Rabu, 23 Maret 2016

KIAI SOMAD 3 (Episode: Alumni 2)

Al Mufti Bhutasvara - Semilir angin berhembus. Menggerak-gerakan dedaunan dan rumput, membentuk satu koreografi. Alam sedang berdansa. Matahari berada di ufuk barat. Allah memang pelukis yang agung. Aku menikmati pemandangan itu sambil berdzikir lirih, subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illa Allah wa Allahu akbar. Kusyukuri sejengkal nafas yang masih berhembus, selangkah kaki yang penuh harapan, tangan yang tetap kuat memegang keyakinan. Lillahi rabbi.

Selepas pengajian, belum banyak santri yang hengkang dari sana. Mereka masih melanjutkan ke sesi pendalaman. Ya. Mereka berdiskusi di lingkaran mereka masing-masing, membuat halaqah. Memperbincangkan materi pengajian Kiai Somad, tadi.

Mengambil kesimpulan dan hikmah lalu kemudian memetik manfaat dari cerita kiai, agar kehidupan mereka jauh lebih baik dari hari ke hari. Islam mengajarkan agar selalu muhasabah[1] dan musyawarah, untuk mengevaluasi amal yang lalu. Bukan mendiamkan begitu saja hal buruk, walau kecil, nantinya akan menjadi besar.

“Semoga kita tidak menjadi pribadi yang dikisahkan kiai ya,” ucap salah seorang santri.
“Amin”. Sahut para santri nyaris bersamaan.

Sebentar terdengar sayup-sayup adzan dari musholla. Membangunkan aku dari lamuman: memandang keindahan alam hari ini. Suara Zahid yang merdu membuat hatiku syahdu. Lekas, santri yang masih berada di pendopo pengajian segera mengambil air wudhu.

Tidak lama kemudian, terdengar deru suara mesin. Di sini jarang sekali kendaraan roda empat, kebanyakan disini kendaraan roda dua. Aku bisa menilai itu kalau mobil, karena suaranya berbeda sekali dengan biasanya. Barangkali tamu. Sebab tamu biasanya datang dari mana-mana, bahkan dari luar pulau. Kedatangan mereka sekedar meminta konsultasi, doa, dan amalan kepada abah. Nama abah alias Kiai Somad memang sudah masyhur terdengar, tetapi hanya kalangan tertentu. Tokoh nasional, pengusaha besar, wali santri, atau alumni.

Aku keluar, menuju teras rumah, berharap menemukan sumber suara. Sebuah mobil sport Toyota Fortuner putih dengan plat nomor polisi B, masuk ke area pesantren. Aku menduga-duga, kalau itu wali santri yang ingin menjenguk.

Dari liang jendela mobil terlihat seorang pria berkacamata hitam. Ia keluar dari mobil seorang diri. Pakainnya terbilang necis. Aksesoris dari mulai baju, celana, sepatu, semuanya bermerk. Tentu dapat ditaksir harganya, jelas masyarakat pesantren tidak mampu membelinya. Atau jika mampu, tapi enggan untuk membeli. Sepertinya pria itu datang dari kota.

Pria itu berjalan menuju rumah. Sesaat ia berhenti. Mendengar adzan, Ia berputar arah menuju ke musholla. Aku membuntuti dari belakang. Mengamati gerak-geriknya. Karena orang sejenis ini, teramat asing di lingkungan pesantren.

Selepas sholat, aku menghambur ke pria asing itu. Aku bertanya kepada dia, dari mana asalnya?, siapa namanya?, keperluannya ke pesantren apa?. Ia memperkenalkan namanya sebagai Qalaf. Seorang direktur perusahaan di Jakarta yang kaya raya. Ia ingin bertemu dengan Kiai Somad, abahku.

“Kamu sendiri, siapa namamu nak?” Tanyanya, membalas.

“Namaku Ghofar pak,” Aku menjawab sekenanya.

“Oh, Gus Ghofar. Kamu sudah besar ya gus?,” Kata Qalaf dengan mulut membentuk huruf o, seolah dia sudah mengenalku sejak lama.

“Kok bapak sudah mengenal saya, bapak siapa sih sebenarnya?,” Tanyaku penasaran.

“Aku dulu sempat nyantri disini gus. Dulu, Gus Ghofar masih segini,” Kata Qalaf sambil menunjuk lututnya.

“Gus Ghofar sekarang kelas berapa?,” Tanya Qalaf.

“Aku sekarang kelas 3 SMA pak”.

“Wah, pantesan sudah besar sekali sekarang ya. Oh ya gus, bisa minta tolong saya diantarkan menemui abah nyai?,” ujar Qalaf sambil tersenyum.

“Tentu, monggo”. Aku berjalan di depan Qalaf. Rasa penasaranku kini sudah terjawab. Tapi masih ada sedikit yang membelit, untuk apa Qalaf bertemu dengan abah?.

***

Setelah aku sajikan teh hangat dan beberapa toples jajanan di meja tamu. Di balik tirai, aku mengintip, menguping pembicaraan mereka berdua. Kelihatannya begitu privat. Usia remaja memang membuatku serba penasaran, serba ingin tahu segala hal. Walau kadang berulah menjadi kenakalan. Aku tersenyum dalam hati.

Qalaf melepaskan kacamatanya. Sebelum berbicara panjang lebar, Qalaf memantik pembicaraan ke hal-hal sederhana: perkembangan pesantren, pengajian, masyarakat, sawah, ternak, dll. Hal-hal biasa yang sudah dijalani santri biasanya. Abah menjawab dengan santun dan ramah, ia memperlakukan tamunya sangat istimewa. Apalagi setelah tahu ia berasal dari Jakarta.

Begitupun, abah menanyakan balik tentang hal-hal kecil yang dilakukan setalah menjadi alumni dan kemudian sekarang sedang mengerjakan sesuatu apa. Sejenis obrolan yang biasa diantara dua orang yang lama sekali tidak bertemu.

Kini, Qalaf memulai arah pembicaraan serius,
“Kiai, apa benar tempo hari panjenengan[2] pergi ke Jakarta?,” Tanya serius Qalaf separuh terengah.

“Iya, nak” Kata Kiai Somad sambil menyeruput kopinya yang sudah tergenang di cawik.

“Benar berarti..” Bisik Qalaf dalam hati.

“Kiai mengunjungi Pondok Indah?,” Tanya Qalaf memburu kepastian, sebab kalau hanya di Jakarta, bukannya Jakarta itu luas. Bisa jadi dimana-mana.

“Iya nak. Mari nak, rokoknya dihisap, jangan sungkan-sungkan ah, wong pondoke dewe[3]. Ini tembakaunya kami sendiri yang mengolah,” Ujar Kiai Somad sambil menyodorkan sebungkus rokok. Garis kerutan di mukanya menjadi bias dengan senyuman.

Mboten[4], ngapunten saya tidak merokok. Pekerjaan saya melarang pegawainya kalau merokok,” Qalaf berujar sambil mengangkat kedua belah tangannya ke muka. Bertahun-tahun di Jakarta, Qalaf masih lumayan menguasai dialek Jawa.

“Nah, tidak salah lagi,” Gumamnya dalam hati. Keyakinan Qalaf sudah mantab dan segalanmya menjadi terang-benerang.

“Kiai, saya Falaq” Kata Falaq setengah terengah-engah, setengah lesu.

Aku di balik tirai yang memisahkan ruang tamu dan ruang santai keluarga. Mendengar itu. Jantungku berdetak kencang, mataku mendelik, mendengar pengakuan dari Qalaf. Ternyata Qalaf bukan nama aslinya, tetapi nama samaran. Jika Qalaf dibaca terbalik maka akan menjadi Falaq!.

Ini dia yang namanya Falaq itu. Tiba-tiba, hatiku panas. Tanganku mengepal keras. Orang ini tho yang tempo hari mengusir abah, kataku, geram dalam hati. Serasa ingin mengamuk di situ. 
Astagfirullah, ucapku lirih. Meredam amarah.

“Iya, saya sudah tahu nak,” Kiai Somad menangkis pengakuan Falaq dengan gelagat yang tenang yang wajar-wajar saja.

“Saya mohon maaf kiai, sungguh saya tidak tahu kalau orang tua itu panjenengan[5],” Air muka Falaq menjadi kuyup. Harga diri dan prestasinya selama ini menjadi rontok. Maka tak akan ada nilainya lagi: kelimpahan harta, kedudukan, dan pengaruh, bila berbakti kepada guru pun tak mampu.

Kiai Somad berdehem sejenak, ia sangat berhati-hati dalam berucap. Ia tidak ingin Falaq patah asa tetapi juga ingin menyadarkan dirinya. Setelah mengisap rokoknya dan mengutis abu rokok di liang asbak, berujar, “Tak apa nak. Sejujurnya aku kecewa terhadap kamu. Padahal kamu dulu santri kebanggaanku. Entah apa yang membuatmu berubah sedemikian rupa. Atau kamu mudah tergilas oleh arus duniawi nak?. Janganlah berubah-ubah. Kamu takkan mendapat manfaat atas jerih payah selama ini. Poso senen-kemismu, puasa Daud, sholat tahajjud, khataman Qur’an, diba’iyyah. Itu amalan yang kau tabung nak.”

Lamat-lamat, aku mengamati dari lubang tirai. Mata Falaq berkaca-kaca. Sebentar, tangisnya meledak. Falaq tidak mampu menyembunyikan kesedihan dan penyesalannya selama ini. Betapa Kiai Somad, dahulu, sewaktu nyantri, telah menginspirasi Falaq. Dari ketekunan belajar, keilmuan, kuatnya ibadah, ikhlas dalam beramal, akhlaq Kiai Somad telah menjadi motivasi bagi Falaq. Tetapi Ada beberapa penyebab, yang Falaq sendiri, entah, ia enggan menjelas-jelaskan. Itu aib, itu dosa, Kiai Somad akan semakin kecewa. Falaq tiba-tiba menggeleng-gelengkan kepalanya. Tarikan nafasnya menjadi berat.

“K..i..a..i...” Ujar Falaq dengan terbata-bata.

Jidat Kiai Somad berkerut, dua alisnya saling merapat. Ada sesuatu yang ingin disampaikan Falaq. Tapi Falaq masih menahan, memendam. Dengan santai, dan ingin menghibur lara Falaq, berkata, “Nak, tidak apa-apa. Setiap manusia punya sisi hitamnya. Syukur kamu ingin bertaubat.”
Engge nyai,” kata Falaq dengan nada sendu.

Kiai Somad merenggangkan tangan, isyarat untuk berpeluk. Lalu berujar, “Sini nak”.

Secepat kilat, Falaq tidak menanggapi isyarat Kiai Somad, tetapi mengambil posisi sungkem. Kedua tangannya memegang erat tangan kiai. Ia duduk seperti tasyahud akhir. Punggungnya membungkuk. Disanalah Falaq menemukan kehangatan, yang begitu lamanya sirna dari hingar-bingar kehidupannya.

Aku mengintip fenomena itu. Walau tidak jelas, tapi aku turut larut dalam suasana. Kuusap kedua belah mataku. Basah, kurasakan. Tak kusadari aku menangis. Menyaksikan, sebuah drama kehidupan manusia. Ketika mereka pergi, nyaris hilang dan akhirnya kembali, pulang. Inilah arti, semuanya berawal dari rumah. Tempat dibesarkan, diangkat, diajar dan dididik. Tempat yang penuh arti.

Tanganku mengadah, seraya bermunajat kepada Sang Maha Kuasa. Limpahkan hidayah dan taufiq-Mu agar tetap berada dalam jalan yang Engkau ridloi.

Surabaya, 23 Maret 2016



[1] Introspeksi diri
[2] Kamu
[3] Pondoknya sendiri
[4] Tidak
[5] Anda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar