Dalam rangka memperingati Hari HAM -10 Desember, oleh Much. Taufiqillah Al Muvti
1980. Pada akhir pekan –hari minggu. Menjelang hari natal. Aku dan keluarga, beserta tetangga, mendatangi gereja. Setiap kali akan menjangkah ke gereja, aku diberi pesan sama Ayah: rajinlah ke gereja agar kamu menjadi manusia. Bingung aku memikirkan maksud Ayah. Barangkali usiaku masih remaja, 15 tahun. Senang dan senang yang ada di benak.
Selepas berdoa dari gereja. Di rumah. Aku bertanya kepada Ayah, perihal: ke gereja bakal jadi manusia.
“Nak,” Ayah tersenyum, lalu mencium keningku, “Agama itu hadir untuk mendidik agar menjadi manusia utuh.”
“Aku malah tambah bingung Yah,” kataku, sambil menatap langit-langit: ada atap, lampu, dan kipas yang berderit. Dan keruwetan pikiranku.
“Bagaimana jelaskannya ya,” jidat Ayah berkerut, “Tunggu.” Ayah mengambil Al Kitab. Dan membolak-balik halaman.
“Ini nak,” Ayah menuding pada sebuah paragraf, dan pandanganku menyusul, “Jelaskan?” Seru Ayah.
“Hmm.” Aku mendeham, dan mengangguk dengan ragu.
“Tuhan mendidik manusia dengan ajaran agama. Dan melalui Al Masih,” kata Ayah, “Nah! Al Masih itu contoh manusia utuh Nak. Penyayang, penyabar, berjiwa berani, dan berlaku adil.”
Tetap saja, aku masih belum memahami perkataan Ayah. Tapi aku melihat Ayah begitu kelelahan. Jadi aku pura-pura paham saja.
“Maria,” kata Ayah, “Contoh orang seperti Al Masih, itu seperti pamanmu. Sadar tidak? Kalau setiap bertamu kemari selalu bawa buah tangan?”
“O iya iya,” Jawabku dengan kegirangan.
“Pernah paman kamu marah atau berkata kasar?”
“Tidak pernah, Yah,” kataku sambil mengingat kebiasaan paman, “Paman itu orang baik. Pasti bisa menghibur Maria. Kadang jengkelin, tapi kan maksudnya menyenangkan hati Maria.”
Sejak saat Ayah menjelaskan gereja, agama, Al Masih, dan paman. Bayanganku tentang Tuhan tidak seperti lelaki bertubuh dempal, perutnya buncit, berewokan, dan kalau lagi bertuah suaranya besar dan menggelegar. Melainkan, Tuhan dalam imajinasiku memiliki padanan seperti paman yang murah senyum, sumeh, penyanyang, dan penyabar. Dan selalu mau mendengarkan cerita: senang dan duka. Seperti Tuhan yang menjadi penampungan keluh kesah hamba Nya.
Hari senin yang menegangkan. Pelajaran matematika dengan semua angka, simbol, dan rumusnya yang seram siap menyambutku di sekolahku yang berwajah angker. Apalagi Bu Suhartini yang mengampu. Kekakuan angka dalam matematika, sepertinya, menemukan keserasian dengan Bu Suhartini yang kaku dan garang.
Tak apalah, aku menenangkan diri. Sebab, sepulang dari sekolah aku bersama teman-teman. Mengunjungi panti asuhan: membesuk Yanti. Teman sekelas yang mendera demam berdarah. Sudah dua pekan ini Yanti tidak masuk sekolah. Kasihan sekali Yanti, sudah sejak kecil sebatang kara tanpa orang tua. Saat-saat sakit seperti ini, ia tidak mendapat uluran perhatian dari orang tua, seperti Mamaku yang menyuapi aku kalau sedang sakit. Hatiku terpanggil, berbagi kasih sayang. Jadi tidak sabaran ingin bertemu, bercanda, dan berpelukan dengan Yanti. Lupakan dulu tentang sekolah, matematika, dan Bu Suhartini.
Hore! Pulang sekolah.
Sebelum mengarah ke panti asuhan. Aku menelpon Mama, meminta izin pulang agak terlambat. Mama berpesan agar tidak lama-lama berada di luar. Mama mengkhawatirkan, karena aku wanita. Lebih-lebih komentar Mama, kalau aku cantik. Padahal aku tidak peduli. Soalnya aku merasakan sendiri, setiap berjalan di tengah kerumunan laki-laki, selalu disiul-siul. Aku jadi risih dan kadang-kadang takut. Kata teman-teman, mereka laki-laki buaya.
Kami – aku dan teman-teman - bersepakat membelikan buah-buahan dan jajanan kesukaan Yanti.
“Biasanya Yanti suka apa ya?” Kata Julia.
“Kalau aku ke kantin, pasti buah apel yang pertama disentuh Yanti.” Tukas Niken. Ia temanku yang paling sering bersama Yanti. Keduanya sudah seperti soulmate. Yanti merasa lebih nyaman curhat pada Niken. Begitupun Niken kepada Yanti, sama saja.
“Oke.”
Di pasar Johar. Gedungnya separuh gosong, lantaran tempo hari terbakar. Kabarnya dari Pak Walikota, kebakaran diakibatkan saluran dan aliran listrik yang konslet, kata pedagang itu alasan yang klise dan membosankan. Namun para pedagang menolak direlokasi, mereka tetap bertahan di sudut-sudut pasar yang masih layak. Pedagang pasar kebanyakan beranggapan, kalau pindah-pindah tempat jualan nanti malaikat pemberi rejeki kabur. Pendek kata, mereka masih percaya takhayul. –kemisikinan telah membonsai pikiran jernih pedagang.
Di sanalah – pasar Johar, Semarang. Aku, Julia, dan Niken bertemu seorang Ibu-ibu pedagang buah yang galak dan kasar. Sebenarnya aku ingin beralih dan mencari penjual buah lain. Niken menahanku. Katanya tidak ada lagi selain pedagang ini. Lagi pula, berjam-jam kami mencari penjual buah. Hanya yang di hadapan muka kami, satu-satunya.
Tidak ada pilihan lain, selain meladeninya. Demi Yanti. Ingat kata Ayah, ingat Al Masih, dan ingat paman. Aku mesti menyayang, dan sabar.
“Kenapa harganya sekilo sampai limapuluh ribu?” Kata Niken sambil memegangi sebutir apel, “Apa bisa ditawar Bu?” Kata Niken setengah keras.
“Bisa ditawar Bu?” Tambahku dengan meramahi.
Julia hanya diam. Berdiri di belakang kami. Matanya berpendaran ke segala arah.
“Tidak bisa. Kalau tidak mau, yo wes.” Kata wanita, ibu-ibu, paruh baya dengan memalingkan muka.
“Memang kenapa Bu?” Kataku meramahi, sambil menahan Niken agar tidak bersikap terlalu keras.
“Bukankah yang lain boleh menawar. Kenapa kami tidak boleh Bu?” Kata Niken, yang memaksa angkat bicara.
“Karena kalian China. Kelihatan mata kalian sipit.”
Hati kami berat. Setelah berunding dengan Julia dan Niken, kami sepakat. Akhirnya kami terpaksa merogoh uang: duapuluhlima ribu rupiah. Niken tigabelas ribu. Julia duabelas ribu. Genap limapuluh ribu.
“Ini Bu.” Kata Niken sambil menyerahkan uang. Dan aku menjumput kresek yang di dalamnya ada tumpukan apel sekilo.
Sepanjang menyusuri lorong-lorong pasar. Kami bertiga, aku dan Niken di depan, dan Julia di belakang. Memaki-maki. Niken paling keras mencerca Ibu pedagang buah tadi. Sedang Julia hanya diam dan matanya terus berpendaran kemana-mana. Aku mengawasi, mungkin ada sesuatu yang kurang beres. Tapi kubiarkan. Pikirku semua berjalan baik-baik saja.
Saat keluar dari pasar, dan mencari tumpangan – angkot. Tiba-tiba. Tanpa sepengetahuanku, tangan Julia digeret oleh seorang laki-laki bertato. Kelihatannya: preman. Julia tidak bisa melawan apa-apa. Hanya menjerit histeris. Badannya didekap laki-laki itu. Pasrah. Aku dan Niken mencoba merebut kembali Julia. Sayang, Julia diputar ke balik badan laki-laki bertato itu. Sehingga kami terhadang. Badan laki-laki itu terlalu besar, jadi kami hanya bisa menepuk dan mencakar. Tak mampu bagiku menggulingkan badannya. Sial sekali berat badannya tak seringan bonekaku di kamar.
Pedagang, pembeli, dan warga sekitar yang menyaksikan adegan kekerasan itu hanya terperangah. Acuh. Pura-pura tidak tahu, dan tidak melihat. Tak menghiraukan sama sekali. Mungkin mereka beranggapan, nasib nahas patut bagi kami yang berketurunan Cina. Kalau perlu, dibinasakan.
Tak mampu memiliki daya dan tenaga. Niken memintaku agar menyerahkan apel ke Yanti sendirian.
“Kamu saja, Niken. Yanti lebih menunggumu.”
“Jangan!” Kata Niken keras, “Kamu tidak terlalu kuat buat berhadapan dengan preman begini.” Aku ingat, Niken pernah menjuarai silat tingkat kota. Dan aku percaya padanya.
“Baik-baik.”
Dengan berderai air mata dan kemarahan pada: pedagang apel dan preman. Secepat kilat aku meninggalkan Niken dan Julia dengan berat hati. Janji kepada Yanti, harus dipenuhi, apapun keadaannya. Aku menguatkan diri sendiri.
Sepekan setelah kejadian nahas itu. Tersiar kabar di sekolah, bahwa Julia telah diperkosa oleh preman, saat aku dan Julia ke pasar. Berat Julia menanggung kehormatan yang ternodai dan rasa kehinaan yang luar biasa. Ditambah batin Julia tergoncang, lantaran tidak bisa menerima kenyataan. Keperawanannya telah terampah begitu saja. Diputuskanlah: keluar dari sekolah. Aku dan Niken, dua orang pertama, yang merasa salah karena turut andil mengajak Julia.
Aku dan Niken berkunjung ke rumah Julia, ia menuturkan kepada kami. Kalau sepanjang perjalanan di pasar, tempo hari, ia merasa di mata-matai oleh seseorang. Julia tidak tahu persis gambaran orang itu sampai mendadak muncul dan mencengkeram tubuh Julia. Julia meminta maaf karena tidak mengasih tahu, tapi kami tahan. Sebab kami-lah yang harus memahami watak Julia yang pendiam. Dan kami tidak peka sama sekali.
Saat pulang sekolah. Aku menceritakan segala macam cerita yang kualami beberapa hari ini kepada Ayah. Dan semua cerita itu muaranya satu: kesedihan. Ayah mendengar ceritaku dengan tenang dan kadang mengangguk.
“Ayah,” Aku bersimpuh di kakinya, “Salahkah aku Yah? Nasib Julia gara-gara aku.”
“Bukan kamu Nak,” kata Ayah, “Memang begini nasib kita sebagai orang-orang minoritas.” Tangan Ayah mengangkat kepalaku. Aku memeluk Ayah, erat-erat.
“Apakah aku sudah seperti paman? Apakah aku sudah seperti Al Masih? Yang penyayang,” Kataku sambil menggoncangkan tubuh Ayah, “Ayah, jawablah.”
“Iya Nak.”
Umurku sudah menginjak 17 tahun. Kata muda-mudi namanya sweet seventeen, masa 17 tahun yang manis. Benarkah selama berumur 17 tahun akan selalu manis-manis saja hidupnya?
Ayah menyaraniku agar membuat KTP. Katanya umurku sudah 17 tahun, sudah waktunya. Tapi aku tidak ingin merepotkan Ayah dan Mama. Biar aku sendiri yang mengurus. Sebentar, aku teringat kalau Niken satu kelurahan denganku. Aku punya ide: mengajak Niken.
Di kantor kelurahan, kami disambut seorang petugas, laki-laki kurus berkaca-mata. Ia menyodorkan blanko KTP kepada kami, agar kami isi. Niken berbisik-bisik kepadaku: agamaku tidak tercantum di pilihan. Maka kusuruh membuat pilihan lagi, dan menuliskan agamanya. Setelah kami sodorkan kembali blanko KTP. Petugas itu mengoreksi, dan tak lama mendeham.
“Siapa yang Niken?”
“Saya Pak.”Jawab Niken.
“Ehem,” Petugas itu mendeham, “Agamamu apa?”
“Saya Konghucu Pak.”
“Tidak ada agama Konghucu.” Petugas mencoret tulisan Konghucu, “Gini, pilih Islam saja.”
Surabaya, 10 Desember 2016