Al Mufti Bhutasvara - Semilir angin
berhembus. Menggerak-gerakan dedaunan dan rumput, membentuk satu koreografi.
Alam sedang berdansa. Matahari berada di ufuk barat. Allah memang pelukis yang
agung. Aku menikmati pemandangan itu sambil berdzikir lirih, subhanallah wal
hamdulillah wa laa ilaha illa Allah wa Allahu akbar. Kusyukuri sejengkal
nafas yang masih berhembus, selangkah kaki yang penuh harapan, tangan yang
tetap kuat memegang keyakinan. Lillahi rabbi.
Selepas pengajian,
belum banyak santri yang hengkang dari sana. Mereka masih melanjutkan ke sesi
pendalaman. Ya. Mereka berdiskusi di lingkaran mereka masing-masing, membuat
halaqah. Memperbincangkan materi pengajian Kiai Somad, tadi.
Mengambil kesimpulan
dan hikmah lalu kemudian memetik manfaat dari cerita kiai, agar kehidupan
mereka jauh lebih baik dari hari ke hari. Islam mengajarkan agar selalu muhasabah[1]
dan musyawarah, untuk mengevaluasi amal yang lalu. Bukan mendiamkan begitu saja
hal buruk, walau kecil, nantinya akan menjadi besar.
“Semoga kita tidak
menjadi pribadi yang dikisahkan kiai ya,” ucap salah seorang santri.
“Amin”. Sahut para
santri nyaris bersamaan.
Sebentar terdengar
sayup-sayup adzan dari musholla. Membangunkan aku dari lamuman: memandang
keindahan alam hari ini. Suara Zahid yang merdu membuat hatiku syahdu. Lekas,
santri yang masih berada di pendopo pengajian segera mengambil air wudhu.
Tidak lama kemudian,
terdengar deru suara mesin. Di sini jarang sekali kendaraan roda empat,
kebanyakan disini kendaraan roda dua. Aku bisa menilai itu kalau mobil, karena
suaranya berbeda sekali dengan biasanya. Barangkali tamu. Sebab tamu biasanya
datang dari mana-mana, bahkan dari luar pulau. Kedatangan mereka sekedar
meminta konsultasi, doa, dan amalan kepada abah. Nama abah alias Kiai Somad
memang sudah masyhur terdengar, tetapi hanya kalangan tertentu. Tokoh nasional,
pengusaha besar, wali santri, atau alumni.
Aku keluar, menuju
teras rumah, berharap menemukan sumber suara. Sebuah mobil sport Toyota
Fortuner putih dengan plat nomor polisi B, masuk ke area pesantren. Aku
menduga-duga, kalau itu wali santri yang ingin menjenguk.
Dari liang jendela
mobil terlihat seorang pria berkacamata hitam. Ia keluar dari mobil seorang
diri. Pakainnya terbilang necis. Aksesoris dari mulai baju, celana, sepatu,
semuanya bermerk. Tentu dapat ditaksir harganya, jelas masyarakat pesantren
tidak mampu membelinya. Atau jika mampu, tapi enggan untuk membeli. Sepertinya pria
itu datang dari kota.
Pria itu berjalan
menuju rumah. Sesaat ia berhenti. Mendengar adzan, Ia berputar arah menuju ke
musholla. Aku membuntuti dari belakang. Mengamati gerak-geriknya. Karena orang
sejenis ini, teramat asing di lingkungan pesantren.
Selepas sholat, aku
menghambur ke pria asing itu. Aku bertanya kepada dia, dari mana asalnya?,
siapa namanya?, keperluannya ke pesantren apa?. Ia memperkenalkan namanya
sebagai Qalaf. Seorang direktur perusahaan di Jakarta yang kaya raya. Ia ingin
bertemu dengan Kiai Somad, abahku.
“Kamu sendiri, siapa
namamu nak?” Tanyanya, membalas.
“Namaku Ghofar pak,”
Aku menjawab sekenanya.
“Oh, Gus Ghofar. Kamu
sudah besar ya gus?,” Kata Qalaf dengan mulut membentuk huruf o, seolah dia
sudah mengenalku sejak lama.
“Kok bapak sudah
mengenal saya, bapak siapa sih sebenarnya?,” Tanyaku penasaran.
“Aku dulu sempat
nyantri disini gus. Dulu, Gus Ghofar masih segini,” Kata Qalaf sambil menunjuk
lututnya.
“Gus Ghofar sekarang
kelas berapa?,” Tanya Qalaf.
“Aku sekarang kelas 3
SMA pak”.
“Wah, pantesan sudah
besar sekali sekarang ya. Oh ya gus, bisa minta tolong saya diantarkan menemui
abah nyai?,” ujar Qalaf sambil tersenyum.
“Tentu, monggo”.
Aku berjalan di depan Qalaf. Rasa penasaranku kini sudah terjawab. Tapi masih
ada sedikit yang membelit, untuk apa Qalaf bertemu dengan abah?.
***
Setelah aku sajikan
teh hangat dan beberapa toples jajanan di meja tamu. Di balik tirai, aku mengintip,
menguping pembicaraan mereka berdua. Kelihatannya begitu privat. Usia remaja
memang membuatku serba penasaran, serba ingin tahu segala hal. Walau kadang
berulah menjadi kenakalan. Aku tersenyum dalam hati.
Qalaf melepaskan
kacamatanya. Sebelum berbicara panjang lebar, Qalaf memantik pembicaraan ke
hal-hal sederhana: perkembangan pesantren, pengajian, masyarakat, sawah,
ternak, dll. Hal-hal biasa yang sudah dijalani santri biasanya. Abah menjawab
dengan santun dan ramah, ia memperlakukan tamunya sangat istimewa. Apalagi
setelah tahu ia berasal dari Jakarta.
Begitupun, abah
menanyakan balik tentang hal-hal kecil yang dilakukan setalah menjadi alumni
dan kemudian sekarang sedang mengerjakan sesuatu apa. Sejenis obrolan yang
biasa diantara dua orang yang lama sekali tidak bertemu.
Kini, Qalaf memulai
arah pembicaraan serius,
“Kiai, apa benar
tempo hari panjenengan[2] pergi
ke Jakarta?,” Tanya serius Qalaf separuh terengah.
“Iya, nak” Kata Kiai
Somad sambil menyeruput kopinya yang sudah tergenang di cawik.
“Benar berarti..” Bisik Qalaf dalam hati.
“Kiai mengunjungi
Pondok Indah?,” Tanya Qalaf memburu kepastian, sebab kalau hanya di Jakarta,
bukannya Jakarta itu luas. Bisa jadi dimana-mana.
“Iya nak. Mari nak,
rokoknya dihisap, jangan sungkan-sungkan ah, wong pondoke dewe[3].
Ini tembakaunya kami sendiri yang mengolah,” Ujar Kiai Somad sambil menyodorkan
sebungkus rokok. Garis kerutan di mukanya menjadi bias dengan senyuman.
“Mboten[4],
ngapunten saya tidak merokok. Pekerjaan saya melarang pegawainya kalau
merokok,” Qalaf berujar sambil mengangkat kedua belah tangannya ke muka.
Bertahun-tahun di Jakarta, Qalaf masih lumayan menguasai dialek Jawa.
“Nah, tidak salah
lagi,” Gumamnya dalam hati.
Keyakinan Qalaf sudah mantab dan segalanmya menjadi terang-benerang.
“Kiai, saya Falaq”
Kata Falaq setengah terengah-engah, setengah lesu.
Aku di balik tirai
yang memisahkan ruang tamu dan ruang santai keluarga. Mendengar itu. Jantungku
berdetak kencang, mataku mendelik, mendengar pengakuan dari Qalaf. Ternyata
Qalaf bukan nama aslinya, tetapi nama samaran. Jika Qalaf dibaca terbalik maka
akan menjadi Falaq!.
Ini dia yang namanya
Falaq itu. Tiba-tiba, hatiku panas. Tanganku mengepal keras. Orang ini tho
yang tempo hari mengusir abah, kataku, geram dalam hati. Serasa ingin mengamuk
di situ.
Astagfirullah, ucapku lirih. Meredam amarah.
“Iya, saya sudah tahu
nak,” Kiai Somad menangkis pengakuan Falaq dengan gelagat yang tenang yang
wajar-wajar saja.
“Saya mohon maaf
kiai, sungguh saya tidak tahu kalau orang tua itu panjenengan[5],” Air
muka Falaq menjadi kuyup. Harga diri dan prestasinya selama ini menjadi rontok.
Maka tak akan ada nilainya lagi: kelimpahan harta, kedudukan, dan pengaruh,
bila berbakti kepada guru pun tak mampu.
Kiai Somad berdehem
sejenak, ia sangat berhati-hati dalam berucap. Ia tidak ingin Falaq patah asa
tetapi juga ingin menyadarkan dirinya. Setelah mengisap rokoknya dan mengutis
abu rokok di liang asbak, berujar, “Tak apa nak. Sejujurnya aku kecewa terhadap
kamu. Padahal kamu dulu santri kebanggaanku. Entah apa yang membuatmu berubah
sedemikian rupa. Atau kamu mudah tergilas oleh arus duniawi nak?. Janganlah
berubah-ubah. Kamu takkan mendapat manfaat atas jerih payah selama ini. Poso
senen-kemismu, puasa Daud, sholat tahajjud, khataman Qur’an,
diba’iyyah. Itu amalan yang kau tabung nak.”
Lamat-lamat, aku
mengamati dari lubang tirai. Mata Falaq berkaca-kaca. Sebentar, tangisnya
meledak. Falaq tidak mampu menyembunyikan kesedihan dan penyesalannya selama
ini. Betapa Kiai Somad, dahulu, sewaktu nyantri, telah menginspirasi
Falaq. Dari ketekunan belajar, keilmuan, kuatnya ibadah, ikhlas dalam beramal,
akhlaq Kiai Somad telah menjadi motivasi bagi Falaq. Tetapi Ada beberapa
penyebab, yang Falaq sendiri, entah, ia enggan menjelas-jelaskan. Itu aib, itu
dosa, Kiai Somad akan semakin kecewa. Falaq tiba-tiba menggeleng-gelengkan
kepalanya. Tarikan nafasnya menjadi berat.
“K..i..a..i...” Ujar Falaq dengan terbata-bata.
Jidat Kiai Somad
berkerut, dua alisnya saling merapat. Ada sesuatu yang ingin disampaikan Falaq.
Tapi Falaq masih menahan, memendam. Dengan santai, dan ingin menghibur lara
Falaq, berkata, “Nak, tidak apa-apa. Setiap manusia punya sisi hitamnya. Syukur
kamu ingin bertaubat.”
“Engge nyai,” kata
Falaq dengan nada sendu.
Kiai Somad
merenggangkan tangan, isyarat untuk berpeluk. Lalu berujar, “Sini nak”.
Secepat kilat, Falaq
tidak menanggapi isyarat Kiai Somad, tetapi mengambil posisi sungkem. Kedua
tangannya memegang erat tangan kiai. Ia duduk seperti tasyahud akhir. Punggungnya
membungkuk. Disanalah Falaq menemukan kehangatan, yang begitu lamanya sirna
dari hingar-bingar kehidupannya.
Aku mengintip
fenomena itu. Walau tidak jelas, tapi aku turut larut dalam suasana. Kuusap
kedua belah mataku. Basah, kurasakan. Tak kusadari aku menangis. Menyaksikan,
sebuah drama kehidupan manusia. Ketika mereka pergi, nyaris hilang dan akhirnya
kembali, pulang. Inilah arti, semuanya berawal dari rumah. Tempat dibesarkan,
diangkat, diajar dan dididik. Tempat yang penuh arti.
Tanganku mengadah,
seraya bermunajat kepada Sang Maha Kuasa. Limpahkan hidayah dan taufiq-Mu
agar tetap berada dalam jalan yang Engkau ridloi.
Surabaya, 23 Maret
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar