Kamis, 29 Desember 2016

Gigi Gingsul

Sudah di tahun ke sekian. Nalta memintaku duduk manis di teras. Menunggu kedatangannya. Melihat gigi gingsulnya kalau tersenyum, manis!

Pada secarik kertas kutulis pelan namanya: Nalta Yarof. "KUMERINDUKANMU." Mungkin jika ajal menjemputku, ia mendapati kertas ini dari saku dadaku, tepat di jantung.

Jika ia benar-benar datang. Dan memungut kertas ini. Kalau memang ia cintaiku, ia akan menyusulku. Ke tempat ajalku.

Surabaya, Desember 2016

Rabu, 28 Desember 2016

ANAK RAJA

DI LUAR ISTANA, Wardana merasa bebas. Benar-benar bebas. Bebas dari tembok dan bebas dari adat. Wardana bernapas lega, dan puas. Ia tak peduli dicari Raja, ayahnya, prajuritnya, dan telik sandinya. Ia tak peduli dikatai durhaka.

"Hore! Yang penting aku bebas." teriak Wardana berlari berlompatan menyusuri jalan sambil melepas sepatu dan kaus kaki.

Di samping kanan dan kirinya. Ia lihat ibu-ibu dan anaknya akrab dan tertawa. Sesuatu yang dirindukan, lebih tepatnya diirikan Wardana. Di istana tak didapatkan keceriaan, dan kebahagiaan. Harta Raja, ayahnya, yang berlimpah tak mampu membeli 'rasa'; rasa senang, dan rasa cinta. Atau tak dapat membeli obat kerinduan.

Hanya di luar sana. Bersama rakyat Raja, ayah Wardana, ia tahu kebahagiaan itu.

Di depannya terlihat seorang anak menangisi layangannya yang menansang di ranting pohon. Wardana dengan telanjang kaki memanjat. Dan menyerahkan layang-layang, anak itu tersenyum gembira. Bahagianya hati Wardana. Bahagia karena memberi, bukan membeli.

Wardana berjalan dan berjalan. Tak tahu seberapa jauh. Berapa dusun, dan desa yang terlampau. Kegembiraan yang sangat, telah mabuk, bergerak tanpa sadar dari kelelahan. Sampai ia menjumpai sebuah joglo.

Lengkap dengan pohon jambu dan pohon keres. Pun di sekitar pagarnya ditanami tanaman dan bunga-bunga. Di dalam joglo terlihat beberapa anak duduk melingkar, mendengarkan seorang lelaki, gurunya, mengajar.

Ia duduk di bawah bayangan pohon jambu. Kelelahan mulai menyusup pada badannya. Dan memandang anak-anak yang belajar. Ia merasa seumuran dengan mereka. Mereka belajar dengan gembira dan saling canda. Sebelumnya, di istana, tak didapati seorang teman yang akrab, dapat diajak bercanda, tanpa etika dan tata krama yang kaku.

Beberapa anak keluar dari joglo setelah gurunya menutup.

Seorang anak, siswa joglo, menghampiri Wardana yang tertidur di bawah pohon jambu karena lelah menunggui sampai selesai pengajaran.

Keduanya berkenalan.

"Aku Kusno." kata anak yang dekil, hitam, dan kurus.

"Aku Wardana." Wardana menjabat Kusno.

"Salam kenal."

"Salam kenal."

Senja mulai naik. Kusno mengajak Wardana bermain bola di lapangan, di dekat pematang sawah. Bersama anak-anak, siswa joglo tadi, Wardana bermain sepak bola. Untuk pertama kalinya, ia berkenalan dengan sakitnya tersliding, kotornya bercak-bercak lumpur, dan keringat yang bau.

Permainan bola disudahi. Ketika Pak tani, dan Bu tani mulai pulang dari sawah. Mereka menyeru supaya, anak-anak, kembali ke rumah: hari sudah gelap. Agar tidak culik gandarwa. Pertamakalinya, Wardana dikenalkan 'gandarwa' oleh Kusno, di jalan, hantunya rakyat. Di lingkungan raja-raja tidak dikenal hantu, demon, siluman, apalagi gandarwa. Tapi raja-raja itu sendiri hantunya! Yang menakuti rakyat dengan upeti, perbudakan, dan pancungan. Hantu sendiri bisa saja ditaklukan raja. Di istana sudah ada dukun, atau penyihir yang sakti mandraguna. Bersama Kusno, Wardana berkenalan dengan rasa 'takut'. Dan ketegangan saat menghadapi ketakutan.

Rumah Kusno jauh dari kata 'layak'. Temboknya dari anyaman bambu yang mudah ditembus angin malam. Wardana sekali lagi, berkenalan dengan 'dingin'. Ia diberi selembar kambal oleh ibunya Kusno. Bersama Kusno dan ayahnya, ia menghangatkan diri di depan perapian.

Adat Jawa, apalagi di pedalaman selalu mengaitkan anak dengan orang tuanya.

"Anak siapa kamu?" Tanya Sunadi, ayah Kusno.

"Aku?" Wardana mengernyitkan dahi, saking gembiranya, sampai lupa: siapa ayahnya. "Aku anaknya Raja."

Sunadi dan Kusno membeliakan mata. Kusno terlompat dari perapian. Sunadi terpaku pada Wardana.

"Wardana, kamu sungguh anak Raja?" Kusno bertanya dengan heran-heran.

"Iya," kata Wardana datar, "Kenapa?"

"Kenapa kamu keluar tanpa pengawalan prajurit? Dan membiarkan dirimu kedinginan dan kelaparan bersama kami."

"Di istana tidak enak." kata Wardana. "Aku boleh menjadi anaknya Pak Sunadi?"

Baik Kusno dan Sunadi semakin terheran-heran dengan Wardana. Bukankah masyarakat Jawa mengimpikan kehormatan, ketenaran, dan kemapanan. Lebih-lebih jika bagian dari istana, entah sebagai anak, atau selir. Sebab kebutuhan sehari-hari jelas terjamin, mendapat penghormatan, rasa aman tanpa takut diburu upeti, dan makanan serba lezat. Sedang Wardana meninggalkan itu semua.

Pak Sunadi belum menjawab. Wardana menambahi.

"Bagaimana kalau kita berganti peran?" Wardana memandang Kusno, yang berdiri di samping.

"Kusno jadi anak Raja?" Sunadi menegasi pertanyaan Wardana. Kusno menjadi sorotan Sunadi.

Dengan lugu dan ringan, Wardana mengangguk.

"Terima Nak! Terima Nak! Biar ada keturunanku yang berpangkat."

Dua puluh tahun kemudian. Wardana benar-benar menjadi bagian rakyat, menjadi petani seutuhnya. Kulitnya yang kuning, gosong, terbakar matari.

Sedang Kusno marak menjadi Raja. Yang angkuh, keras, dan keji pada rakyatnya. Ia tak mau lagi mengakui dan diakui sebagai rakyat atau raja yang dulunya rakyat. Tak mau! Kusno adalah sebenar-benarnya raja dengan segala kedigdayaannya.

Suatu hari. Raja Kusno bersama iringan pasukan mendatangi bekas rumahnya. Ia pura-pura tidak tahu dan menganggap rumah itu milik sebatas kawulanya.

Di rumah ada Wardana, dan Sunadi yang tengah rebahan karena terserang sakit.

"Wardana mana kamu! Bayar tagihan upetimu," kata Raja Kusno di bibir pintu, "Atau aku bakar rumah ini!"

Surabaya, Desember 2016

Penulis: Much. Taufiqillah Al Mufti

Senin, 26 Desember 2016

Seribu Kisah Memilukan

Dalam rangka memperingati Hari HAM -10 Desember, oleh Much. Taufiqillah Al Muvti

1980. Pada akhir pekan –hari minggu. Menjelang hari natal. Aku dan keluarga, beserta tetangga, mendatangi gereja. Setiap kali akan menjangkah ke gereja, aku diberi pesan sama Ayah: rajinlah ke gereja agar kamu menjadi manusia. Bingung aku memikirkan maksud Ayah. Barangkali usiaku masih remaja, 15 tahun. Senang dan senang yang ada di benak.

Selepas berdoa dari gereja. Di rumah. Aku bertanya kepada Ayah, perihal: ke gereja bakal jadi manusia.

“Nak,” Ayah tersenyum, lalu mencium keningku, “Agama itu hadir untuk mendidik agar menjadi manusia utuh.”

“Aku malah tambah bingung Yah,” kataku, sambil menatap langit-langit: ada atap, lampu, dan kipas yang berderit. Dan keruwetan pikiranku.

“Bagaimana jelaskannya ya,” jidat Ayah berkerut, “Tunggu.” Ayah mengambil Al Kitab. Dan membolak-balik halaman.

“Ini nak,” Ayah menuding pada sebuah paragraf, dan pandanganku menyusul, “Jelaskan?” Seru Ayah.

“Hmm.” Aku mendeham, dan mengangguk dengan ragu.

“Tuhan mendidik manusia dengan ajaran agama. Dan melalui Al Masih,” kata Ayah, “Nah! Al Masih itu contoh manusia utuh Nak. Penyayang, penyabar, berjiwa berani, dan berlaku adil.”

Tetap saja, aku masih belum memahami perkataan Ayah. Tapi aku melihat Ayah begitu kelelahan. Jadi aku pura-pura paham saja.

“Maria,” kata Ayah, “Contoh orang seperti Al Masih, itu seperti pamanmu. Sadar tidak? Kalau setiap bertamu kemari selalu bawa buah tangan?”

“O iya iya,” Jawabku dengan kegirangan.

“Pernah paman kamu marah atau berkata kasar?”

“Tidak pernah, Yah,” kataku sambil mengingat kebiasaan paman, “Paman itu orang baik. Pasti bisa menghibur Maria. Kadang jengkelin, tapi kan maksudnya menyenangkan hati Maria.”

Sejak saat Ayah menjelaskan gereja, agama, Al Masih, dan paman. Bayanganku tentang Tuhan tidak seperti lelaki bertubuh dempal, perutnya buncit, berewokan, dan kalau lagi bertuah suaranya besar dan menggelegar. Melainkan, Tuhan dalam imajinasiku memiliki padanan seperti paman yang murah senyum, sumeh, penyanyang, dan penyabar. Dan selalu mau mendengarkan cerita: senang dan duka. Seperti Tuhan yang menjadi penampungan keluh kesah hamba Nya.

Hari senin yang menegangkan. Pelajaran matematika dengan semua angka, simbol, dan rumusnya yang seram siap menyambutku di sekolahku yang berwajah angker. Apalagi Bu Suhartini yang mengampu. Kekakuan angka dalam matematika, sepertinya, menemukan keserasian dengan Bu Suhartini yang kaku dan garang.

Tak apalah, aku menenangkan diri. Sebab, sepulang dari sekolah aku bersama teman-teman. Mengunjungi panti asuhan: membesuk Yanti. Teman sekelas yang mendera demam berdarah. Sudah dua pekan ini Yanti tidak masuk sekolah. Kasihan sekali Yanti, sudah sejak kecil sebatang kara tanpa orang tua. Saat-saat sakit seperti ini, ia tidak mendapat uluran perhatian dari orang tua, seperti Mamaku yang menyuapi aku kalau sedang sakit. Hatiku terpanggil, berbagi kasih sayang. Jadi tidak sabaran ingin bertemu, bercanda, dan berpelukan dengan Yanti. Lupakan dulu tentang sekolah, matematika, dan Bu Suhartini.

Hore! Pulang sekolah.

Sebelum mengarah ke panti asuhan. Aku menelpon Mama, meminta izin pulang agak terlambat. Mama berpesan agar tidak lama-lama berada di luar. Mama mengkhawatirkan, karena aku wanita. Lebih-lebih komentar Mama, kalau aku cantik. Padahal aku tidak peduli. Soalnya aku merasakan sendiri, setiap berjalan di tengah kerumunan laki-laki, selalu disiul-siul. Aku jadi risih dan kadang-kadang takut. Kata teman-teman, mereka laki-laki buaya.

Kami – aku dan teman-teman - bersepakat membelikan buah-buahan dan jajanan kesukaan Yanti.

“Biasanya Yanti suka apa ya?” Kata Julia.

“Kalau aku ke kantin, pasti buah apel yang pertama disentuh Yanti.” Tukas Niken. Ia temanku yang paling sering bersama Yanti. Keduanya sudah seperti soulmate. Yanti merasa lebih nyaman curhat pada Niken. Begitupun Niken kepada Yanti, sama saja.

“Oke.”

Di pasar Johar. Gedungnya separuh gosong, lantaran tempo hari terbakar. Kabarnya dari Pak Walikota, kebakaran diakibatkan saluran dan aliran listrik yang konslet, kata pedagang itu alasan yang klise dan membosankan. Namun para pedagang menolak direlokasi, mereka tetap bertahan di sudut-sudut pasar yang masih layak. Pedagang pasar kebanyakan beranggapan, kalau pindah-pindah tempat jualan nanti malaikat pemberi rejeki kabur. Pendek kata, mereka masih percaya takhayul. –kemisikinan telah membonsai pikiran jernih pedagang.

Di sanalah – pasar Johar, Semarang. Aku, Julia, dan Niken bertemu seorang Ibu-ibu pedagang buah yang galak dan kasar. Sebenarnya aku ingin beralih dan mencari penjual buah lain. Niken menahanku. Katanya tidak ada lagi selain pedagang ini. Lagi pula, berjam-jam kami mencari penjual buah. Hanya yang di hadapan muka kami, satu-satunya.

Tidak ada pilihan lain, selain meladeninya. Demi Yanti. Ingat kata Ayah, ingat Al Masih, dan ingat paman. Aku mesti menyayang, dan sabar.

“Kenapa harganya sekilo sampai limapuluh ribu?” Kata Niken sambil memegangi sebutir apel, “Apa bisa ditawar Bu?” Kata Niken setengah keras.

“Bisa ditawar Bu?” Tambahku dengan meramahi.

Julia hanya diam. Berdiri di belakang kami. Matanya berpendaran ke segala arah.

“Tidak bisa. Kalau tidak mau, yo wes.” Kata wanita, ibu-ibu, paruh baya dengan memalingkan muka.

“Memang kenapa Bu?” Kataku meramahi, sambil menahan Niken agar tidak bersikap terlalu keras.

“Bukankah yang lain boleh menawar. Kenapa kami tidak boleh Bu?” Kata Niken, yang memaksa angkat bicara.

“Karena kalian China. Kelihatan mata kalian sipit.”

Hati kami berat. Setelah berunding dengan Julia dan Niken, kami sepakat. Akhirnya kami terpaksa merogoh uang: duapuluhlima ribu rupiah. Niken tigabelas ribu. Julia duabelas ribu. Genap limapuluh ribu.

“Ini Bu.” Kata Niken sambil menyerahkan uang. Dan aku menjumput kresek yang di dalamnya ada tumpukan apel sekilo.

Sepanjang menyusuri lorong-lorong pasar. Kami bertiga, aku dan Niken di depan, dan Julia di belakang. Memaki-maki. Niken paling keras mencerca Ibu pedagang buah tadi. Sedang Julia hanya diam dan matanya terus berpendaran kemana-mana. Aku mengawasi, mungkin ada sesuatu yang kurang beres. Tapi kubiarkan. Pikirku semua berjalan baik-baik saja.

Saat keluar dari pasar, dan mencari tumpangan – angkot. Tiba-tiba. Tanpa sepengetahuanku, tangan Julia digeret oleh seorang laki-laki bertato. Kelihatannya: preman. Julia tidak bisa melawan apa-apa. Hanya menjerit histeris. Badannya didekap laki-laki itu. Pasrah. Aku dan Niken mencoba merebut kembali Julia. Sayang, Julia diputar ke balik badan laki-laki bertato itu. Sehingga kami terhadang. Badan laki-laki itu terlalu besar, jadi kami hanya bisa menepuk dan mencakar. Tak mampu bagiku menggulingkan badannya. Sial sekali berat badannya tak seringan bonekaku di kamar.

Pedagang, pembeli, dan warga sekitar yang menyaksikan adegan kekerasan itu hanya terperangah. Acuh. Pura-pura tidak tahu, dan tidak melihat. Tak menghiraukan sama sekali. Mungkin mereka beranggapan, nasib nahas patut bagi kami yang berketurunan Cina. Kalau perlu, dibinasakan.

Tak mampu memiliki daya dan tenaga. Niken memintaku agar menyerahkan apel ke Yanti sendirian.

“Kamu saja, Niken. Yanti lebih menunggumu.”

“Jangan!” Kata Niken keras, “Kamu tidak terlalu kuat buat berhadapan dengan preman begini.” Aku ingat, Niken pernah menjuarai silat tingkat kota. Dan aku percaya padanya.

“Baik-baik.”

Dengan berderai air mata dan kemarahan pada: pedagang apel dan preman. Secepat kilat aku meninggalkan Niken dan Julia dengan berat hati. Janji kepada Yanti, harus dipenuhi, apapun keadaannya. Aku menguatkan diri sendiri.

Sepekan setelah kejadian nahas itu. Tersiar kabar di sekolah, bahwa Julia telah diperkosa oleh preman, saat aku dan Julia ke pasar. Berat Julia menanggung kehormatan yang ternodai dan rasa kehinaan yang luar biasa. Ditambah batin Julia tergoncang, lantaran tidak bisa menerima kenyataan. Keperawanannya telah terampah begitu saja. Diputuskanlah: keluar dari sekolah. Aku dan Niken, dua orang pertama, yang merasa salah karena turut andil mengajak Julia.

Aku dan Niken berkunjung ke rumah Julia, ia menuturkan kepada kami. Kalau sepanjang perjalanan di pasar, tempo hari, ia merasa di mata-matai oleh seseorang. Julia tidak tahu persis gambaran orang itu sampai mendadak muncul dan mencengkeram tubuh Julia. Julia meminta maaf karena tidak mengasih tahu, tapi kami tahan. Sebab kami-lah yang harus memahami watak Julia yang pendiam. Dan kami tidak peka sama sekali.

Saat pulang sekolah. Aku menceritakan segala macam cerita yang kualami beberapa hari ini kepada Ayah. Dan semua cerita itu muaranya satu: kesedihan. Ayah mendengar ceritaku dengan tenang dan kadang mengangguk.

“Ayah,” Aku bersimpuh di kakinya, “Salahkah aku Yah? Nasib Julia gara-gara aku.”

“Bukan kamu Nak,” kata Ayah, “Memang begini nasib kita sebagai orang-orang minoritas.” Tangan Ayah mengangkat kepalaku. Aku memeluk Ayah, erat-erat.

“Apakah aku sudah seperti paman? Apakah aku sudah seperti Al Masih? Yang penyayang,” Kataku sambil menggoncangkan tubuh Ayah, “Ayah, jawablah.”

“Iya Nak.”

Umurku sudah menginjak 17 tahun. Kata muda-mudi namanya sweet seventeen, masa 17 tahun yang manis. Benarkah selama berumur 17 tahun akan selalu manis-manis saja hidupnya?

Ayah menyaraniku agar membuat KTP. Katanya umurku sudah 17 tahun, sudah waktunya. Tapi aku tidak ingin merepotkan Ayah dan Mama. Biar aku sendiri yang mengurus. Sebentar, aku teringat kalau Niken satu kelurahan denganku. Aku punya ide: mengajak Niken.

Di kantor kelurahan, kami disambut seorang petugas, laki-laki kurus berkaca-mata. Ia menyodorkan blanko KTP kepada kami, agar kami isi. Niken berbisik-bisik kepadaku: agamaku tidak tercantum di pilihan. Maka kusuruh membuat pilihan lagi, dan menuliskan agamanya. Setelah kami sodorkan kembali blanko KTP. Petugas itu mengoreksi, dan tak lama mendeham.

“Siapa yang Niken?”

“Saya Pak.”Jawab Niken.

“Ehem,” Petugas itu mendeham, “Agamamu apa?”

“Saya Konghucu Pak.”

“Tidak ada agama Konghucu.” Petugas mencoret tulisan Konghucu, “Gini, pilih Islam saja.”

Surabaya, 10 Desember 2016

SANTRI SIRO

Karya Much. Taufiqillah Al Mufti

Siro, santri yang ta'dzim dan rajin dan gigih. Ia disenangi kiai, dan teman-temannya. Ia tidak seberapa pintar di antara kalangan santri lain. Tapi giatnya Siro mengamalkan amalan kiai, sehingga menjadi "sebab" gemilangnya nasib Siro.

Sekarang Siro sudah lama sekali menjadi alumni pesantren Al Hububi.

Begitulah, penggalan kisah yang dicukil Kiai Gogon kepada para santrinya. Agar lebih bersemangat mengamalkan ajarannya: wirid, dan sebagainya.

Sebagai kiai di desa, Kiai Gogon punya pengaruh meluas seantero negeri. Orang-orang dari, hampir, seluruh pelosok daerah negeri, mak kemruyuk, berjubel berdatangan dan memohon 'pangestu' memondokan anak-anaknya.

Kiai Gogon tidak perlu kerja berat. Setiap hari hanya mengaji dan mengajar. Pemasukannya didapatkan dari sumbangan 'sak ikhlase' para tamu, warga, dan bulanan santri.

Begitupun dengan kondisi santri. Pasokan logistik: berupa bahan makanan pokok dan minum. Tidak berkekurangan. Jika ada pembangunan, ya tinggal dipanggil 'outsourching' tukang-tukang. Pokoknya, santri Al Hububi tinggal dandan cakep, dan datangi pengajian. Kata Kiai Gogon ya itulah berkah dari keikhlasan, maka rejeki datang sendiri. Tidak perlu santri di 'kerja paksa' dan semacam romusha lain yang biadab dan tak berperikemanusiaan. Bahkan, santri tidak diperkenankan mengais uang lagi. Kata Kiai Gogon, "Ngapain santri kok mikirin duit! Kufur!"

Seorang santri bernama Ingsun. Terinspirasi dengan sosok Siro.

Siang dan malam, Ingun membayangkan seorang Siro, jebolan Al Hububi, yang sukses. Ingin sekali Ingsun menjadi Siro. Motivasinya, agar ia tidak bernasib melarat, terus dan terus.

Walau pembayaran bulanan santri dipatok keikhlasan. Ingsun tetap saja kesulitan membayar. Orang tuanya tidak ada, pada saat ia kelas dua aliyah. Lebih menyulitkan lagi: Kiai Gogon melarang santri mengais uang, alias kerja.

Ingsun sudah mencoba berpuluh-puluh kali mengikuti saran Kiai Gogon. Yang sarannya: berhati ikhlas, tahajud, dhuha, dan wirid tiada henti-hentinya. Tetap saja, rejeki tidak kunjung datang sendirinya! Kesal hati Ingsun. Tak lama ia istighfar.

Pada awal bulan. Seluruh santri dihimbau membayar bulanan. Ingsun dari rumah tidak diberikan uang lebih oleh saudaranya, sedang uang pemberian itu hanya cukup untuk ongkos naik kereta kelas 'ekonomi' sampai ke pesantren Al Hububi.

Ingsun bingung setengah mati. Dan pikirannya menuntut haknya pada Tuhannya, setelah ia melaksanakan penuh seluruh ajaran Kiai Gogon. Bahwa sampai detik-detik rejeki itu dibutuhkan pun tidak datang dengan sendirinya. Sedang Ingsun sendiri takut menanyakan ke Kiai Gogon, tentang amalannya yang tak manjur. Su'ul adab kalau memprotes kiai.

Akhirnya, ia punya ide. Kalau menanyakan pada kiai langsung ia takut, tapi kalau sesama santri ia merasa nyaman karena senasib, apalagi jika santri itu patut jadi percontohan.

Ingsun ingin bertemu Siro. Setidaknya sementara Siro lah, sosok santri inspirasinya. Ditanyainya teman dan guru, atas  keberadaan Siro sekarang. Diketahui Siro menetap di kota yang sebelahan dengan kotanya pesantren Al Hububi.

Dengan sisa uang tiket kereta, dan ditambahi hutang sana-sini temannya. Ingsun, bismillahirrohmanirrohim, berangkat!

Sampai di rumah Siro. Ia melihat sebuah becak yang baru saja dibersihkan. Hanya saja Ingsun merasa aneh, sebab rumah Siro yang mewah, ada sebuah becak dan itu simbol orang melarat, kaum kromo, seperti Ingsun sendiri.

"Saya Ingsun, santri Kiai Gogon. Saya dikenalkan sampian oleh Kiai Gogon" Ingsun membuka percakapan. "Kata beliau, sampian bisa sukses karena ulet mengamakan amalan kiai."

Tutup Ingsun. Tidak segera dijawab, Siro menyeruput kopi, dan mempersilakan Ingsun turut menyeruput.

Siro mendeham-deham, dan kemudian batuk ringan.

"Bagaimana kabar Kiai Gogon ya?" Tanya Siro.

Ingsung menjelaskan dengan panjang lebar. Tentang kesehatan Kiai Gogon, aktivitasnya, dan amalannya.

"O ya," kata Ingsun, "Bagaimana sampian bisa sukses. Sedang saya tidak. Padahal tidak kurang sehuruf pun tertinggal kulaksanakan amalan kiai."

"Jangan salah sangka."

"Bagaimana kang?"

Siro menuding, dengan jari jempol, ke suatu arah. Pandangan Ingsun ditolehkan menurut arah tudingan Siro. "Becak," gumam Ingsun.

"Ada apa dengan becak itu kang?"

"Becak itu saksi perjalanan hidup saya, sejak di Al Hububi, lulus dari sana, dan sampai sekarang saya punya perkebunan. Harta tak berkekurangan."

"Sampian bekerja sewaktu nyantri?"

"Iya, benar."

"Tidak 'didukani' (dimarahi) sama kiai Kang?"

"Ya, aku dimarahin sama Kiai Gogon. Bahkan hampir dikeluarkan, ya karena aku tidak mengindahkan nasihat beliau."

"Loh," Ingsun kaget dengan pernyataan Siro, "Kata kiai, sampian bisa sukses dan kaya begini karena ulet mengamalkan ajaran kiai?"

"He-he-he," Siro tertawa sambil memandangi langit yang sementara cerah, "Jangan meniru aku ya! nDablek aku. Kenyataannya aku kerja, selain melaksanakan amalan dan ajaran kiai. Tapi perlu kamu ketahui, semua biaya pembangunan pesantren Al Hububi itu aku yang menyumbang."

"Benarkah?" Ingsun memanjangkan lehernya, "Jujur, Kiai Gogon tidak pernah menyebut sampian penyumbang utama semua pembangunan pesantren."

Siro terkekeh-kekeh. Dan jidat Ingsun berkerut.

Semarang, Desember 2016