikenakannya. Abah
mempersilahkan aku duduk di sampingnya. Bersama dengannya, rokok, dan secangkir
kopi menikmati hujan yang konon kerap mendatangkan seorang tamu bernama
rindu.
“Abah sedang memikirkan apa malam-malam begini?,” kataku
memulai obrolan.
“Hanya memikirkan umimu nak”.
“Kenapa dengan umi bah?, kata dokter umi akan segera
sembuh”.
“Bukan itu nak. Ada hal lain. Sudahlah. Tapi sekarang aku
terkenang masa-masa indah bersama umi, dahulu”. Kata abah dengan nada yang
sendu, tapi sebentar berubah ceria. Ada suatu rahasia yang disembunyikan di
balik lipatan kerut kulitnya dariku.
Aku menghargai jika itu rahasia yang ingin disimpan abah.
Tapi abah sempat melontarkan kata mengingat kenangan indah bersama umi. Aku
tertawa dalam hati, bahwa di usia senja seperti abah ternyata masih bergelut
dengan romantisme. Seperti anak remaja yang gandrung akan romantisme. Barangkali bukan sekedar sensasi tapi abah ingin melipur laranya sendiri dengan
itu. Dari kenangan disanalah ada muara harapan.
“Kamu sudah tak anggap seperti sahabatku nak. Sekarang
kamu sudah dewasa dan aqil baligh. Sudah tahu tentang cinta. Boleh abah tanya
sesuatu?”. Tanya abah dengan ceria dan agak sedikit ketus.
“Boleh bah”.
“Kamu punya kekasih nak?”.
Aku terkejut mendengarnya. Baru sekali ini abah
menanyakan hal sensitif, sesensitif perasaan. Sebelumnya aku menganggap abah,
adalah sosok yang kaku tapi berwibawa dan selalu menyerukan jargon agama. Maka
keistimewaan bagiku mendapat kesempatan langka ini, karena tidak setiap anak
seorang kiai akan ditanyakan hal ini oleh bapaknya.
Sebenarnya tidak ada sosok kekasih seperti yang
ditanyakan abah. Tetapi sosok wanita yang aku sukai dan menginspirasi aku, itu
ada. Lalu kujawab pertanyaan abah dengan agak terbata-bata dan tersipu malu,
dan berujar, “Mboten wonten bah[4],” Jawabku,
tersipu malu.
“Mboten wonten tapi ono kan?,” Gurau abah
“Enten bah tapi sanes kekasih, asmine Solihah[5]”.
“Siapa itu Solihah? Kenal dimana kamu nak”.
“Solihah itu adik kelas saya bah di SMA. Hmm saya kenal
sewaktu acara pondok. Dia menjadi salah seorang penabuh rebbana bah.” Tanyaku.
Sebentar, raut abah menjadi memerah.
“Pasti orangnya cantik dan agak mirip-mirip dengan umi.
Ya kan?,” ujar abah dengan ketus.
Kini abah telah menjebol selubung dan berada di sekitar
zona sensitifku. Abah tidak hanya menjadi bapak bagi jasadku tapi juga bapak
bagi jiwaku, musrsyid sejati!. Bagaimana aku menjawabnya, maka kurespon
sekenanya, “Iya bah...”.
“Abah sendiri bagaimana bisa jatuh cinta dengan umi,”
Pertanyaanku sepertinya menjadi smash silang yang aku hempaskan setelah
mendapat bola liar dari abah.
Abah tergopoh-gopoh untuk menjawabnya. Seperti seorang
yang mendapat tekanan smash dalam badminton dan abah tidak menyadari
pertanyaan balik akan dilontarkan putranya. Seperti pemandangan biasa, dengan
bijak abah berkata, “Abah bertemu umi di suatu pengajian nak”.
“Terus bagaimana abah bisa jatuh cinta dengan umi?”.
Tanyaku, terus menekan. Penuh penasaran. Sebab disitulah awal dari segalanya:
bahagia-sedih-kecewa-susah-senang, sampai lahirnya aku: Ghofar Abdul Ghani.
“Umimu itu cantiknya tidak hanya di luarnya nak, tapi
juga di dalamnya. Itu yang membuat aku menaruh hati kepada umi. Sulit mencari
padanan wanita seperti itu”. Jawab abah sembari menunjuk dada sebelah kiri,
artinya: hati.
Suara-suara halilintar yang menggelar dan rintikan deras
hujan tidak menjadi tabir bagi kami dalam mengobrol. Seakan suasana yang
sebelumnya mencekam, telah tersulap menjadi taman indah yang diisi: tawa,
canda, dan kebahagiaan. Rokok pun tak terasa telah berubah abu dan kopi menjadi
asat, tapi tak kami hiraukan. Obrolan mengalir terus, membanjiri malam.
“Bagaimana abah bisa menikah dengan umi?”. Jika abah
tidak dipancing dan ditanya, maka abah tetap membisu dan bicara seperlunya.
Walau tadi abah sempat bergurau tapi sisi kekakuannya masih dominan.
“Kau tahu sendiri nak, abah seorang anak petani biasa.
Sedangkan umimu adalah seorang anak seorang kiai. Awalnya abah berfikiran tidak
mungkin untuk menikahi seorang ning dari putri seorang kiai”.
***
22 tahun lalu
Somad, sudah mendengar bahwa Umi Kulsum, putra Kiai
Slamet akan segera bertunangan dengan putra Kiai Zainuri dari Malang. Sebab
itu, seharian Somad tidak bisa tidur dengan nyenyak dan memiliki nafsu makan
seperti biasanya. Somad selalu membayangkan sosok Umi Kulsum yang cantik
jelita. Beberapa kali bayangan itu ditepisnya dengan berdzikir dan berulangkali
berucap istighfar. Belum mampu juga menepis bayangan dan ketidakrelaannya
jika Umi Kulsum dipersunting pria lain.
Ketika hari H pertunangan beredar kabar tak sedap. Bahwa
Kiai Zainuri dari Malang membatalkan pertunangannya dengan putri Kiai Slamet.
Desas-desus kabar itu sampai ke telinga Somad. Sedikit lara hati Somad terobati,
tetapi belum sembuh total.
Sehari-hari aktivitas Somad di pesantren menjadi seorang khodam[6]. Maka
ia memanfaatkan posisi itu untuk menanyakan kebenaran kabar itu dari keluarga ndalem
sendiri.
Setelah didalami oleh Somad, ternyata terbukti pertunangan
itu batal. Hati Somad melega. Jeratan-jeratan tali berduri di sekitar hatinya
mulai mengelupas, satu demi satu. Tetapi ada sesuatu yang mengganjal fikiran
Somad: apa penyebab dibatalkannya pertunangan itu?. Sekilas Somad ingin
berperasangka baik. Tetapi datang kabar dari keluarga ndalem. Bahwa
selepas batalnya pertunangan, Kiai Slamet sering resah sampai kesehatannya
menurun. Membuat perasangka Somad berkeliaran kemana-mana.
Sampai suatu hari yang masih terbilang pagi. Kiai Slamet
memanggil Somad menghadap ke ndalem kesepuhan. Entah ada angin apa
sampai Kiai Slamet ingin mengajak bicara dengan Somad secara tertutup.
“Somad, kamu sudah dengar kabar pertunangan putriku?,”
Tanya Kiai Slamet dengan wibawa, tapi masih tampak pucat akibat tekanan yang ia
alami.
“Saya sudah mendengar, kiai,” Jawab Somad
“Pertunangan putriku dengan Kiai Zainuri batal. Aku
sendiri tidak tahu kalau terjadi seperti ini. Tak kira akan berjalan
biasa-biasa saja. Sebab aku sendiri tidak menduga, kalau yang akan membatalkan
pertunangan itu putriku sendiri. Aku memarahinya, karena tidak berterus terang
sejak awal. Selama ini ia hanya diam dan menjawab enggeh. Ternyata di
balik enggeh-nya tersimpan penolakan. Mungkin ini salahku, karena
terlalu mengatur-atur putriku sampai tidak mau terbuka. Setiap aku tanyai
kenapa menolak pertunangan, ia enggan menjawab. Aku malu di hadapan Kiai
Zainuri. Reputasiku hancur.”
“Sampai aku mengetahui rahasia yang disimpan putriku dari
sahabat karibnya di pondok. Kata sahabatnya, Umi sangat menyukai Ahmad Somad
lebih dari apapun. Ternyata yang dimaksud Somad yang ada di depanku.
Sejujurnya, aku tidak melarang putriku menyukai siapapun, dan ternyata yang
disukainya adalah kamu. Aku tidak menyalahkan pilihannya jatuh kepada kamu.
Malah aku bangga dengan pilihan putriku, sebab ia tak salah. Kamu orangnya
cekatan, teguh pada pendirian, mudah bergaul, ikhlas”.
***
Kenang Kiai Somad,
Aku terbengong mendengar cerita abah, sampai tidak sadar
telah habis di ujung, “Ternyata begitu kisah abah sampai mempersunting umi, indah”.
“Iya nak, umi segalanya bagiku. Aku sangat berharap umi
segera pulih. Aku benar-benar beharap”. Kata
abah sambil meremas gagang kursi goyangnya dengan kuat sampai
urat-uratnya terlihat.
Tak berselang lama, abah kembali bertanya, “Bagaimana
keadaan si Falaq,” tanya abah. Aku balas dengan senyum ceria.
“Alhamdulillah jika telah semakin membaik”.
***
Badanku terasa digoyang-goyang. Ada gesekan halus di
sekitar kaki kananku. Lamat-lamat kubuka kelopak mataku. Samar-samar. Sedikit demi
sedikit menjadi jelas. Falaq yang
menggoyang-goyangkan badanku. Seperti berkata-kata kepadaku tapi lirih, dan
akhirnya terang.
“Iya pak, sampian mau pamit sekarang,” Ujarku sekenanya,
setengah sadar.
“Saya tidak jadi pulang hari ini gus. Umi sampian gus!,”
Kata Falaq terengah-engah.
Aku mengusap-usapkan mata, dan berkata “Kenapa laq dengan
umi?”.
“Umi sampian gus, meninggal dunia”. Kata Falaq dengan
panik, memecah keheningan.
(Bersambung ke: KIAI SOMAD 4 (Episode: Kematian Sang
Kekasih 2)

