Al Mufti Bhutasvara - Kehidupan pesantren itu sederhana, yang penting apa-apa
ada, apa-apa cukup. Apalagi Pesantrennya Kiai Somad yang jauh dari hiruk pikuk
gemerlapnya dunia luar. Disini tidak akan ditemukan masyarakat pesantren yang
mengenakan aksesoris mewah. Masyarakat pesantren: kiai, keluarga ndalem,
santri dan masyarakat sekitar, tidaklah berkecil hati atau sekedar memendam
rasa iri kepada mereka yang berpunya: mobil, rumah mewah, harta berlimpah,
perhiasan, pakaian ber-merk, mereka tetap bahagia, senantiasa bersahaja. Kunci
dan kekuatan tersebut terletak dari akhlaq.
Tidak adanya rasa ke-iri-an itu bukan lantaran masyarakat
pesantren kerap berhadapan dengan orang berpunya, melainkan pesantren berada di
daerah plosok, dan sangat jarang ditemukan orang yang menggunakan handphone.
Jika pun ada itu sangat terbatas, hanya kalangan tertentu: keluarga ndalem
beserta pengurus pesantren. Itu pun tidak semuanya keluarga pesantren dan
pengurus memiliki.
Barangkali, itulah Pesantren Nurul Yaqin belum mendapat
tantangan untuk menguji kesederhanaan. Ibarat seorang muslim taqwa, takkan
teruji ketaqwaannya selama belum mendapat godaan. Hal itu terbantah ketika Kiai
Somad pagi itu mengeluarkan kata-kata mutiara yang menyihir hati santri.
“Disini kalian semuanya dididik untuk menjadi muslim yang
sederhana. Seperti Nabi Muhammad sholallahu alaihi wa sallam mengajarkan
kepada kita. Walau nabi memiliki kekayaan, tetapi ketika nabi meninggal tidak
banyak harta yang ditinggalkan. Hati-hati ya santriku semuanya, kalian aku
cintai, jangan sekali-kali menghambur-hamburkan harta dan gila dunia. Bukan
harta yang membuatmu bahagia, tapi imanmu.”
Cuaca sedang kemarau. Suhu derajat begitu tinggi. Suasana
menjadi panas sekali. Tidak jarang santri yang berkeringat sampai sekujur
punggung, ubun-ubun, pelipis mereka terbasahi keringat. Serasa mandi pada saat
itu. Tetapi pengajian yang dibawa Kiai Somad membuat santri terhalusinasi.
Mereka tidak lagi menghiraukan teriknya matahari yang membakar kulit mereka.
Kalau gosong, ya wis. Seakan-akan ada hembusan angin gaib yang
menyelubungi jiwa mereka. Sejuk.
Beberapa saat kemudian, setelah Kiai meletakan cangkir
kopinya. Satu hembusan rokok yang terjepit diantara jari telunjuk dan tengah,
lalu Kiai melanjutkan pengajian.
“Santri-santriku semuanya, alumni-alumni Pesantren Nurul
Yaqin itu di masyarakat, mereka mampu mempertahankan kesederhanaannya. Walau
ada beberapa santri yang kaya, mereka tetap sederhana. Mereka tetap dicintai
masyarakatnya, mereka tetap ditokohkan di lingkungannya. Tak banyak alumni yang
masuk jabatan politik di pemerintahan atau perusahaan. Karena masyarakat butuh akhlaq.”
Mendengar ucapan Kiai Somad itu, beberapa santri muda
merasa bercahaya hatinya, percaya diri jiwanya. Jauh dari mental inlander: yaitu
jiwa yang selalu kurang percaya diri, minder, lemah ketika dihadapkan
dengan lingkungan lain yang dipandang lebih beradap dan maju. Pesantren,
semuanya dibekali, ilmu, akhlaq terutama mental. Mereka siap hidup di
kelas sosial mana saja, di lingkungan apa saja, bukan untuk merajai dan
menguasai tapi untuk menolong dan mencerahkan. Seperti pesan Kiai Somad, “urip
iku urup le”[1]
Mereka dibesarkan dari gubug pesantren. Setiap hari sudah
terlatih urip soro[2]: masak,
mencuci pakaian, mandi semua dilakukan sendiri. Jauh berbeda dengan anak-anak
kelas menengah yang tidak mondok, mereka semua serba dilayani. Setiap
saat mereka dilatih bersabar dari sekedar sabar mengantri jeding[3] sampai
bersabar untuk menahan amarah ketika diledek temannya.
Kiai Somad teramat sayang dengan santrinya. Ia pun tidak
rela bila santrinya kelak: ketika telah lulus dari pesantren di masyarakat
tidak mendapat pekerjaan atau barangkali merasa kurang percaya diri bilamana
ijazah pesantren tidak berlaku di perusahaan atau lembaga pemerintahan.
“Santriku, jangan berkecil hati. Rizki Allah lebih besar
dari sekedar rupiah. Tanamkan dalam jiwamu untuk tolong-menolong, itu dasar
dari berdagang (wirasusaha). Jangan bertujuan mencari harta semata, tapi
niatkanlah ‘membantu’ masyarakat agar terbebas dari jurang kemiskinannya, maka
pertolongan Allah akan dekat padamu. Mencari harta takkan ada ujungnya dan
kalian akan terperosok pada jurang kekufuran. Menolong akan membuat hatimu
tenang, jiwamu bahagia dan syukurmu makin berlipat-lipat.”
Setiap hari selasa, Kiai Somad mengajak santri-santri
pergi ke sawah dan peternakan. Bukan sekedar untuk dilihat saja, melainkan
santri diajak untuk menanam: padi, jagung, kedelai, melon, pisang, dan merawat
hewan: sapi, kerbau, ayam, sapi dan kambing. Beberapa santri sempat mengeluh kepada
Kiai Somad, jijik dan takut, barangkali badan mereka kotor, barangkali di sawah
ada ular.
Tangan halus dan ucapan Kiai Somad yang mampu menyihir
itu. “Jika kalian jijik dengan kotoran maka hati kalian juga sama. Sama-sama
kotor. Jika kalian takut, maka imanmu dipertanyakan”. Pesantren Nurul Yaqin
memang belum mengetahui kecanggihan teknologi dan ilmu pengetahuan umum. Lebih
banyak mengandalkan pada keyakinan (optimis) sebab tindakan yang dilakukan atas
dasar yakin itu lebih ngeh daripada tindakan yang benar tapi penuh
keraguan.
Setiap hasil penjualan susu sapi, hewan ternak dan hasil
tanaman. Kiai Somad senantiasa membagi hasil itu secara merata kepada
santri-santrinya. Ketika selesai dibagi, mereka semuanya mayoran[4].
Tidak ditemukan di pesantren ini, Kiai dan santri memiliki jarak. Sebanding
dengan iman ketuhanan Kiai yang tinggi, iman sosial Kiai pun juga tinggi.
Itulah, sebab santri begitu terinspirasi.
Pengajian bagi itu begitu hikmat. Bayangan santri
melalang buana kemana-mana. Dari kenangan mereka selama di pesantren, seperti
susahnya mengantri jeding, melawan rasa jijiknya pada hewan ternak,
sampai impian-impian mereka kelak ketika lulus dari pesantren. Dari yang ingin
berdagang, membuat majlis ta’lim: TPQ dan madrasah, sampai mendirikan
pesantren.
Pagi itu, suasana alam begitu syahdu. Seakan pengajian
direstui oleh seluruh alam. Bagi yang memiliki mata batin, pasti akan mendengar
seperti suara lebah, kemruyuk, dan kalau didengar lamat-lamat. Suara itu
ternyata ucapan kalimat tahmid, tasbih dan tahlil. Mereka para
kekasih Allah dan orang-orang pilihan-Nya saja yang mempunyai mata batin.
Tiba-tiba, air
muka Kiai Somad menjadi kecut. Cahaya yang terpantul dari wajah mendadak buram.
Seperti gerhana matahari. Santri menangkap fenomena itu. Mereka saling
berbisik-bisik sambil ditutupi pergerakan mulutnya dari arah pandangan kiai.
Tak lama, kiai angkat suara
“Dahulu ada seorang santri yang ulet dan cerdas. Setiap
sholat berjamaah ia selalu berada di shaf pertama. Apalagi dalam
pelajaran, setiap malam ia selalu muthola’ah dan mendaras bab yang akan
diajarkan. Dalam pergaulan ia selalu mudah bersosial. Karena ulet, cerdas, dan
supelnya pernah aku angkat menjadi keluarga ndalem”.
Sekilas Kiai Somad menjeda pengajiannya. Ada salah
seorang santri yang menyahuti cerita Kiai Somad,
“Kiai, nuwun sewu, lalu sekarang bagaiman keadaan
santri itu? Sepertinya dia jadi orang yang sukses engge?” sahut seorang
santri muda, bernama Ali.
“Tidak” Kiai Somad menjawab singkat. Seakan ada perasaan
dan emosi yang tersimpan dari kiai atau seperti ada borok yang ingin ditutupi.
Entah, hanya kiai yang tahu. Ada keraguan untuk meneruskan pertanyaan, tapi
rasa penasaran Ali mengalahkan segalanya.
“Tidak bagaimana kiai? Tidak sukses engge,” Ali mengulang
jawaban dari Kiai Somad, berharap asumsinya dapat diperkuat.
“Ia tidak sukses, menurutku,” Jawaban Kiai Somad, semakin
membuat tanda tanya. Tidak hanya Ali yang terpantik penasaran. Tapi santri yang
lebih senior juga memendam. Berarti kesuksesan seperti apa yang dimaksud kiai?
Pertanyaan kecil itu memaksa untuk diletuskan oleh bibir mereka, tapi tidak,
karena ta’dzim[5]
pada kiai, hanya bersarang di hati.
“Jadi sebenarnya dia jadi orang sukses, kiai?,” Kembali
pertanyaan dilempar kepada Kiai Somad, oleh Hamid, santri seperantara Ali. Jiwa
mereka masih labil, jiwa mereka masih meledak-ledak, belum mampu dikontrol
dengan bijak.
Kiai Somad mengernyitkan dahinya, lalu memandang ke
langit-langit. Matanya melirik ke ujung kanan atas. Seperti mengingat-ingat
sesuatu.
‘Di Ibu Kota.
Matahari mencapai ketinggiannya. Tepat di atas ubun-ubun. Saking teriknya
matahari, membuat pandangan terfatamorgana, dari kejauhan terlihat
bergelombang. Panasnya kota Jakarta membakar kulit pejalan kaki dan pekerja
kelas bawah: pedagang asongan, sopir dan kernet Kopaja, pengemis, pengamen. Tak
akan ditemui, Jakarta yang dipenuhi rimbunan pohon, kecuali ditempat-tempat
kelas atas, seperti kawasan Menteng’.
‘Cuaca dengan temperatur suhu yang ekstrim ini membuat
seorang pria tua tak terbiasa. Sebab di daerahnya, masih banyak ditemukan
hijau-hujauan: pohon dan tanaman terjuntai sampai ke langit-langit, tanah
begitu subur, kadar oksigenpun berlimpah-limpah. Sejuk terasa’.
‘Berkali-kali pria tua itu mengibaskan topi bundarnya.
Tapi panas tak kunjung surut, hawa sejuk tak kunjung tiba. Apalagi di Kopaja,
penuh sesak penumpang, di tambah hiruk-pikuk keramaian: suara musik dangdut,
nyanyian pengamen yang tak begitu merdu. Suasana menjadi tak menentu. Tapi
semua keluh itu ditampiknya, sebab di hatinya tersimpan sebuah harapan. Di tangannya
menggenggam sepucuk kertas bertuliskan alamat: sebuah alamat Perumahan Pondok
Indah, Blok D/V, Jakarta Selatan’. Disinalah harapan pria tua itu, menemui
seseorang, kebanggaannya.
“Bagaimana keadaannya Falaq?” bisik pria tua dalam hati.
‘Sampailah di alamat tujuan. Terlihat rumah mewah yang
bertingkat tiga lantai. Lantainya menggunakan keramik marmer yang harganya
mahal. Di garasi, terbungkung sebuah mobil Fortuner dengan kain pelindung. Di
teras rumah, seorang gadis dengan pakaian sederhana, dari perawakannya terlihat sedaerah dengan
pria itu, sedang menyapu di sekitar’.
‘Pria tua itu menyapa sang gadis, yang tidak lain adalah
pembantu rumah tangga. Ia meminta tolong agar dipanggilkan seseorang bernama
Falaq. Ia sampaikan kepada gadis itu, karena ada orang yang ingin meminta
pertolongan’.
‘Tak lama kemudian, keluarlah, sosok pria berpenampilan
necis ala kantoran. Terlihat ia sedang basa-basi dengan pembantunya. Sang gadis
tadi berbicara dengan majikannya sambil menoleh ke arah pria tua yang berada di
depan pagar. Pria itu pun menoleh ke arah yang sama. Segera ia hampiri pria tua
dan dipersilahkannya masuk ke dalam’.
“Sampian yang bernama Falaq?,” kata pria tua itu
yang mengaku seorang badui dari kalangan tidak mampu.
“Benar, saya Falaq. Ada maksud apa kedatangan bapak
kemari?,” Tanyanya dengan
santun dan berwibawa.
“Saya ingin meminta tolong, bapak Falaq memberi uang
kepada saya,” Kata pria badui
itu, sambil tertunduk lesu.
“Maaf bapak, sebelumnya apa bapak tidak membaca plakat di
sana?,” Ujar Falaq sambil
menunjuk ke arah pagar.
“Sri, cabutkan plakat disana. Mau aku suruh baca bapak
ini,” kata Falaq setengah membentak.
“Iya pak,” bergegas, Sri, sang pembantu mengambil pelakat dan melepaskannya dari paku
yang menggantung.
“Ini pak,” kata Sri, singkat
‘Disodorkannya plakat itu kepada pria badui, agar ia
mampu membaca. Disana tertulis: TIDAK MENERIMA PENGEMIS!. Sontak, detak jantung
pria badui itu berdetak kencang, serasa akan lepas. Keringatnya meleleh,
ketegangan merunyak seisi raga, membaca plakat itu. Kecewa dan amarah ingin
rasanya diledakkan di sana juga. Tapi apalah daya, ia harus siap menerima
segala kemungkinan. Baik kemungkinan baik, maupun buruk juga. Ia bersusah payah
mengembalikan suasana hati pada niat awal: ingin tahu bagaimana Falaq
sekarang’.
“Sudahlah..” ucap lirik pria badui.
“Silahkan bapak keluar baik-baik dari rumah ini. Harap
diingat, di rumah ini tidak menerima pengemis. Ini kota Jakarta, marak sekali
kriminalitas. Mafia, pencuri, perampok, begal, semua berkeliaran. Saya tidak
mau berburuk sangka dengan bapak. Saya mohon, keluar baik-baik,”
‘Berlalu pria badui itu, sampai tidak terlihat lagi oleh
Falaq dari pandangannya.’
“Beberapa hari lalu, aku mengunjungi santri itu. Tapi aku
menyamar agar tidak diketahui siapa aku. Aku ingin tahu respon dia ketika
berhadapan dengan orang yang berpakaian compang-camping kemudian meminta tolong
kepadanya,” kenang Kiai Somad, setengah terengah-engah. Air keluar dari pelupuk
matanya. Mengalir pelan menyusuri garis-garis mukanya yang berkerut.
Air mata santri yang mendengar itu juga meleleh. Dalam
hati mereka, betapa teganya alumni itu menelantarkan kiai. Padahal kiai sudah
susah payah berangkat dari sini. Padahal di pesantren sudah banyak diajarkan
agar gemar menolong siapa saja. Padahal di pesantren ditekankan agar
berprasangka baik. Padahal... padahal... padahal.
Akhir pengajian yang dramatis dengan dibubuhi cerita dari
kiai. Seperti sedang mengakhiri sebuah drama kisah asmara Laila dan Majnun
(Qosim) yang melankonis itu. Kiai Somad sebelum memungkasi pengajian, meminta
agar membacakan surat al-Fatihah yang ditujukan kepada leluhur, sanak
keluarga agar tidak melupakan jasa mereka. Kemudian ditujukan kepada
orang-orang sedunia yang belum mendapatkan hidayah[6] dari-Nya.
Supaya dibukakan jalan kebenaran dan diterima segala dosanya.
“Al-Fatihah...”
(Bersambung ke: Episode Alumni 2)
[1]
Hidup itu menerangi. Menerangi
artinya mampu menjadi rujukan ketika orang sekitar kesusahan. Murah senyum.
Mudah bergaul. Gemar menolong. Mereka menerangi hati orang-orang yang gelap.
[2]
Hidup susah
[3]
Kamar mandi
[4]
Makan bersama dengan satu wadah
(nampan, daun pisang, atau daun jati).
[5]
hormat
[6]
Petunjuk
Tidak ada komentar:
Posting Komentar