Selasa, 22 Maret 2016

KIAI SOMAD 3 (Episode: Alumni 1)

Al Mufti Bhutasvara - Kehidupan pesantren itu sederhana, yang penting apa-apa ada, apa-apa cukup. Apalagi Pesantrennya Kiai Somad yang jauh dari hiruk pikuk gemerlapnya dunia luar. Disini tidak akan ditemukan masyarakat pesantren yang mengenakan aksesoris mewah. Masyarakat pesantren: kiai, keluarga ndalem, santri dan masyarakat sekitar, tidaklah berkecil hati atau sekedar memendam rasa iri kepada mereka yang berpunya: mobil, rumah mewah, harta berlimpah, perhiasan, pakaian ber-merk, mereka tetap bahagia, senantiasa bersahaja. Kunci dan kekuatan tersebut terletak dari akhlaq.

Tidak adanya rasa ke-iri-an itu bukan lantaran masyarakat pesantren kerap berhadapan dengan orang berpunya, melainkan pesantren berada di daerah plosok, dan sangat jarang ditemukan orang yang menggunakan handphone. Jika pun ada itu sangat terbatas, hanya kalangan tertentu: keluarga ndalem beserta pengurus pesantren. Itu pun tidak semuanya keluarga pesantren dan pengurus memiliki.

Barangkali, itulah Pesantren Nurul Yaqin belum mendapat tantangan untuk menguji kesederhanaan. Ibarat seorang muslim taqwa, takkan teruji ketaqwaannya selama belum mendapat godaan. Hal itu terbantah ketika Kiai Somad pagi itu mengeluarkan kata-kata mutiara yang menyihir hati santri.

“Disini kalian semuanya dididik untuk menjadi muslim yang sederhana. Seperti Nabi Muhammad sholallahu alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita. Walau nabi memiliki kekayaan, tetapi ketika nabi meninggal tidak banyak harta yang ditinggalkan. Hati-hati ya santriku semuanya, kalian aku cintai, jangan sekali-kali menghambur-hamburkan harta dan gila dunia. Bukan harta yang membuatmu bahagia, tapi imanmu.”

Cuaca sedang kemarau. Suhu derajat begitu tinggi. Suasana menjadi panas sekali. Tidak jarang santri yang berkeringat sampai sekujur punggung, ubun-ubun, pelipis mereka terbasahi keringat. Serasa mandi pada saat itu. Tetapi pengajian yang dibawa Kiai Somad membuat santri terhalusinasi. Mereka tidak lagi menghiraukan teriknya matahari yang membakar kulit mereka. Kalau gosong, ya wis. Seakan-akan ada hembusan angin gaib yang menyelubungi jiwa mereka. Sejuk.

Beberapa saat kemudian, setelah Kiai meletakan cangkir kopinya. Satu hembusan rokok yang terjepit diantara jari telunjuk dan tengah, lalu Kiai melanjutkan pengajian.

“Santri-santriku semuanya, alumni-alumni Pesantren Nurul Yaqin itu di masyarakat, mereka mampu mempertahankan kesederhanaannya. Walau ada beberapa santri yang kaya, mereka tetap sederhana. Mereka tetap dicintai masyarakatnya, mereka tetap ditokohkan di lingkungannya. Tak banyak alumni yang masuk jabatan politik di pemerintahan atau perusahaan. Karena masyarakat butuh akhlaq.”

Mendengar ucapan Kiai Somad itu, beberapa santri muda merasa bercahaya hatinya, percaya diri jiwanya. Jauh dari mental inlander: yaitu jiwa yang selalu kurang percaya diri, minder, lemah ketika dihadapkan dengan lingkungan lain yang dipandang lebih beradap dan maju. Pesantren, semuanya dibekali, ilmu, akhlaq terutama mental. Mereka siap hidup di kelas sosial mana saja, di lingkungan apa saja, bukan untuk merajai dan menguasai tapi untuk menolong dan mencerahkan. Seperti pesan Kiai Somad, “urip iku urup le”[1]

Mereka dibesarkan dari gubug pesantren. Setiap hari sudah terlatih urip soro[2]: masak, mencuci pakaian, mandi semua dilakukan sendiri. Jauh berbeda dengan anak-anak kelas menengah yang tidak mondok, mereka semua serba dilayani. Setiap saat mereka dilatih bersabar dari sekedar sabar mengantri jeding[3] sampai bersabar untuk menahan amarah ketika diledek temannya.

Kiai Somad teramat sayang dengan santrinya. Ia pun tidak rela bila santrinya kelak: ketika telah lulus dari pesantren di masyarakat tidak mendapat pekerjaan atau barangkali merasa kurang percaya diri bilamana ijazah pesantren tidak berlaku di perusahaan atau lembaga pemerintahan.

“Santriku, jangan berkecil hati. Rizki Allah lebih besar dari sekedar rupiah. Tanamkan dalam jiwamu untuk tolong-menolong, itu dasar dari berdagang (wirasusaha). Jangan bertujuan mencari harta semata, tapi niatkanlah ‘membantu’ masyarakat agar terbebas dari jurang kemiskinannya, maka pertolongan Allah akan dekat padamu. Mencari harta takkan ada ujungnya dan kalian akan terperosok pada jurang kekufuran. Menolong akan membuat hatimu tenang, jiwamu bahagia dan syukurmu makin berlipat-lipat.”

Setiap hari selasa, Kiai Somad mengajak santri-santri pergi ke sawah dan peternakan. Bukan sekedar untuk dilihat saja, melainkan santri diajak untuk menanam: padi, jagung, kedelai, melon, pisang, dan merawat hewan: sapi, kerbau, ayam, sapi dan kambing. Beberapa santri sempat mengeluh kepada Kiai Somad, jijik dan takut, barangkali badan mereka kotor, barangkali di sawah ada ular.

Tangan halus dan ucapan Kiai Somad yang mampu menyihir itu. “Jika kalian jijik dengan kotoran maka hati kalian juga sama. Sama-sama kotor. Jika kalian takut, maka imanmu dipertanyakan”. Pesantren Nurul Yaqin memang belum mengetahui kecanggihan teknologi dan ilmu pengetahuan umum. Lebih banyak mengandalkan pada keyakinan (optimis) sebab tindakan yang dilakukan atas dasar yakin itu lebih ngeh daripada tindakan yang benar tapi penuh keraguan.

Setiap hasil penjualan susu sapi, hewan ternak dan hasil tanaman. Kiai Somad senantiasa membagi hasil itu secara merata kepada santri-santrinya. Ketika selesai dibagi, mereka semuanya mayoran[4]. Tidak ditemukan di pesantren ini, Kiai dan santri memiliki jarak. Sebanding dengan iman ketuhanan Kiai yang tinggi, iman sosial Kiai pun juga tinggi. Itulah, sebab santri begitu terinspirasi.

Pengajian bagi itu begitu hikmat. Bayangan santri melalang buana kemana-mana. Dari kenangan mereka selama di pesantren, seperti susahnya mengantri jeding, melawan rasa jijiknya pada hewan ternak, sampai impian-impian mereka kelak ketika lulus dari pesantren. Dari yang ingin berdagang, membuat majlis ta’lim: TPQ dan madrasah, sampai mendirikan pesantren.

Pagi itu, suasana alam begitu syahdu. Seakan pengajian direstui oleh seluruh alam. Bagi yang memiliki mata batin, pasti akan mendengar seperti suara lebah, kemruyuk, dan kalau didengar lamat-lamat. Suara itu ternyata ucapan kalimat tahmid, tasbih dan tahlil. Mereka para kekasih Allah dan orang-orang pilihan-Nya saja yang mempunyai mata batin.

 Tiba-tiba, air muka Kiai Somad menjadi kecut. Cahaya yang terpantul dari wajah mendadak buram. Seperti gerhana matahari. Santri menangkap fenomena itu. Mereka saling berbisik-bisik sambil ditutupi pergerakan mulutnya dari arah pandangan kiai. Tak lama, kiai angkat suara
“Dahulu ada seorang santri yang ulet dan cerdas. Setiap sholat berjamaah ia selalu berada di shaf pertama. Apalagi dalam pelajaran, setiap malam ia selalu muthola’ah dan mendaras bab yang akan diajarkan. Dalam pergaulan ia selalu mudah bersosial. Karena ulet, cerdas, dan supelnya pernah aku angkat menjadi keluarga ndalem”.

Sekilas Kiai Somad menjeda pengajiannya. Ada salah seorang santri yang menyahuti cerita Kiai Somad,

“Kiai, nuwun sewu, lalu sekarang bagaiman keadaan santri itu? Sepertinya dia jadi orang yang sukses engge?” sahut seorang santri muda, bernama Ali.

“Tidak” Kiai Somad menjawab singkat. Seakan ada perasaan dan emosi yang tersimpan dari kiai atau seperti ada borok yang ingin ditutupi. Entah, hanya kiai yang tahu. Ada keraguan untuk meneruskan pertanyaan, tapi rasa penasaran Ali mengalahkan segalanya.

“Tidak bagaimana kiai? Tidak sukses engge,” Ali mengulang jawaban dari Kiai Somad, berharap asumsinya dapat diperkuat.

“Ia tidak sukses, menurutku,” Jawaban Kiai Somad, semakin membuat tanda tanya. Tidak hanya Ali yang terpantik penasaran. Tapi santri yang lebih senior juga memendam. Berarti kesuksesan seperti apa yang dimaksud kiai? Pertanyaan kecil itu memaksa untuk diletuskan oleh bibir mereka, tapi tidak, karena ta’dzim[5] pada kiai, hanya bersarang di hati.

“Jadi sebenarnya dia jadi orang sukses, kiai?,” Kembali pertanyaan dilempar kepada Kiai Somad, oleh Hamid, santri seperantara Ali. Jiwa mereka masih labil, jiwa mereka masih meledak-ledak, belum mampu dikontrol dengan bijak.

Kiai Somad mengernyitkan dahinya, lalu memandang ke langit-langit. Matanya melirik ke ujung kanan atas. Seperti mengingat-ingat sesuatu.

 ‘Di Ibu Kota. Matahari mencapai ketinggiannya. Tepat di atas ubun-ubun. Saking teriknya matahari, membuat pandangan terfatamorgana, dari kejauhan terlihat bergelombang. Panasnya kota Jakarta membakar kulit pejalan kaki dan pekerja kelas bawah: pedagang asongan, sopir dan kernet Kopaja, pengemis, pengamen. Tak akan ditemui, Jakarta yang dipenuhi rimbunan pohon, kecuali ditempat-tempat kelas atas, seperti kawasan Menteng’.

‘Cuaca dengan temperatur suhu yang ekstrim ini membuat seorang pria tua tak terbiasa. Sebab di daerahnya, masih banyak ditemukan hijau-hujauan: pohon dan tanaman terjuntai sampai ke langit-langit, tanah begitu subur, kadar oksigenpun berlimpah-limpah. Sejuk terasa’.

‘Berkali-kali pria tua itu mengibaskan topi bundarnya. Tapi panas tak kunjung surut, hawa sejuk tak kunjung tiba. Apalagi di Kopaja, penuh sesak penumpang, di tambah hiruk-pikuk keramaian: suara musik dangdut, nyanyian pengamen yang tak begitu merdu. Suasana menjadi tak menentu. Tapi semua keluh itu ditampiknya, sebab di hatinya tersimpan sebuah harapan. Di tangannya menggenggam sepucuk kertas bertuliskan alamat: sebuah alamat Perumahan Pondok Indah, Blok D/V, Jakarta Selatan’. Disinalah harapan pria tua itu, menemui seseorang, kebanggaannya.

“Bagaimana keadaannya Falaq?” bisik pria tua dalam hati.

‘Sampailah di alamat tujuan. Terlihat rumah mewah yang bertingkat tiga lantai. Lantainya menggunakan keramik marmer yang harganya mahal. Di garasi, terbungkung sebuah mobil Fortuner dengan kain pelindung. Di teras rumah, seorang gadis dengan pakaian sederhana,  dari perawakannya terlihat sedaerah dengan pria itu, sedang menyapu di sekitar’.

‘Pria tua itu menyapa sang gadis, yang tidak lain adalah pembantu rumah tangga. Ia meminta tolong agar dipanggilkan seseorang bernama Falaq. Ia sampaikan kepada gadis itu, karena ada orang yang ingin meminta pertolongan’.

‘Tak lama kemudian, keluarlah, sosok pria berpenampilan necis ala kantoran. Terlihat ia sedang basa-basi dengan pembantunya. Sang gadis tadi berbicara dengan majikannya sambil menoleh ke arah pria tua yang berada di depan pagar. Pria itu pun menoleh ke arah yang sama. Segera ia hampiri pria tua dan dipersilahkannya masuk ke dalam’.

Sampian yang bernama Falaq?,” kata pria tua itu yang mengaku seorang badui dari kalangan tidak mampu.

“Benar, saya Falaq. Ada maksud apa kedatangan bapak kemari?,” Tanyanya dengan santun dan berwibawa.

“Saya ingin meminta tolong, bapak Falaq memberi uang kepada saya,” Kata pria badui itu, sambil tertunduk lesu.

“Maaf bapak, sebelumnya apa bapak tidak membaca plakat di sana?,” Ujar Falaq sambil menunjuk ke arah pagar.

“Maaf, saya belum sempat membaca,” badui itu turut menoleh ke arah pagar.

Sri, cabutkan plakat disana. Mau aku suruh baca bapak ini,” kata Falaq setengah membentak.

“Iya pak,” bergegas, Sri, sang pembantu mengambil pelakat dan melepaskannya dari paku yang menggantung.

“Ini pak,” kata Sri, singkat

‘Disodorkannya plakat itu kepada pria badui, agar ia mampu membaca. Disana tertulis: TIDAK MENERIMA PENGEMIS!. Sontak, detak jantung pria badui itu berdetak kencang, serasa akan lepas. Keringatnya meleleh, ketegangan merunyak seisi raga, membaca plakat itu. Kecewa dan amarah ingin rasanya diledakkan di sana juga. Tapi apalah daya, ia harus siap menerima segala kemungkinan. Baik kemungkinan baik, maupun buruk juga. Ia bersusah payah mengembalikan suasana hati pada niat awal: ingin tahu bagaimana Falaq sekarang’.

“Sudahlah..” ucap lirik pria badui.

“Silahkan bapak keluar baik-baik dari rumah ini. Harap diingat, di rumah ini tidak menerima pengemis. Ini kota Jakarta, marak sekali kriminalitas. Mafia, pencuri, perampok, begal, semua berkeliaran. Saya tidak mau berburuk sangka dengan bapak. Saya mohon, keluar baik-baik,”

‘Berlalu pria badui itu, sampai tidak terlihat lagi oleh Falaq dari pandangannya.’

“Beberapa hari lalu, aku mengunjungi santri itu. Tapi aku menyamar agar tidak diketahui siapa aku. Aku ingin tahu respon dia ketika berhadapan dengan orang yang berpakaian compang-camping kemudian meminta tolong kepadanya,” kenang Kiai Somad, setengah terengah-engah. Air keluar dari pelupuk matanya. Mengalir pelan menyusuri garis-garis mukanya yang berkerut.

Air mata santri yang mendengar itu juga meleleh. Dalam hati mereka, betapa teganya alumni itu menelantarkan kiai. Padahal kiai sudah susah payah berangkat dari sini. Padahal di pesantren sudah banyak diajarkan agar gemar menolong siapa saja. Padahal di pesantren ditekankan agar berprasangka baik. Padahal... padahal... padahal.

Akhir pengajian yang dramatis dengan dibubuhi cerita dari kiai. Seperti sedang mengakhiri sebuah drama kisah asmara Laila dan Majnun (Qosim) yang melankonis itu. Kiai Somad sebelum memungkasi pengajian, meminta agar membacakan surat al-Fatihah yang ditujukan kepada leluhur, sanak keluarga agar tidak melupakan jasa mereka. Kemudian ditujukan kepada orang-orang sedunia yang belum mendapatkan hidayah[6] dari-Nya. Supaya dibukakan jalan kebenaran dan diterima segala dosanya.

Al-Fatihah...”

(Bersambung ke: Episode Alumni 2)








[1] Hidup itu menerangi. Menerangi artinya mampu menjadi rujukan ketika orang sekitar kesusahan. Murah senyum. Mudah bergaul. Gemar menolong. Mereka menerangi hati orang-orang yang gelap.
[2] Hidup susah
[3] Kamar mandi
[4] Makan bersama dengan satu wadah (nampan, daun pisang, atau daun jati).
[5] hormat
[6] Petunjuk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar